KH. Moh. Syamsuni: Sosok Barokah dari Ilmu Ladunni

0
194

Ibadah.co.id-Ilmu bisa didapatkan melalui belajar, namun bisa didapatkan melalui pengabdian meskipun tanpa belajar. Sebab, Allah memberikan pengetahuan seperti orang belajar. Inilah yang dialami KH. Moh. Syamsuni, alumni pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura dan Annoqoyah Guluk-Guluk sering disebutkan mendapatkan ilmu ladunni.

Beliau menyebutkan, bukan ilmu ladunni melainkan barokah. Sementara esensi barokah menurutnya dibagi menjadi tiga: pertama, taat pada peraturan. Kedua, taat dan patuh pada guru. Ketiga, pengabdian kepada guru dan pesantren.

“Jadi santri yang baik itu pasti banyak ilmunya,” tutur beliau di kediamannya (14/04).

Beliau mengatakan, selama belajar di MI Nasy’atul Muta’allimin bukanlah termasuk orang cerdas dan mendapatkan juara kelas. Selama mondok di Annoqoyah, beliau jarang sekali masuk, hanya tiga kali dalam seminggu. Namun, beliau lebih mengabdi di dhalem Alm. KH. Warits Ilyas.

Lewat pengabdian dan ketaatan di pesantren, Allah memberikan ilmu seperti ilmunya orang belajar. Terbukti, beliau alim di berbagai bidang keilmuan, seperti Fiqih dan Faraid.

Kemudian, di akhir 1980, beliau diminta mengajar di Nasy’atul Muta’allimin oleh Alm. KH. Zubairi Marzuqi. Sebagai santri, beliau mengajar di lembaga Nasy’atul Muta’allimin sampai sekarang. Hal ini didasari oleh dua guru yang memintanya, yaitu Alm. KH. Zubairi Marzuqi dan KH. Amir Ilyas (Saudara KH. Warits Ilyas) yang berpesan, “Senga’ tolongi K. Zubairi (Jangan lupa bantu K. Zubairi).” (HN/Kontributor)

Sumber: Jurnal Imtihan Nasy’atul Muta’allimin