Wisata Yordania 4: Mengenal Gua Ashabul Kahfi

0
204
Wisata Yordania 4: Mengenal Gua Ashabul Kahfi
Wisata Yordania 4: Mengenal Gua Ashabul Kahfi

Ibadah.co.id –Wisata keempat di Yordania yang saya tulis adalah Gua Ashabul Kahfi. Kisah Ashabul Kahfi ini diabadikan dalam Quran surat al Kahfi mulai ayat 9 sampai 26.

Letaknya tidak jauh dari Bandara International Queen Alia, Amman, tepatnya di daerah Abu Alanda (Buloqa). Sejarahnya, gua ini bermula ketika ada tujuh orang pemuda yang berhadapan dengan Raja Diqyanus (Raja yang berkuasa kisaran tahun 112 M), seorang raja yang zalim juga seorang penyembah berhala.

Ketujuh pemuda tersebut mengakui hanya beriman kepada Allah yang menguasai langit dan bumi. Sang raja pun tahu, akhirnya ketujuh pemuda itu dipaksa untuk tunduk kepada raja saja. Jika tetap melawan, mereka akan dimurtadkan secara paksa atau dihukum mati.

Kemudian, ketujuh pemuda tersebut melarikan diri dari raja yang zalim bersama seekor anjing. Mereka memasuki sebuah gua yang letaknya di Al Rajib atau Abu Alanda, bahasa Qurannya Al Raqim, sekitar 10 km sebelah Timur Amman. Mereka bersembunyi di situ.

Di sini kuasa Allah mulai bekerja terhadap hamba-hamba-Nya yang taat. Allah mentakdirkan mereka tidur dalam waktu yang sangat lama, yaitu 309 tahun Hijriah atau 300 tahun Masehi.

Ketika terbangun karena lapar, mereka belum menyadari bahwa mereka telah tertidur selama ratusan tahun. Para pemuda ini masih menyangka jika mereka hanya tertidur satu malam lamanya. Sebab fisik dan tampilan mereka tidak berubah atau pun menua sama sekali, Subhanallah.

Kemudian, hal ini akhirnya disadari oleh salah satu dari mereka ketika keluar dari gua untuk membeli makanan dan mendapati zaman tersebut telah berubah dari zaman saat sebelum mereka memasuki gua. Bahkan uang yang digunakan untuk membayar makanan sudah tidak berlaku lagi pada zaman itu (zaman mereka dibangkitkan).

Lalu, pemuda tersebut kembali ke gua. Sesampainya di gua, mereka bersujud dan berdoa meminta agar Allah menurunkan kuasa-Nya dan mengizinkan mereka kembali kepada Sang Pencipta.

Singkat cerita, tubuh mereka dikubur di dalam gua, dimana terdapat tujuh buah makam dari batu. Tapi kini semua tulang yang tersisa ditempatkan di salah satu makam batu, dimana satu bagiannya diberi kaca tembus pandang, untuk bisa melihat ke dalamnya.

Beberapa sumber mengatakan bahwa ada banyak lokasi di dunia yang diklaim menjadi lokasi sesungguhnya dari Gua Ashabul Kahfi.

Ada yang bilang bahwa peristiwa ini terjadi di Suriah, ada juga yang bilang di Efesus Turki. Tapi berdasarkan pendapat beberapa ahli, lokasi yang paling sesuai dengan yang tertulis di Al Quran adalah yang berada di Yordania ini.

Hal ini bisa terlihat dari detail gua seperti yang dijelaskan dalam ayat-ayat surat Al Kahfi yaitu masih dapat kita lihat reruntuhan seperti bekas tempat peribadatan dari tepat di atas gua. Tempat ibadah yang dimaksudkan adalah rumah ibadah penganut Nasrani. Ketika zaman kerajaan Umaiyah, rumah ibadah tersebut telah dijadikan masjid.

Di dalam gua ini saya mendapati dua tempat yang berbentuk seperti makam atau kuburan yang diletakkan mayat di dalamnya. Sedangkan, di sisi pojok sebelah kirinya ditutupi kaca cukup riben namun masih dapat dilihat bagian dalamnya dengan menggunakan bantuan cahaya senter.

Ternyata, di dalamnya terdapat tulang belulang manusia. Menurut petugas sekaligus penjaga gua, tulang tersebut merupakan kumpulan tulang dari ketujuh pemuda yang tertidur selama 300 tahun lamanya. Apakah benar itu tulang mereka? Hanya Tuhan yang tahu kebenarannya.

Sedangkan, disudut lainnya saya melihat serupa makam dengan pahatan bintang bersegi delapan, yang menurut penjaga membuktikan tanda zaman kerajaan Romawi Timur pada zaman ketiga Masehi.

Adat pada waktu itu, mayat-mayat akan dikuburkan di dalam bekas batu. Ini tidak mustahil bahawa mereka yang telah menguruskan mayat pemuda tersebut telah menguburkan mereka dengan cara dan adat mereka pada waktu itu.

Tepat berada di sisi sebelah kiri pintu masuk gua, terdapat sudut memajang koleksi benda sangat antik yang terbuat dari tembikar, uang tembaga dan perak, lampu dari berbagai zaman (Umaiyah, Abasiah, Turki Utsmaniyyah). Ini sekaligus menandakan bahwa tempat itu telah melewati berbagai zaman.

Secara keseluruhan bentuk gua yang di sekitarnya terdapat bekas reruntuhan ini sebenarnya tidak terlalu besar dan dalam. Namun cukup tinggi di bagian dalam gua, sedangkan pintunya setinggi orang dewasa. Demikian juga di bagian atas gua terdapat sebuah lubang agar dapat dimasuki udara dan cahaya yang sesuai tertulis dalam surat Al Kahfi.

(Ridwan Bahrudin, Alumni Universitas Islam Al al-Bayt, Yordania)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here