Tragedi Penusukan Syekh Ali Jaber, Menag Ingatkan Kisah Sahabat Nabi

0
26
Tragedi Penusukan Syekh Ali Jaber, Menag Ingatkan Pelajaran Kisah Sahabat Nabi
Tragedi Penusukan Syekh Ali Jaber, Menag Ingatkan Pelajaran Kisah Sahabat Nabi/dok

Ibadah.co.id – Tragedi penusukan Syekh Ali Jaber di Bandar Lampung oleh orang yang tidak dikenal pada hari Minggu 15 September 2020 dalam menyampaikan tausiah keislaman sungguh tidak terduga.

Mendengar hal tersebut, Menteri Agama Fachrul Razi mengecam kejadian beruntun yang mengakibatkan tragedi pembunuhan ulama di Indonesia dalam beberapa waktu yang singkat.

Pertama, penusukan ulama Syekh Ali Jaber namun Allah masih menampakkan kekuasaannya untuk menyelamatkan. Kedua, seorang imam tewas ketika shalat Subuh di sebuah masjid di Tanjung Rancing, Kayu Agung, Ogan Komering Hilir, Sumatera Selatan.

“Dalam Islam, ulama adalah pewaris para nabi. Merekalah yang mendapat amanah menyampaikan pesan-pesan ilahi dan kemanusiaan di muka bumi, membunuhnya adalah sebuah kejahatan ganda”, ujar Menag dengan penuh empati, di Jakarta, Selasa (15/09), dikutip dari Kemenang.go.id.

Atas kejadian tersebut, Menag mengingatkan kepada semua umat Islam kepada kisah Usamah bin Zaid, seorang penglima perang termuda yang pernah membunuh lawannya dalam sebuah perang jihad fi sabilillah. 

Seusai perang, Usamah bertanya kepada Rasulullah Saw, bahwa dia berhadapan dengan seorang lelaki bernama Mirdas bin Nahik. Ketika Usamah berhasil memojokkannya, tiba-tiba Mirdas bin Nahik mengucapkan syahadat, namun Usama tetap menusuknya dengan pedang.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah berkata, “Bagaimana bisa engkau membunuh orang yang sudah mengucap kalimat syahadat?”

Rasul menegur Usamah yang tetap membunuh laki-laki itu, padahal dia telah mengucapkan syahadat, karena seorang Muslim sesungguhnya tidak berhak menilai isi hati dan kebenaran keislaman seseorang.

Menag dengan tegas mengingatkan kepada umat muslim, bahwa Islam tidak mengajarkan menyakiti apalagi membunuh antar sesama.

“Dalam pesan terakhirnya ketika haji wada’, Rasulullah tegas berpesan bahwa haram bagi setiap insan untuk menumpahkan darah saudaranya. Ini adalah pesan kemanusiaan tertinggi dalam Islam,” tegas Menag.

Dirinya menambah, menumpahkan darah dan membunuh manusia tanpa alasan sangat bertentangan dengan esensi ajaran agama. Islam diyakini sebagai agama pembawa rahmat bagi alam semesta.

Sementara, Indonesia adalah negara hukum, di mana konstitusinya dirumuskan dengan melibatkan para pemuka agama. Jangankan seagama, mencederai atau membunuh warga negara beda agama pun adalah sebuah kejahatan hukum. (HN/Kontributor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here