Syaikhah Sulthonah, Sang Rabiatul Adawiyahnya Asal Yaman

0
467
Syaikhah Sulthonah, Sang Rabiatul Adawiyahnya Asal Yaman
Makam Syaikhah Sulthonah, Sang Rabiatul Adawiyahnya Asal Yaman

Ibadah.co.id – Kata wali, Selama ini sering diidentikan dengan kaum laki-laki, ini kurang tepat, nyatanya wali juga ada dari kalangan perempuan.

Wali (waliyullah) adalah pangkat untuk orang yang ma’rifat terhadap Allah dan sifat-sifat-Nya dengan istiqomah menjalankan ta’at, menjauhi segala larangan dan berpaling dari bujukan lezatnya dunia serta syahwatnya. Maka dari sini jika ada orang yang mengaku wali tapi perbuatanya masih menyimpang dari syariat Islam, maka dipertanyakan atas kewaliannya.

salah satu WaliyuAllah dari kalangan perempuan itu adalah Syaikhah Sulthonah Binti Ali Az-Zubaidiyah. Beliau berasal dari kabilah al-Kindiyah yang juga  bukan dari keturunan orang yang shaleh tapi memiliki semangat dan kemauan untuk menjadi wanita shalehah. Dia seorang wali agung perempuan asal Yaman, pekerjaanya selalu bershalawat kepada Rasulallah Saw., bahkan saking hebatnya tidak ada pekerjaan lain kecuali bershalawat kepada Nabi kecuali saat sedang shalat.

Konon, setiap ada orang sholeh yang datang dari Seiwun, Ghurfah, Syibam, dan Tarim, ke daerahnya ia menghadiri majelis ilmu tersebut dan mencatat manfaat faedah dari orang sholeh tersebut. Diantaranya, orang sholeh tersebut adalah al-Habib ‘Abdur Rahman as-Seggaf. Kemudian apa yang dicatat dari majelis itu ia amalkan dengan penuh kesabaran dan semangat yang tinggi. Sampai pada suatu hari beliau menikmati hasil dari apa-apa yang beliau amalkan dari orang sholeh tersebut.

Pernah pada suatu ketika beliau mendapat suara ghaib, yang meminta beliau minta apa saja, pasti diqabulkan. Namun beliau sebagai seorang ahli tashawuf yang memiliki mursyid, jadi beliau tidak langsung mengucapkan permintaannya. Beliau menemui guru beliau dari keluarga Baqushair, dan menanyakan kepada Gurunya “Apakah ada di dunia ini maqom (posisi atau tempat) kewalian yang tidak ada lagi maqom sesudahnya?”

“Ada, yakni bertemu secara jaga (sadar) dengan Rasulullah Saw.”. Jawab gurunya.

Kemudian Syeikhah Sulthonah meminta agar dipertemukan secara jaga dengan Sayyidina Rasulullah Saw. Seketika itu juga Rasulullah ada di hadapan beliau. Masyaallaah..

Rabiatul Adawiyahnya Hadhramaut, adalah julukan para habaib dan orang-orang shaleh terhadap Syeikhah Sulthonah, termsuk al Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsyi. Memang gelar tersebut sangat sesuai dengan hal dan maqomnya Syeikhah Sulthonah, karena beliau mulai kecil sudah menyelusuri jalan tasawuf. Dari segi itulah beliau mengungguli Robiatul Adawiyah yang disebutkan dalam buku-buku sejarah Islam, seperti disebutkan oleh Sayid Muhammad bin Ahmad As-Syatiri dalam kitabnya Al-Adwar, “Dia (Syeikhah Sulthonah) mempunyai kelebihan tersendiri karena dari kecil sudah mulai meniti tangga dan maqom-maqom tasawuf”.

Syeikhah Sulthonah meninngal tahun 812 H. Beliau ternyata tumbuh besar di keluarga Baduwi yang kesehariannya akrab dengan menggembala hewan, dengan kepribadian yang kuat serta sifat-sifat lainnya yang terdapat pada diri penduduk Baduwi.

Walau demikian Sulthonah tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya, dia tenang dan lebih senang menyendiri dari keramaian teman-teman sebayanya yang bersifat kekanak-kanakan, sehingga ketika usianya berangsur dewasa dia mulai tidak menyukai tradisi kehidupan baduwi yang diwarnai dengan kekerasan dan kedzaliman, selain itu ia juga mulai menyelusuri jalan fitrahnya yang menuntunya kepada iman dan membawanya kepada ketenangan jiwa.

Ibroh dari sosok Syaikhah Sulthonah

Inilah Ibroh (pelajaran) yang dapat kita petik dari sosok waliyullah Syaikhah Sulthonah:

Pertama, semua orang memiliki kesempatan unutk dekat dengan Allah serta menjadi orang sholeh. Syarat untuk menjadi orang sholeh tidak harus anak orang soleh, siapapun kita jika ada kemauan kuat akan bisa menjadi orang sholeh. Buktinya kita lihat dulu para Kyai di Tanah Jawa ini mereka orang asli pribumi yang kakek mereka dulu bukan Islam tapi ketika mereka punya semangat yang kuat mengikuti orang sholeh dan beribadah merekapun menjadi orang sholeh.

Kedua, pentingnya mencatat apa yang kita dengar dari nasehat-nasehat orang sholeh. Di katakan oleh orang bijak, “Tulislah sebaik-baik dari apa yang kamu dengar dan amalkan sebaik-baik dari apa yang kamu tulis.

Ketiga, perlunya memiliki seorang guru karena guru lah yang akan meluruskan jalan kita. Keempat, tidak ada kenikmatan di dunia ini melebihi berjumpa dengan Nabi Saw.Kelima, tidaklah seseorang menjadi wali, kekasih Allah kecuali setelah tumbuh di hatinya kecintaan pada ahlulbait. Keenam, dan, dengan kuatnya iman dan ketakwaan wanita bisa mengungguli laki laki.

(ed.RB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here