Jihad dan Kafir dalam Film ‘Hotel Mumbai’, Sebuah Review

0
433
Jihad dan Kafir dalam Film ‘Hotel Mumbai’, Sebuah Review
Jihad dan Kafir dalam Film ‘Hotel Mumbai’, Sebuah Review

Ibadah.co.id –Jihad dan kafir, dua kata yang menjadi spirit terjadinya serangan teroris pada 2008 lalu di Stasiun, Kafe dan Hotel Mumbai.

Film garapan (sutradara) Anthony Maras (The Palace) ini diangkat dari kisah nyata peneyerangan sekelompok pemuda (teroris) terhadap tamu-tamu hotel yang dicap sebagai kafir, Film ‘Hotel Mumbai’ yang menggambarkan aksi teror brutal itu dilandasi dengan semangat jihad menggebu dalam dada mereka hingga mampu menewaskan lebih dari 160 orang di Kota Mumbai.

Film ini menghadirkan ketegangan di hampir sepanjang film. Aksi penembakan membabi buta para teroris membuat deg-degan dan menyesakkan dada.

Dalam film Hotel Mumbai’, sebagaimana dilansir herworld.co.id (10/4) dibuat berdasarkan dokumenter ‘Surviving Mumbai’ (2009), dan beberapa dialog terutama rekaman telpon para terorir dibuat persis sama dengan aslinya. Di antara plot matang dan akting mengesankan deretan aktor, Dev Patel tampil memukau sebagai Arjun, karyawan hotel yang pemberani dan menjadi hero yang menyelamatkan para tamu.

Film Hotel Mumbai dibuka dengan adegan 10 remaja pria yang tiba di Mumbai dengan masing-masing memanggul tas. Dengan cepat masing-masing menyebar dengan tujuan berbeda, di antaranya ke stasiun kereta, kafe, dan hotel bintang lima Taj Mahal Palace Mumbai.

Sementara di tempat terpisah. Arjun (Dev Patel), karyawan hotel Taj menyerahkan putrinya pada sang istri sebelum kemudian berangkat kerja. Lalu, pasangan suami istri, Zahra dan David (Nazanin Boniadi dan Armie Hammer) sedang menuju hotel Taj untuk menginap. Mereka datang bersama putra mereka yang baru lahir, dan pengasuhnya Sally (Tilda Cobham-Herveyas).

Tak lama kemudian, dua remaja pria yang memanggul tas mengeluarkan pistol dan granat. Mereka menembak membabi buta di stasiun. Teror dimulai. Warga Mumbai panik.

Serangan beruntun merambat ke kafe yang ramai di tengah kota. Lalu menuju hotel Taj yang mewah, megah dan sekaligus target utama para teroris. Masing-masing terhubung lewat clip on di ponsel mereka dengan seseorang yang dipanggil Bull sebagai ‘dalang’ di balik teror. Kata-kata jihad menjadi motivasi di balik serangan, dan kafir yang disematkan pada orang asing adalah target penembakan.

Di hotel Taj, situasi tak terkendali. Ada yang disandera, dan sebagian berusaha menyelamatkan diri dengan lewat tangga darurat. Karyawan hotel yang heroik memutuskan untuk menyelamatkan para tamu dari serangan, termasuk di dalamnya Arjun, dan kepala chef Hemant Oberoi (Anupam Kher).

Aksi penyelamatan dari serangan membabi-buta membuat film ini menggugah emosi dan juga menegangkan.

Hotel Mumbai dibuat berdasarkan kejadian nyata akan serangan teror yang dilakukan organisasi Islam, Lashkar-e-Taiba yang terjadi pada 26 November 2008. Sekitar 166 orang dikabarkan meninggal dunia, dan 300-an orang lainnya luka-luka akibat penembakan.

Anthony Maras sebagai sutradara turut menulis naskahnya bersama John Collee. Fokusnya adalah bagaimana menampilkan kengerian akan serangan teror paling berdarah di Mumbai satu dekade lalu. Tema ini agak sedikit berisiko karena ‘sensitif’.

Formulanya adalah bagaimana menyelipkan fakta sejarah di antara dramatisasi plot yang dibuat sedemikian rupa. Ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Film ‘Hotel Mumbai’ bisa dibilang berhasil dalam menghadirkan ketegangan, seperti action thriller yang membuat penonton gelisah di bangkunya karena turut merasakan aksi ‘teror’.

Beberapa aktor memainkan tokoh di kehidupan nyata. Di antaranya sosok kepala chef yang dimainkan Anupam Kher, yang menariknya juga dimainkan dengan sangat baik. Kher dan Dev Patel, adalah dua aktor yang paling mengesankan di film ini.

Di luar itu, ada beberapa karakter yang ‘diadakan’ untuk membuat kesan dramatis, seperti karakter David, Zahra dan Vasili (Jason Isaacs) tamu Rusia yang garang.

Yang tak kalah menarik adalah ketika Maras membuat penonton melihat lebih dekat apa yang dirasakan oleh para teroris saat melakukan aksinya. Bagaimana labilnya emosi Imran (Amandeep Singh), Abdullah (Suhail Nayyar), Houssam (Manoj Mehra), dan atau para teroris lainnya saat melakukan serangan.

Film Hotel Mumbai membuat penonton melihat dua sisi dari kengerian serangan teror di Mumbai. Baik dari sisi korban yang ketakutan setengah mati karena ditembak membabi buta, maupun dari para pelaku teror yang mematuhi perintah ‘jihad’ tanpa tahu maknanya.

Hotel Mumbai tayang di bioskop Indonesia mulai 9 April 2019. (Ed.AS/ibadah.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here