Hukum Penempatan Logo NU pada Produk

0
50

Ibadah.co.id – NU merupakan organisasi atau wadah pemersatu para ulama’ dengan faham ASWAJA (ahlu sunnah wal jamaah). NU didirikan oleh KH Hasyim Asyari pada tgl 31 Januari 1926. Organisasi ini, tidak hanya sekadar didirikan begitu saja, diawali dengan sebuah istikharah NU akhirnya terbentuk.

Setiap organisasi pasti memiliki lambang, atau simbol yang merupakan lambang kebanggaan, pembeda dari organisasi lainnya. NU pun demikian, KH. Ridwan Abdullah merupakan tokoh di balik tercetusnya logo NU. Beliau merupakan salah satu Kiai yang sangat terampil dalam melukis.

Dalam usahanya membuat logo NU, beliau juga mengawalinya dengan sebuah Istikhoroh. Bukan hal yang mudah baginya, setengah bulan lebih lamanya beliau berjuang untuk membuatnya. Tapi, beliau tak jua memiliki inspirasi untuk menggambar logo tersebut. Intinya, banyak iktiar para ulama lahiriah maupun batiniah yang berperan dalam organisasi faham sunni yang satu ini.

Melihat semua pengorbanan serta perjuangan di atas, bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi saat ini, logo organissai ulama yang harusnya kita jaga dari berbagai macam penistaan malah ditempatkan dalam suatu produk, salah satunya adalah sarung, songkok, krudung.

Dikutip dari nu.or.id, Minggu (21/06) sekretasis jendral PBNU, Bapak Helmy Faishal Zaini menegaskan bahwasannya penggunaan logo organisasi Islam yang tak lain organisasi NU pada suatu produk bukanlah suatu larangan yang menyebabkan dosa bagi yang melanggarnya.

“Pertimbangannya adalah karena akhlak dan soal etika. Tidak etis bagi kita menaruh logo organisasi yang diciptakan para ulama itu ditaruh pada bagian yang kurang sopan.” Tegas sekjen Helmy.

Penggunaan logo NU pada suatu produk diperbolehkan di antaranya: songkok, krudung, peci. Akan tetapi penempatan logo NU pada produk sarung perlu dihindari, guna menjaga kesakralan serta menjaga diri dari macam pola penistaan yang tidak kita sadari. (HN/Kontributor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here