PrihatinTerhadap Pemahaman Keagamaan Generasi Milenial, Convey Indonesia Gelar Festival #MeyakiniMenghargai

0
86
PrihatinTerhadap Pemahaman Keagamaan Generasi Milenial, Convey Indonesia Gelar Festival #MeyakiniMenghargai
Team Leader of CONVEY Project, PPIM UIN Jakarta, Prof. Jamhari, bersama Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin pada peluncuran tagar #MeyakiniMenghargai

Ibadah.co.id –Kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai merupakan salah satu faktor pendukung berlangsungnya proses pembangunan yang berjalan dengan baik. Sayangnya, perdamaian yang berlangsung di Indonesia selama ini bukannya tidak menghadapi tantangan. Ancaman ekstremisme kekerasan telah terindentifikasi dan berpotensi mengancam kehidupan masyarakat.

Tindakan intoleransi dan ekstremisme kekerasan yang dilakukan kelompok muda yang didasari isu suku, agama, ras maupun antar-golongan masih menjadi tugas besar yang harus dituntaskan bersama. Dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir, opini mengenai intoleransi dan keterlibatan anak muda dalam aksi ekstremisme kekerasan bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

Survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta pada 2017 terhadap kalangan mahasiswa dan pelajar menunjukkan generasi muda memiliki opini radikal sebesar 58%, opini intoleransi internal sebesar 51,1%, dan opini intoleransi eksternal sebesar 34,4%.

Sebagai upaya mendorong terbangunnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menerapkan nilai-nilai #MeyakiniMenghargai serta keterlibatan publik dalam upaya pencegahan ektremisme kekerasan di Indonesia, CONVEY Indonesia kembali menyelenggarakan Festival #MeyakiniMenghargai hari ini di Jakarta, setelah sebelumnya bertadang ke Yogyakarta, Makassar dan Padang.

Tagar #MeyakiniMenghargai dimaksudkan untuk mengingatkan kembali dan mengajak masyarakat untuk meyakini keimanannya masing-masing dan menghargai keberagaman. Menteri Agama turut bersinergi bersama dalam memandu peluncuran tagar ini dengan mengunggah tweet dan post di akun Twitter dan Instagram mereka masing-masing, bersama seluruh peserta milenial di festival.

PrihatinTerhadap Pemahaman Keagamaan Generasi Milenial, Convey Indonesia Gelar Festival #MeyakiniMenghargai
Ayu Kartika Dewi (pendiri gerakan SabangMerauke), Nafiqotul Millah (Finalis Milenial Islami), Chrystian Dwi Putra Yunus (Duta IMMOVE – Indonesia Millennial Movement), dan Oktora Irahadi (Youtube Creator for Change dari Cameo Project) berdiskusi pada talkshow bertajuk “Tren Milenial dalam Menyikapi Ekstremisme Kekerasan di Media Sosial”

Agama dan generasi muda tak ayal menjadi dua pokok diskusi besar dalam diskursus menjaga perdamaian dan mencegah ekstremisme kekerasan dalam kehidupan sehari-hari, berbangsa dan bernegara. Eksklusivisme dan esktremisme dalam beragama menjadikan seseorang sulit menghargai perbedaan dan keragaman. Ditambah pola infiltrasi paham ekstrem yang menyebar melalui beragam cara dan medium, termasuk utamanya media sosia, dunia kedua yang ditinggali oleh generasi muda milenial.

Pada ruang maya ini, generasi muda tak hanya menjadi sasaran infiltrasi paham ekstremisme kekerasan namun juga menjadi pelaku atau secara tak sadar berkontribusi terhadap penyebaran ekstremisme kekerasan. Melalui posting dan komentar yang kurang bijak, meski terkesan sepele sekalipun, hal tersebut mampu menimbulkan potensi perselisihan yang pada gilirannya mengancam perdamaian dan keharmonisan.

General Manager Global Peace Fondation (GPF) Indonesia, Shintya Rahmi Utami, menegaskan bahwa Festival #MeyakiniMenghargai ini mampu menjadi ajang bagi kelompok muda untuk terlibat aktif dalam membangun perdamaian serta mencegah bahaya ekstremisme kekerasan.

