Lebih Baik Mana Antara Qurban Sapi dengan Patungan atau Kambing Sendirian?

0
206
Lebih Baik Mana Antara Qurban Sapi dengan Patungan atau Kambing Sendirian?
Lebih Baik Mana Antara Qurban Sapi dengan Patungan atau Kambing Sendirian? (Foto: DalamIslam.com)

ibadah.co.id – Dalam melaksanakan qurban, umat Islam diberikan pilihan di antara tiga jenis hewan kurban, yaitu unta, sapi (sejenisnya, kerbau), dan kambing (domba dan kacang). Di antara ketentuan yang berlaku dalam jenis binatang qurban tersebut adalah, satu ekor unta dan sapi boleh digunakan secara kolektif untuk kurban tujuh orang, sementara satu ekor kambing hanya dapat dipakai untuk kurban satu orang.

Masyarakat Indonesia, lazim berqurban dengan sapi atau kerbau dan kambing (domba atau kacang).

Bagi orang yang memiliki keuangan lebih, berqurban dengan satu ekor sapi tentu lebih baik dari satu ekor kambing. Namun bagi yang dananya terbatas, pilihan yang paling terjangkau adalah membeli satu ekor kambing. Atau berqurban sapi tapi harus mengajak orang lain untuk patungan dan mengeluarkan kurbannya secara kolektif.

Dalam titik ini munculah sebuah pertanyaan, manakah yang lebih utama, antara berqurban sapi secara kolektif dan berkurban kambing secara pribadi?

Ulama menegaskan urutan keutamaan binatang yang diqurbankan adalah unta, sapi (atau kerbau), kambing domba, kambing kacang, kurban unta kolektif, kemudian yang terakhir qurban sapi kolektif.

Tolok ukur urutan afdhaliyyah (keutamaan) ini pertama dititikberatkan kepada sisi kuantitas daging. Karenanya unta lebih utama dari sapi, sapi lebih utama dari domba, sebab lebih banyak daging yang diqurbankan. Pertimbangan kedua mengacu kepada sisi kualitas daging. Oleh sebab itu, domba lebih utama dari pada kambing kacang.

Pertimbangan yang tidak kalah penting adalah qurban yang dilakukan secara pribadi lebih baik daripada secara kolektif, bahkan aspek ini yang paling dititikberatkan dari dua aspek di atas (kuantitas dan kualitas). Oleh sebab itu, berkurban dengan satu ekor kambing secara pribadi lebih baik daripada kurban unta atau sapi secara kolektif, meski secara kuantitas dagingnya masih di bawah unta dan sapi.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan:

“Kurban yang paling utama adalah unta, sapi, domba, kambing kacang, unta kolektif kemudian sapi kolektif, sebab masing-masing dari apa yang telah disebutkan lebih baik dari urutan setelahnya, maksudnya karakternya memang demikian,” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim Hamisy Hasyiyah al-Turmusi, juz 6, hal. 615, Dar al-Minhaj).

Syekh Mahfuzh al-Tarmasi memberi komentar atas referensi di atas sebagai berikut:

“Ucapan Syekh Ibnu Hajar; lebih baik dari setelahnya; maksudnya dan karena menyendirinya mudlahhi (orang yang mengeluarkan qurban) dengan mengalirkan darah kurban dalam kasus sebelum kurban kolektif. Atas dasar pertimbangan ini diketahui pendapat yang ditunjukan kitab matan sebagaimana lainnya bahwa satu ekor kambing lebih utama dari pada qurban kolektif, meski memperbanyak jumlah unta. Pengarang kitab al-Wafi menegaskan hal yang serupa atas dasar analisa fikihnya. Syekh Ibnu Hajar berkata dalam kitab al-Tuhfah; ini pendapat yang jelas,” (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Hasyiyah al-Turmusi, juz 6, hal. 615, Dar al-Minhaj).

Syekh Khathib al-Syarbini berkata:

“Lebih utamanya macam-macam qurban dengan melihat pertimbangan syiar adalah unta kemudian sapi, karena daging unta lebih banyak. Kemudian domba, kemudian kambing kacang, sebab lezatnya daging domba melebihi kambing kacang, kemudia berkurban kolektif dalam unta atau sapi. Adapun melihat daging, maka daging domba adalah yang terbaik. Tujuh ekor kambing lebih utama dari satu ekor unta atau sapi. Satu ekor kambing lebih utama dari kurban unta atau sapi secara kolektif, sebab menyendiri dalam mengalirkan darah,” (Syekh Khathib al-Syarbini, al-Iqna’ Hamisy Hasyiyah al-Bujairimi, juz 4, hal. 334).

Dari uraian dapat dipahami bahwa berkurban kambing dengan sendiri lebih utama dari pada berqurban dengan sapi secara kolektif, sebab pahala dan keberkahan tetesan darah hewan qurban didapatkan secara pribadi, tidak dibagi dengan mudlahhi (orang yang menunaikan qurban) yang lain.

Oleh Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. (ed.AS/ibadah.co.id/nuonline)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here