KH. Anwar Sudibjo, Sosok Ulama NU yang Jasadnya Utuh Setelah 31 Tahun Dikubur

0
162
KH. Anwar Sudibjo, Sosok Ulama NU yang Jasadnya Utuh Setelah 31 Tahun Dikubur
KH. Mochd Anwar Sudibjo

Ibadah.co.id –Beberapa hari ini dunia maya (media social) dihebohkan dengan kabar yang sebenarnya sangat ‘spiritual’ sekaligus empirik. Ada sosok kiai Nahdlatul Ulama di Jawa yang dikebumikan sudah puluhan tahun lamanya, tapi jasadnya tetap utuh. Bahkan kain kafannya juga dalam kondisi baik, tidak sobek dimakan (makhluk) tanah.

Kabar itu ditengarai datang dari sebuah unggahan Santri Ndalem. Dalam chatnya, Santri Ndalem menuliskan kesaksiannya saat melihat proses pemindahan jasad KH. Anwar Sudibjo, sesepuh dan tokoh ulama NU Tambakan, Kecamatan Gandusari, Blitar itu pada 14 Maret lalu. Berikut teksnya:

“Pemindahan makam Kyai Anwar S. Sesepuh. Tokoh ulama NU Tambakan Gandusari. Dari pemakaman umum dipindah ke pemakaman keluarga. Lokasinya di masjid Tambakan Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar.

Subhanalloh…Meskipun wafat 1988, dibongkar Kamis (14/3/2019), kondisi jasad 90% masih utuh. Genap 31 tahun dikebumikan. Kuasa Illahi didepan mata warga. Nyata. Mulai jari kaki sampai kepala masih wujud gandeng, sedikitpun tidak lepas. Kain kafan utuh sedikitpun tidak sobek. Beliau dulu istiqomah sebagai Kyai di ormas NU ini alumnus ponpes Apis Gondang Kecamatan Gandusari.

Mari istiqomahkan tahlilan, kirim pahala sedekah hidayah Fatihah agat kita senantiasa terbiasa bantu membantu menabung pahala amal ibadah.Semoga jenazah beliau dan juga kita semua ditaqdirkan Husnul Khotimah Aamiin,” tulis Santri Ndalem.

Kebenaran postingan itu diungkapkan oleh pihak keluarga juga ulama-ulama setempat. Pondok Pesantren Apis Gondang, Gandusari, sebagai tempat sang kiai mondok membenarkan kabar itu.

“Iya benar saya dapat kabar dari keluarganya tentang pemindahan makam Mbah Kiai Anwar. Walaupun saya tidak menyaksikan langsung dari dekat, tapi saya sangat yakin berita itu benar,” ujar Pengasuh Ponpes Apis Gondang, Moch Subhan Anshori sebagaimana dilansir detik.com, (19/3).

Kiai Anwar tak lain adalah santri pertama di Ponpes Asrama Perguruan Islam Salawiyah (APIS) Gondang, Gandusari yang didirikan oleh KH. Shodiq Damanhuri sekitar tahun 1923 M.

Dari pihak keluarga, kesaksian itu diungkapkan oleh putra kelima dari ulama yang pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Cabang Blitar, 1982-1987 itu, Moch Munib.

“Iya memang benar Kamis itu makam bapak saya dipindah. Dan saya melihat sendiri, jasadnya masih utuh. Utuh,” ujarnya sebagaimana pemindahan makam itu atas inisiatif Banser yang ingin makam ulamanya tidak berhimpitan dengan makam masyarakat umum.

KH. Anwar Sudibjo, Sosok Ulama NU yang Jasadnya Utuh Setelah 31 Tahun Dikubur
KH. Anwar Sudibjo, Sosok Ulama NU yang Jasadnya Utuh Setelah 31 Tahun Dikubur

Kenapa Jasadnya Utuh…?

Menurut penuturan Moch Munib, ulama yang mempunyai nama lengkap KH. Mochd Anwar Sudibjo itu semasa hidup tidak pernah lepas dari zikir.

“Ya mungkin karena abah itu tak pernah lepas zikir ya, jadi jasadnya masih utuh seperti itu,” terangnya.

Kiai Anwar dulunya Ketua Tarekat Muttabar Amadiyah dan sesepuh Tarekat Kodiriyah wa Naqsyabandiah. Tarekat ini menganjurkan kepada pengikutnya untuk tak pernah ketinggalan dari dzikir, terutama selepas shalat fardhu.

Abah, biasa kiai Anwar dipanggil, menurut sepengetahuan Moch Munib tak mempunyai atau mengamalkan amalan-amalan khusus. Biasa saja seperti ulama pada umumnya.

“Abah itu setahu saya gak pernah ibadah yang khusus begitu ya. Beliau hanya sering memimpin zikir di jemaah tarekatnya. Beliau dalam setiap aktivitas juga selalu berzikir. Itu juga yang diajarkan pada kami anak-anaknya,” imbuhnya.

Diceritakan bahwa pendiri dan pengasuh Pesantren Tambakan itu meninggal pada 1988, saat menjadi imam jemaah shalat subuh di Masjid Baitul Rauf. Masjid yang merupakan bagian dari ponpes.

Karomah Sang Kiai

Setiap ulama atau wali dipercaya pasti mempunyai karomah tersendiri. Baik muncul saat ia hidup maupun setelah meninggalnya. Secara sederhana, karomah itu suatu kemampuan luar biasa (kadang tak sejalan dengan akal) yang dimiliki oleh sang ulama atau wali. Kekuatan itu langsung  diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang dipilih-Nya.

Menurut pelbagai cerita, Kiai Anwar dipercaya mendapat karamah weruh sak durunge winarah (Tahu sebelum kejadian terjadi). Pernyataan itu diakui oleh Moch Munib yang kini menempati rumah induk di Ponpes Tambakan. Ia mengaku pernah mendengar penuturan sang nenek tentang Kiai Anwar yang memprediksi dirinya bakal menjadi pemimpin ponpes.

Abahmu ki nate dawuh lek awakmu sing tembe mburi dadi imam nang kene (Abahmu pernah bilang, jika kamulah yang akan menjadi imam di sini). Bagi saya itu tidak masuk akal karena saya dinas di SDN Paserpan Pasuruan,” kata Munib.

Padahal menurutnya, waktu itu ada adik lelakinya yang tinggal di rumah. Tak  di sangka, dulu yang diucapkan sang ayah menjadi kenyataan. Pada 2010, Munib dipindahtugaskan ke Kabupaten Blitar. Sedangkan sang adik lelakinya justru diterima sebagai PNS di Lamongan.

“Jadi benar, saya akhirnya yang jadi imam di masjid warisan abah saya ini,” tambahnya.

Karomah lain adalah ketika santri di Ponpes Tambakan kehilangan barang, Kiai Anwar mengumpulkan semua santrinya di masjid. Di hadapan semua santrinya, sang kiai meminta diambilkan kendi, tempat air minumnya sehari-hari. Dengan bacaan tertentu, iba-tiba kendi itu bisa berputar sendiri dan moncongnya berhenti tepat di hadapan si pencuri. Akhirnya sang pencuri (santri) itu menangis dan mengakui perbuatannya.

Itulah beberapa ketinggian seorang ulama yang ditunjukkan kepada kita semua, baik langsung maupun tidak. Bahwa kita selaku ciptaan Allah hendaknya selalu ingat dan mengikuti ajaran yang dibawakan oleh utusan-Nya Nabi Muhammad Saw. (ed. AS/ibadah.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here