K.H Noer Ali: Singa Karawang-Bekasi

0
152
K.H Noer Ali: Singa Karawang-Bekasi
Ibadah.co.id-K.H Noer Ali adalah salah satu ulama yang lahir dilingkungan Betawi. Beliau dilahirkan di Ujung Malang atau sekarang lebih dikenal dengan nama Ujung Harapan, Bekasi pada 1914 M. Ibunya bernama Maemunah binti Tarbin dan ayahnya bernama Anwar bin Layu.

K.H Noer Ali dilahirkan dari keluarga yang sederhana, yaitu keluarga seorang petani. Maka tidak heran jika kehidupan beliau tergolong sederhana dan apa adanya. Kiprah perjuangannya bagi kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Tidak heran jika ada ungkapan ‘bukan orang Bekasi’ jika tidak mengenal beliau.

Seperti dilansir dari www.republika.co.id pada 15/07/20, beliau juga merupakan salah satu ulama sekaligus pejuang yang menuntut ilmu ke Mekkah dan kembali ke tanah air pada tahun 1940 M. Sesampainya di Indonesia, tepatnya di Bekasi beliau mendirikan sebuah pesantren yang sampai sekarang terkenal denga nama pondok pesantren At-Taqwa pada 17 Desember 1986.

Singa Karawang-Bekasi menjadi julukan yang melekat pada KH. Noor Ali karena tekad dan keberaniannya dalam melakukan perlawanan kepada penajajah, yang pada saat itu sedang gencar-gencarnya menyerang Indonesia. Maka dari itu, beliau pernah dipercaya menjadi Ketua Laskar Rakyat Bekasi untuk melawan penjajahan. Beliau juga permah menjadi Komandan Batalyon III Hizbullah Bekasi. Terlihat sekali sosok kharismatik dan berwibawa KH. Noor Ali dari beberapa jawaban yang pernah dicicipinya.

Di sisi lain, Penjajah Belanda juga sangat sulit untuk menangkap dan melumpuhkan kipah KH. Noor Ali. Sehingga banyak yang memberi sebutan belut putih kepada beliau.

Ada suatu kisah, ketika KH Ali Noer memasuki masjid dan kaki tangan Belanda bersenjata melihat, sandalnya di depan masjid langsung dijaga. Begitu ditunggu berapa lama beliau tidak keluar, kaki tangan Belanda pun penasaran. Ketika menengok ke dalam masjid ternyata KH Ali Noer sudah tidak ada. Beliau begitu cepat menyadari keberadaan kaki tangan Belanda dan gesit meloloskan diri.

KH. Noor Ali wafat di Bekasi pada 29 Januari 1992 atau tepat berusia 77 tahun. Dan dengan berbagai kiprahnya untuk mengusir penjajahan, maka pada 10 November 2006 beliau diberi gelar sebagai salah satu pahlawan Nasional. (DAF)