Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)

0
7722
pesantren abad 14-16 masa wali songo

Ibadah.co.id – Pesantren, sebagai institusi pendidikan Islam tertua di Nusantara[4] memiliki riwayat jaringan keulamaan yang kokoh. Seorang perintis pesantren tidak dapat dipisahkan dengan pesantren yang lainnya. Begitu pula dengan tokoh ulamanya yang sambung-menyambung bertalian antara satu tokoh dengan tokoh selainnya. Baik secara keilmuan dan atau nasab kekerabatan. Bersamaan dengan itu pula, akar sejarah pesantren dapat ditelusuri hingga titik pangkalnnya.

Sebagian besar para sejarawan meletakkan Syaikh Maulana Malik Ibrahim—di tanah Jawa masyhur dengan sebutan nama Syaikh Maghribi—dari Gujarat India sebagai peletak batu dasar pesantren nusantara. Agus Sunyoto misalnya, dalam gambar peta persebaran Wali Songo di Nusantara menuliskan Syaikh Ibrahim sebagai peletak dasar pertama pesantren di Nusantara.[5] Mohammad Said dan Junimar Affan menyebut Sunan Ampel (Raden Rahmat) sebagai pendiri pesantren pertama kali di Kembang Kuning Surabaya.[6] Bahkan Kyai Machrus Aly menginformasikan bahwa di samping Sunan Ampel, ada yang menganggap Sunan Gunung Jati (Syaikh Syarif Hidayatullah) di Cirebon sebagai pendiri pesantren pertama sewaktu mengasingkan diri bersama pengikutnya  dalam khalwat, beribadan secara istiqamah untuk ber-taqarrub kepada Allah.[7]

Dalam perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas, Maulana  Malik Ibrahim  oleh kebanyakan ahli sejarah  dikenal sebagai penyebar pertama Islam  di Jawa yang mengislamkan wilayahwilayah pesisir utara Jawa, bahkan berkali-kali mencoba menyadarkan raja Hindu-Budha Majapahit, Vikramawardhana (berkuasa 788-833/1386-1429) agar mau masuk Islam.[8] Sementara itu, diidentifikasi bahwa pesantren mulai eksis sejak munculnya masyarakat Islam di Nusantara.[9] Akan tetapi mengingat pesantren yang dirintis Maulana Malik Ibrahim itu belum jelas sistemnya, maka keberadaannya masih spekulatif dan diragukan.

Dalam konteks ini, analisis Lembaga Riset Islam (Pesantren Luhur) cukup cermat dan dapat dipegangi sebagai pedoman dalam memecahkan teka teki siapa pendiri pesantren pertama kali di Jawa. Dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim  sebagai peletak  dasar pertama sendi berdirinya pesantren, sedang Raden Rahmat, putranya sebagai wali pertama di Jawa Timur.[10]

Adapun Sunan Gunung Jati mendirikan pesantren sesudah Sunan Ampel, bukan bersamaan. Teori kematian kedua wali ini menyebutkan  bahwa Sunan Ampel wafat tahun 1467 M, sedang Sunan Gunung Jati wafat tahun 1570 M, jadi terpaut 103 tahun. Karena itu, pandangan bahwa Sunan Gunung Jati  sebagai pendiri pesantren pertama mungkin saja benar, tetapi khusus di wilayah Cirebon  atau secara umum Jawa Barat dan bukan di Jawa secara keseluruhan.[11]

Bersamaan dnegna ini di Jawa bagian barat didirikan Pesantren Al-Kahfi Somalangu merupakan Pondok Pesantren yang telah terhitung cukup tua keberadaannya. Karena Pondok Pesantren ini telah ada semenjak tahun 1475 M. Adapun tahun dan waktu berdirinya dapat kita ketahui diantaranya melalui Prasasti Batu Zamrud Siberia (Emerald Fuchsite) berbobot 9 kg yang ada di dalam Masjid Pondok Pesantren tersebut.

Sebagaimana diketahui menurut keterangan yang dihimpun oleh para ahli sejarah bahwa ciri khas Pondok Pesantren yang didirikan pada awal purmulaan Islam masuk di Nusantara adalah bahwa di dalam Pondok Pesantren itu dipastikan adanya sebuah Masjid. Dan pendirian Masjid ini sesuai dengan kebiasaan waktu itu merupakan bagian dari pendirian sebuah Pesantren yang terkait dengannya. Pesantren ini resmi berdiri semenjak tanggal 25 Sya’ban 879 H atau bersamaan dengan Rabu, 4 Januari 1475 M. Pendirinya adalah Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al Hasani. Beliau semula merupakan seorang tokoh ulama yang berasal dari Hadhramaut, Yaman. Lahir pada tanggal 15 Sya’ban 827 H di kampung Jamhar, Syihr. Datang ke Jawa tahun 852 H/1448 M ketika masa pemerintahan Prabu Kertawijaya Majapahit atau yang dikenal dengan julukannya Prabu Brawijaya I (1447 – 1451). (RB)

Sumber

[4] Sebelum tahun 1960, pesantren dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok berasal dari kata Arab, funduq,  yang artinya tempat orang menuntut ilmu pengetahuan agama. Lihat Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1994), h. 18.

[5] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1985), h. 231. Lihat juga Soeparlan Soerjopratondo dan M. Syarif, Kapita Selekta Pondok Pesantren (Jakarta: Paryu Barokah, tt), h. 6. Dan Saifuddin Zuhri, Kyai Haji Abdul Wahab Khasbullah Bapak Pendiri Nahdhatul Ulama (Yogyakarta: Pustaka Falakiah, 1983), h. 103.

[6] Muh. Said dan Junimar Affan, Mendidik dari Zaman ke Zaman (Bandung: Jemmars, 1987), h. 53.

[7] Machrus Aly, “Hakikat Cita  Pondok Pesantren”, dalam Kapita Selekta Pondok Pesantren, (Jakarta: Paryu Barkah, tt), h. 40.

[8] SMN al-Attas, Preliminary Statement on a General Theory of The Islamization of MalayIndonesian Archipelago, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,  1969), h. 12-13.

[9] Ahmad Qadry Abdillah Azizy, ―Pengantar: Memberdayakan Pesantren dan Madrasah‖ dalam Ismail SM, Nurul Huda dan Abd Kholiq, ed, Dinamika Pesantren dan Madrasah (Yogyakarta: Kerjasama IAIN Walisongo Semarang dengan Pustaka Pelajar, 2002), h. vii.

[10] Lembaga  Riset Islam (Pesantren Luhur), Sejarah dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri (Malang: Panitia  Penelitian dan pemugaran Sunan Giri Gresik, 1975), h. 53.

[11] M. Dawam Rahardjo, ed., Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1995), h. 65. Bandingkan dengan M. Ali Haidar,  Nahdhatul Ulama dan Islam di Indonesia Pendekata Fikih dalam Politik, (Jakarta: Gramedia  Pustaka Utama, 1994), h. 84.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here