Melaksanakan Puasa Syawal, berikut Lima Hikmah dari Puasa Syawal

0
175
Melaksanakan Puasa Syawal, berikut Lima Hikmah dari Puasa Syawal
Melaksanakan Puasa Syawal, berikut Lima Hikmah dari Puasa Syawal

Ibadah.co.id – Puasa Syawal adalah puasa sunnah yang dilakukan selama enam hari pada bulan Syawal. Lebih tepatnya puasa sunnah yang dilakukan setelah bulan suci Ramadan. Puasa Syawal memiliki faedah yang luar biasa. Jika seorang muslim ikhlas menjalankan puasanya, maka baginya ganjaran istimewa berikut ini.

Pertama, puasa enam hari yang pahalanya seperti puasa setahun. Ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya. Bagaimana tidak, berpuasa seminggu namun pahalanya sebesar orang berpuasa setahun.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”

Kedua, puasa sunnah yang mampu melengkapi ketidaksempurnaan ibadah wajib lainnya. Jika puasa wajib di bulan sebelumya (Ramadan) masih banyak bolongnya. Alangkah lebih baiknya kita menyempurnakannya dengan puasa Syawal ini. Seperti halnya shalat sunah Rawatib yang mampu menutupi kekurangan dalam salat wajib. Nabi Saw bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada salat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika salatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika salatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan salat sunnah? Jika ia memiliki salat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan salat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.”

Ketiga, sebagai indikator diterimanya amalan selama bulan Ramadan. Karena sejatinya Allah selalu memberi hidayah bagi hambanya yang melakukan kewajiban. Misalnya seseorang yang berpuasa selama bulan ramadan dengan baik dan ikhlas, maka Allah akan membuatnya ketagihan untuk berpuasa sunah di bulan syawal dan menjaga kebaikan yang telah ada. Layaknya Allah yang memudahkan jalan kebaikan bagi hambanya yang bertakwa dan membenarkan ajarannya. Allah Swt berfirman yang artinya:

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”

Keempat, sebagai tanda syukur seorang hamba. Setelah melewati indahnya hari kemenangan, sepantasnya kita mewujudkan rasa terima kasih kepada Sang Kholik (Pencipta). Seseorang yang berpuasa Syawal tak lain adalah praktik syukur, karena bertambahnya amal ibadah seseorang merupakan salah satu ciri hamba yang bersyukur. Seperti yang dicontohkan Nabi dengan menambahkan ritual salat sunah di atas lengkapnya salat wajib lima waktu.

Ketika Nabi Saw ditanya oleh istri tercintanya yaitu ’Aisyah radhiyallahu ’anha mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan:

أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

”Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?”

Kelima, sebagai bukti bahwa ia muslim yang stabil. Bukan lagi hamba yang amatiran, yang melakukan ibadah hanya musiman belaka. Bukan juga hamba yang labil, yang enggan melakukan amal karena beratnya kewajiban sebelumnya. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa syawal hakikatnya ia mempertahankan ketangguhannya di jalan Allah. Sebagaimana perintah Allah dalam Surat Hud ayat 112:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu. Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.

(Ed.RB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here