KH. Abdullah Sajjad: Pejuang Pesantren, Mati Syahid dalam Sujud

0
41

Ibadah.co.id-KH. Abdullah Sajjad adalah sosok kiai karismatik dan pejuang membela kolonial Belanda di Madura. Beliau lahir di Guluk-Guluk, Sumenep, Madura sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan KH. Muhammad Syarqawi dan Nyai Qomariyah. Ayahnya adalah pendiri pesantren Annoqayah Guluk-Guluk Sumenep pada tahun 1887.

Sejak kecil ia menyantri ke pesantren lain di Madura dan Jawa. Pernah nyantri di pesantren Kademmangan asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan, pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari dan pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Setelah itu, beliau belajar mengikuti kakaknya Muhammad Ilyas ke Mekkah.

Setelah beliau selesai menyelesaikan pengembaraan mencari ilmu di Mekkah, beliau kembali ke Annoqoyah untuk meneruskan perjuangan orang tua mendirikan pesantren. Beliau diberi kesempatan merintis pesantren sendiri di lingkungan Annoqoyah bernama pesantren Latee, sekitar seratus meter dari induknya pada tahun 1923.

Selama mendirikan pesantren Latee, beliau memperkenalkan sistem madrasah yang mengikuti model pembelajaran Tabuireng pada tahun 1935. Sebagian besar waktunya diisi dengan pengajian kitab selesai shalat berjamaah, kecuali setelah shalat maghrib dipakai untuk mengaji Al-Quran.

Beliau dikenal sosok pejuang yang pemberani, baik melawan kolonial belanda atau aliran ekstrim yang dapat mendoktrin masyarakat atas kesalahfahaman terhadap opini. Misalnya, putra beliau KH. Abdul Basith mendapatkan kitab ekstrim tentang pandangan tasawuf. Kitab tersebut diahiasi cacatan kritis KH. Abdullah Sajjad dengan tujuan pembaca bisa berhati-hati dan cermat dalam membaca kitab karya Ibnu Arabi.

Dari sosok pejuang pembela masyarakat, beliau tampil sebagai pejuang bangsa Indonesia untuk melawan kolonial belanda di wilayah Madura pasca proklamasi kemerdekaan. Saat itu Belanda kembali lagi untuk mengambil kembali jajahannya sekaligus menjadikan negara boneka bernama negara Madura.

Awalnya pemimpin Laskar Santri-Ulama, Laskar Sabilillah di Sumenep dipimpin oleh Kiai Ilyas, namun diserahkan kepada Kiai Abdullah Sajjad. Beliau keliling Madura terutama daerah Sumenep dan Pamekasan untuk mengajak masyarakat berjuang membela agama, bangsa dan negara.

Setelah semua pasukan terkumpul yang terdiri dari para kiai, santri dan anak muda. Pada bulan Agustus 1947, beliau bersama pasukannya melakukan pertempuran dan dibantu menantu dan keponakannya, Kiai Khazin bin Ilyas dan KH. Abdullah Sajjad membawa pasukannya ke garda terdepan.

Namun, pasukan musuh lebih kuat dan solid sehingga pasukan Laskar Sabilillah dipukul mundur. Kiai Khazin selaku pimpinan  lapangan mengirimkan utusan agar mengkosongkan pesantren Annoqoyah yang saat itu menjadi markas komando barisan Sabilillah.

Kiai Ilyas mengungsi ke dusun Berca daerah pedalaman Guluk-Guluk, sementara KH. Abdullah Sajjad mengungsi ke Karduluk daerah pengunungan sebelah timur Parenduan Sumenep. Awalnya beliau disarankan untuk mengungsi ke Jawa, namun beliau mempertimbangkan untuk tidak meninggalkan santri dan pasukannya.

Empat bulan pasca penyerangan, datanglah sepucuk surat yang ditunjukkan kepada KH. Abdullah Sajjad yang dibawah oleh orang asli Madura sebagai kurir Belanda. Surat tersebut mengajak KH. Abdulallah Sajjad untuk kembali ke Annoqoyah. Sejumlah pihak mencegah untuk kembali, dikhawatirkan surat tersebut sebuah tipuan dari Belanda dalam misi penangkapan. Namun, setelah dimusyawarahkan bersama keluarga pesantren Annoqoyah, akhirnya beliau kembali ke tanah kelahiran dan dibesarkannya.

Namun, setelah kembali ke Annoqoyah, masyarakat menyambutnya dan menemui beliau di pesantren. Usai shalat maghrib berjamaan, serdadu Belanda datang dan membawa KH. Abdullah Sajjad ke lapangan untuk dieksekusi kejam oleh tentara Belanda.

Sebelum dieksekusi, beliau memohon untuk shalat sunnah. Permintaanya pun dikabulkan. Di saat melaksakan shalat itulah desingan peluru Belanda menusuk beliau sehingga tersungkur ke tanah. Jenazahnya dibawa oleh keluarga secara diam-diam dan dimakamkan di lingkungan Annoqoyah sekitar tahun 1947. (HN/Kontributor)

Sumber: Ahmad Baso

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here