Sejarah Singkat Masjid Kubah Emas

0
268
Sejarah singkat Masjid Kubah Emas
Sejarah singkat Masjid Kubah Emas

Ibadah.co.id – Kota Depok mendadak terkenal setelah Masjid Kubah Emas berdiri dengan mentereng. Seakan mimpi ada masjid semegah itu ada di Indonesia, bahkan ada di pinggiran Depok pula.

Masjid ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai sekitar akhir tahun 2006. Masjid ini juga dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha yang kedua kalinya pada tahun itu.

Dengan luas kawasan 50 hektare, bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi.

Rencana pembangunan Masjid Kubah Emas muncul di tahun 1997. Konsepnya selain masjid juga ada rumah bagi Dian, gedung serba guna, dapur umum, cluster vila, ruko, kawasan pendidikan dan sarana umum.

Pada 1997 sudah dilakukan pencarian lahan. Area di kawasan Sentul, Sawangan Depok, Parung Bogor, dan Cikarang yang pada tahun itu memang masih banyak lahan kosong sempat jadi pertimbangan.

Akhirnya, Dian Al Mahri (Pemilik Masjid) memutuskan pembangunan Kubah Masjid Emas di Meruyung Limo, Depok, dengan alasan kawasan ini tak jauh dari Jakarta. Selain itu, udara pun masih sejuk.

Meskipun Indonesia dilanda krisis moneter pada 1998, pembangunan Masjid Kubah Emas tetap dilakukan dengan ditandai pemancangan tiang pancang pertama dilakukan olah Dian Al Mahri pada 27 Oktober 1998.

Dikatakan, Dian Al Mahri langsung turun ke lapangan untuk mengawasi secara detail pembangunan Masjid Kubah Emas. Dian Al Mahri fokus mengawasi material konstruksi, material granit, material finishing, marmer hingga pasir.

Seperti dilansir Wikipedia, Masjid Dian Al Mahri dibangun dengan 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Uniknya, seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal.

Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Selain itu di dalam masjid ini terdapat lampu gantung yang didatangkan langsung dari Italia seberat 8 ton.

Selain itu, relief hiasan di atas tempat imam juga terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.

Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya.

Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.

Halaman dalam berukuran 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah.

Enam menara (minaret) berbentuk segi enam atau heksagonal, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar.

Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.

Pada bagian interiornya, masjid ini menghadirkan pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi guna menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat.

Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton, yang pengerjaannya digarap ahli dari Italia.

(Ed.RB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here