Wisata Yordania (1), Misteri ‘Pohon Nabi’ Berusia 1.400 Tahun

0
240
Misteri 'Pohon Nabi' Berusia 1.400 Tahun
Misteri 'Pohon Nabi' Berusia 1.400 Tahun

Ibadah.co.id – Salah satu objek wisata unik dan fenomenal di Yordania (biladussyam) adalah Pohon Nabi. Pohon yang berusia ribuan tahun ini masuk dalam katagori Pistachio, bahasa Latinnya Pistacia Vera. 

Pohon dengan tinggi 11 meter dan luas rimbun 12×20 meter ini keberadaannya masih terus menjadi misteri. Menurut akal, rasa-rasanya sulit dipercaya ada sebuah pohon tumbuh subur di kawasan tandus dan bebatuan. Tapi inilah bukti kekuasaan Allah sebagaimana yang dijanjikan-Nya dalam al-Quran Surat Al-Isra ayat 1, bahwa sekitar daerah Masjid al-Aqsa, Palestina, diberikan keberkahan khusus. Termasuk wilayah Yordania di mana pohon ini tumbuh.

Secara geografis, ia dekat dengan kota Bosra di Syiria. Posisinya di daerah al-Baqiawiyah Provinsi Zarqa. Bisa ditempuh kurang lebih 2,5 jam perjalanan dari Ibukota Amman.

Tahukah Anda, kenapa disebut Pohon Nabi…? Menurut penuturan beberapa ahli sejarah, pohon ini merupakan salah satu tumbuhan yang bertahan hidup sejak masa Rasulullah. Hingga kini tetap menunjukkan kerindangannya. Sebab itu, pohon ini dekenal sebagai Pohon Nabi atau “The Only Living Sahabi”, Sahabat Nabi yang masih hidup hingga saat ini. Masyarakat Yordania lebih suka menyebutnya dengan “Syajaratunnabi” (Pohon Nabi).

Ahli Sejarah Islam, Ibnu Hisyam dalam kitabnya yang bernama Al-Sirah al-Nabawiyah menceritakan kisah pertemuan Buhaira dengan anak kecil calon Rasul terakhir, karena pohon yang ‘kesepian’ ini dipercaya sebagai saksi pertemuan biarawan Kristen bernama Buhaira dengan Nabi Muhammad.

Dalam catatan sejarah dikatakan, ketika Nabi Muhammad berusia 12 tahun ikut berdagang dengan pamanya Abu Thalib ke negeri Syam, kini Suriah, dalam perjalanan Nabi berteduh di bawah pohon itu dari teriknya Matahari.

Sebelumnya, seorang pendeta bernama Buhaira mendapat firasat suatu hari nanti akan bertemu dengan sang nabi akhir zaman. Selang beberapa waktu, tiba-tiba ia melihat kafilah (rombongan) pedagang Arab dan melihat seorang remaja bersama mereka. Dalam penglihatannya, remaja tersebut memiliki ciri-ciri kenabian sebagaimana digambarkan dalam kitab Injil.

Dengan rasa penasaran membuncah, Buhairah mengundang rombongan itu dalam sebuah perjamuan. Singkatnya, semua anggota rombongan ikut hadir terkecuali remaja yang sebenarnya menjadi tujuan utamanya. Dicarilah ke pelbagai sudut, tak juga mata melihatnya. Ternyata remaja itu sedang duduk santai menunggu di bawah pohon sambil menjaga unta-unta.

Buhaira keluar untuk menemuinya, tak sampai mendekat, ia terperanagah, takjub menyaksikan cabang-cabang pohon itu merunduk dan melindungi sang anak dari panasnya terik matahari. Bahira pun meminta agar remaja berparas semampai nan teduh itu diajak menikmati jamuan makan bersama rombongan.

Pada saat itu juga Buhaira langsung menelisik sang anak dan menyimpulkan bahwa anak tersebut adalah Rasul terakhir yang dituliskan sesuai dalam al-Kitab. Kemudian Buhaira langsung memberi tahu kepada Abu Thalib (paman nabi) bahwa anak yang turut serta pada rombongannya itu kelak akan menjadi Nabi. Buhaira pun menyarankan kepada Abu Thalib agar menjaga anak itu dengan sebaik-baiknya.

Selang beberapa lama, pohon itu ditemukan secara tak disengaja setelah Pangeran Ghazi bin Muhammad yang baru kembali belajar di Universitas Cambridge setelah ditugaskan oleh sang paman, Raja Hussein pada waktu itu, untuk bekerja di perpustakaan Kerajaan.

Menurut situs Last Prophet, Pengeran Ghazi menemukan manuskrip tentang pohon tersebut ketika memeriksa arsip negara, dan jika di runtut dari naskah-naskah tua tersebut kemungkinan besar tempat terjadinya pertemuan Buhaira dan Muhammad adalah di gurun Yordania.

Hingga saat ini, Pohon Nabi tersebut dilestarikan bahkan disekelilingnya dipagari dan dipantau secara rutin oleh pemerintah Yordania. Karena tidak sedikit pelancong yang berkunjung kesana khususnya dari negara Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Bagi pelancong yang ingin berkunjung melihat-lihat pohon ini disarankan di luar musim dingin, yaitu di bulan Februari – Mei, karna di bulan itu daun pohon ini sedang berguguran. Berkunjunglah di musim panas agar daunya tumbuh rindang dan lebat.

Dalam tradisi keilmiahan terkait berapa umur pohon ini sesungguhnya, belum bisa diketahui dengan pasti. Belum ada penelitian yang falid. Namun berdasrkan keyakinan yang beredar, pohon ini usianya sudah lebih dari 1.400 tahun. Maka pantaslah bila disebut sebagai pohon Sahabi atau “The Only Living Sahabi”.

(Ridwan Bahrudin, alumni Universitas Islam Al-al Bayt, Yordania)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here