Lebih jauh, Shintya Rahmi Utami mengungkapkan, sebgaiamana rilis yang diterima ibadah.co.id (21/02),  “Bangsa Indonesia terbangun atas berbagai macam suku, agama dan latar belakang lainnya, karenanya tidak ada pilihan lain selain saling bekerja sama untuk merawat perdamaian di negeri ini. Melalui Festival #MeyakiniMenghargai ini kami berharap generasi milenial akan semakin aktif berpartisipasi menanamkan benih perdamaian, serta turun langsung ke masyarakat dalam mengampanyekan pesan damai.”

Kelompok milenial merupakan salah satu aktor kunci dalam berbagai upaya pembangunan perdamaian di Indonesia. Khaira Dhania yang telah mengikuti program pemberdayaan ekonomi kreatif bersama IMCC dan CONVEY serta berpartisipasi dalam kongres pemuda IMMOVE memiliki kesan tersendiri dalam pengalamannya menanamkan nilai perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.

Forum Indonesia Millennial Movement yang diselenggarakan Maarif Institute bersama CONVEY, di mana Dhania turut berpartisipasi, telah mempertemukannya dengan anak muda bangsa dari beragam suku, agama, ras untuk merumuskan bersama upaya perdamaian dalam rangka pencegahan terhadap ekstremisme kekerasan serta rencana aksi konkret yang mampu mencerminkan keyakinan dan penghargaan atas keragaman yang ada di Indonesia.

“Pada forum Indonesia Millennial Movement (IMMOVE), saya tidak hanya mendapatkan teman baru, tapi “keluarga” yang baru. Tidak ada yang sama, semua datang dari agama, suku serta latar belakang budaya yang berbeda, namun saya merasakan toleransi yang amat kuat di antara mereka. Saya belajar atas banyak hal, terutama untuk dapat menghargai dan menghormati perbedaan yang ada”, ungkap Dhania menjelaskan pengalamannya.

Sempat sebelumnya terpapar pada paham ekstremisme, Dhania telah memilih untuk beralih berpartisipasi aktif dalam banyak kegiatan positif yang mengajak pada perdamaian dan keharmonisan serta optimisme dalam berkontribusi membangung Indonesia yang damai.

“Keragaman merupakan sebuah takdir, karenanya seluruh elemen bangsa perlu berperan aktif dalam menjaga keragaman sembari tetap menghargai perbedaan tatkala meyakini kepercayaannya masing-masing. Melalui dua fase yang dijalaninya, CONVEY merupakan inisiatif kolaborasi bersama banyak lembaga dan komunitas di berbagai wilayah Indonesia untuk membangun kesadaran dan mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga perdamaian serta merawat harmoni di seluruh negeri”, ujar Team Leader CONVEY Indonesia, Prof. Jamhari.

“Festival #MeyakiniMenghargai merupakan upaya kecil CONVEY untuk mendorong masyarakat agar menyadari bahwa segala bentuk kekerasan terhadap mereka yang dianggap berbeda adalah tidak dapat dibenarkan. Dari edukasi dan pengembangan kapasitas yang dilaksanakan, diharapkan mampu terbangun para Agen Perdamaian, terutama dari kelompok muda, yang memiliki daya juang tinggi dalam mendorong perdamaian serta mencegah bahaya ekstremisme kekerasan”, ungkap Prof. Jamhari menjelaskan lebih dalam.

Festival #MeyakiniMenghargai juga dirancang untuk menjadi ajang diseminasi program kerja CONVEY dalam mencegah ekstremisme kekerasan melalui pendekatan potensi Pendidikan Agama yang telah dijalankan melalui kolaborasi antara PPIM UIN Jakarta dengan UNDP Indonesia bersama lebih dari 20 lembaga mitra dan sejumlah komunitas yang tersebar di seluruh Indonesia.

Lebih jauh lagi, festival ini juga menjadi ruang ekspresi bagi berbagai komunitas lokal yang aktif bekerja dalam isu perdamaian dan perubahan sosial yang mendorong kelompok muda untuk berpartisipasi aktif menjaga perdamaian dan mencegah esktremisme kekerasan di lingkungan sekitar mereka tinggal.

Berbagai aktivitas kreatif dan edukatif juga dilaksanakan untuk memeriahkan Festival #MeyakiniMenghargai di Jakarta, seperti talk show dengan sejumlah panel pembicara yang berpengalaman, penampilan medley tarian nusantara, pameran komunitas dan lembaga mitra CONVEY yang bergerak di isu pengembangan perdamaian dan pencegahan ekstremisme kekerasan, kuis interaktif, penampilan musik, games zones tradisional dan Boardgame for Peace bersama Peace Generation, serta sejumlah aktivitas lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here