Hukum Keluar Grup WhatsApp Menurut Pandangan Islam

0
53
Hukum Keluar Grup WhatsApp Menurut Pandangan Islam

Ibadah.co.id – Berkembangnya teknologi sekarang dibuktikkan dengan berbagai media komunikasi yang akurat jarak jauh, salah satunya yang sering digemari masyarakat yaitu WhatsApp.

Setiap harinya, kita berkomunikasi dan menjalin hubungan silaturrahmi jarak dekat atau jarak jauh melalui WhatsApp. Bahkan, untuk memperatnya kembali, maka dibuatlah Grup WhatsApp.

Selain itu, Grup WhatsApp memiliki banyak fungsi dan aspek kegiatan, seperti kelas literasi, kajian online, perkuliahan, bahkan hanya perkumpulan biasa antara kelompok.

Namun, tidak sedikit orang merasa terganggu atau tidak nyaman berada di grup tersebut sehingga jalan terakhirnya harus keluar atau leave grup.

Kadang pula, tiba-tiba nomor kita sudah masuk ke grup yang unfaedah sama sekali.

Pertanyaannya, bagaimana hukum keluar Grup WhatsApp, apakah termasuk memutuskan silaturrahmi?

Dikutip dari NU Online, Minggu (13/09), keluar atau leave dari grup adalah tindakan darurat di mana grup lebih dominan berisi hoaks, ujaran kebencian, atau informasi yang sangat naif. Kalau tanpa uzur apa pun, leave dari grup bukan pilihan terbaik. Keluar atau leave dari grup merupakan pilihan kesekian.

Jika di dalam Grup WhatsApp tersebut terdapat informasi hoax atau hal yang dilarang oleh agama. Maka, tindakan tersebut benar sesuai dengan dasar dari Imam An-Nawawi, yaitu:

“Ketahuilah, orang yang mendengar ghibah terhadap seorang Muslim seyogianya menolak ghibah tersebut dan menegur orang yang melontarkannya. Jika dengan ucapan orang itu tidak berhenti, maka ia boleh mengambil langkah-langkah nonverbal. Jika tidak sanggup menegur secara verbal dan nonverbal, maka ia boleh mufaraqah atau walk out dari majelis tersebut. Jika ia mendengar ghibah terhadap gurunya, orang yang memiliki hak atasnya, atau orang terpandang atau saleh, maka perhatiannya terhadap keterangan kami tadi harusnya lebih besar,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 294).

Oleh karenanya, pilihan keluar dari Grup WhatsApp bukan pilihan yang terbaik jika mampu dikendalikan, namun menjadi yang terbaik manakala terdapat di dalam grup tersebut dapat menyimpang norma-norma yang dilanggar agama Islam. (HN/Kontirbutor)