Ummu Hani, Penolak Dua Kali Cinta Rasulullah Saw.

0
566
Ummu Hani, Penolak Dua Kali Cinta Rasulullah Saw.
Ummu Hani, Penolak Dua Kali Cinta Rasulullah Saw.

Ibadah.co.id –Selama ini, perempuan-perempuan seperti Khadijah, Aisyah, atau Hafsah, mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Perempuan-perempuan itu semua adalah para ummul mukminin (ibunya para mukmin sejati), para isteri-isteri Rasulullah Saw. Tetapi sudah kah mendengar nama Ummu Hani binti Abi Thalib?

Namanya adalah Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Ibunya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf. Ada juga yang meriwayatkan nama Ummu Hani adalah Hindun. Tapi yang populer dan banyak periwayatannya adalah Fakhitah.

Ummu Hani  adalah sepupu Nabi Muhamad Saw. layaknya Ali bin Abi Thalib. Lalu apa istimewanya perempuan ini? Dalam kitab an Nisa Haula ar Rasul yang ditulis oleh Muhamad Ibrahim Salim, menceritakan mengenai sosok perempuan satu ini. Ummu Hani adalah wanita yang pernah menolak lamaran nabi.

Kisahnya, sebelum diangkat menjadi nabi, bahkan sebelum nabi bersama Khadijah, nabi sempat menyampaikan lamarannya kepada sepupunya tersebut. Rasulullah membicarakan perihal lamarannya ini kepada pamannya, Abu Thalib. Namun pinangannya ditolak.

Dalam tradisi bangsa Arab, tedapat suatu tradisi membalas lamaran dari suku atau bani lain yang sebelumnya telah melamar salah satu dari anggota keluarganya. Sebelum melamar Ummu Hani, keluarga Bani Makhzum pernah menikahkan salah seorang anak perempuannya dengan laki-laki dari kabilah Abi Thalib. Oleh karena itu, Fakhitah (nama asli Ummu Hani) akan dinikahkan dengan Hubaira bin Wahab. Cinta nabi tertolak.

Setelah tertolaknya lamaran Rosulullah, Allah mengganti cinta Rosul yang bertepuk sebelah tangan, dengan wanita janda yang kaya raya, yakni Khodijah.  Seperti yang sudah diketahui, Khodijah adalah wanita pertama yang masuk Islam, seluruh hartanya didedikasikan untuk perjuangan Islam.

Ketika peristiwa Fathul Makkah (pembebasan kota Makkah, Ummu Hani memutuskan menjadi muslimah. Namun suaminya, Hubaira tetap kafir. Maka hukum pernikahannya rusak dan bercerailah kedua pasangan tersebut. Ummu Hani menjadi janda dengan 4 orang anak.

Melihat Ummu Hani yang sudah menjadi muslimah, Nabi Muhamad Saw. Mencoba datang kembali dan menyampaikan lamaran keduanya. Maksud kedatangan kedua, Nabi merasa iba dengan Ummu Hani serta agar anak-anaknya tidak terlantar.

Ummu Hani berkata, “Wahai Rasulullah, saya mencintaimu melebihi mata dan telingaku. Akan tetapi, bukankah hak seorang suami itu besar? Saya khawatir jika saya menerima engkau sebagai suami, perhatian saya terhadap diri saya dan anak-anak akan terabaikan. Namun apabila saya lebih mementingkan anak-anak saya, saya khawatir tidak bisa memenuhi hak-hak Baginda Rasul sebagai suami.“

Mendengar jawaban Ummu Hani, Rasulullah tidak kecewa apalagi marah. Bahkan beliau bersabda, “Sebaik-baik wanita yang menunggangi unta adalah wanita Quraisy. Karena dialah orang yang paling sayang kepada anak-anaknya dan pada saat yang sama dia juga yang paling perhatian kepada suaminya.“ (HR Bukhari, Muslim dan Imam Ahmad).

Makna dari “yang paling sayang terhadap anak-anaknya” adalah seorang ibu yang menyayangi anak-anak dan merawat mereka, mendidik, dan tidak lagi menikah sepeninggal suaminya. Sementara makna “Dan yang paling bisa menjaga harta suaminya” adalah seorang istri yang mampu menjaga, mengatur, dan menjaga amanat suami.

Nama anak pertama dari Fakhitah adalah Hani, sehingga terkenal dengan sebutan Ummu Hani (ibu dari Hani). Ummu Hani juga menolak cinta Rasulullah untuk yang kedua kalinya karena ia lebih memilih anak-anaknya dari pada menelantarkan calon suaminya.

(Ed.RB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here