Jamaah Umrah Indonesia Akan Dikarantina Selama Tiga Hari
Ibadah.co.id – Jamaah umrah asal Indonesia akan dikarantina selama tiga hari di dalam hotel yang telah disediakan. Ini adalah bentuk penerapat protokol kesehatan umrah di tengah pandemi. Seluruh jemaah diawasi oleh pihak Saudi Arab selama masa karantina.
Seperti dilansir republika.id pada 3/11/20, ratusan jamaah umrah perdana Indonesia yang berangkat ke Arab Saudi pada Ahad (1/11) mulai menjalani protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sebelum menjalankan ibadah umrah, mereka harus menjalani karantina terlebih dulu selama tiga hari.
Pesawat perdana dari Indonesia tiba pada Ahad (1/11) pukul 18.16 waktu Saudi. Kedatangan kloter pertama jamaah umrah disambut Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah Eko Hartono dan perwakilan Kerajaan Saudi.
Menurut Eko Hartono, pada hari pertama Indonesia memberangkatkan 224 jamaah umrah. “Sekitar pukul 19.00 waktu Jeddah, saya menjemput rombongan umrah perdana Indonesia. Mereka menggunakan maskapai Saudia,” ujar Eko kepada Republika, Senin (2/11).
Ratusan jamaah umrah perdana ini berasal dari beberapa lokasi, seperti Jakarta dan sekitarnya, Solo, dan Makassar. Konjen Jeddah menyebut, proses kedatangan jamaah berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Setelah turun dari pesawat, jamaah melakukan cek suhu dan verifikasi hasil tes PCR.
Seusai melakukan serangkaian pengecekan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, jamaah bergerak menuju hotel tujuan masing-masing untuk menjalani karantina. Selama tiga hari jamaah akan dijaga pengawas dari Saudi.
“Karantina di hotel masing-masing. KJRI tidak bisa nengok juga. Ada pengawas,” ujarnya. Nantinya, saat melaksanakan ibadah umrah, jamaah Indonesia akan dikelompokkan sesama warga Indonesia. Pengelompokan ini telah disiapkan sebelumnya.
Konsul Haji KJRI Endang Jumali mengatakan, karantina yang dilakukan jamaah sesuai dengan tujuan awal. Ada jamaah yang melakukan karantina di Madinah, tapi ada juga yang di Makkah. Selama proses karantina ini, KJRI hanya bisa memonitor.
Terkait kedatangan jamaah umrah selanjutnya, menurut Endang, menyesuaikan dengan jadwal penerbangan maskapai Saudia. “Mungkin setiap jadwal penerbangan Saudia ya. Karena penerbangan selain Saudia belum ada,” kata dia.
Jamaah umrah perdana mengaku terkesan dengan penyambutan Pemerintah Arab Saudi. “Penyambutannya luar biasa,” kata Pengurus Syarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Bidang Hubungan Luar Negeri Riza Palupi, saat dihubungi, Selasa (2/11).
Riza mengatakan, pihak Arab Saudi begitu ramah dan terbuka saat menyambut kedatangan para jamaah dari Indonesia dan Pakistan. Masing-masing dari mereka memakai pakaian kebesaran seperti halnya menyambut tamu kehormatan kerajaan.
“Mereka sangat welcome sekarang sama jamaah umrah. Setiap orang sekarang senyum dan membalas kalau kita tegur atau kita sapa,” ujar dia.
Riza mengatakan, sesuai regulasi, jamaah dari negara asing langsung dikarantina selama tiga hari sebelum melakukan ibadah umrah. Riza yang juga pemilik travel Albi Tour itu menyampaikan, Pemerintah Arab Saudi tidak menempatkan jamaah di suatu tempat khusus karantina, tapi karantina di hotel Makkah sesuai paket yang dipesan.
Riza menuturkan, suasana umrah pada masa pandemi ini berbeda saat umrah sebelum pandemi. Semua keperluan jamaah diantar ke kamar hotel sebagai prosedur karantina yang tak boleh ke mana-mana. “Kondisinya makanan diantar ke kamar,” katanya. Karena pandemi, satu kamar tidak boleh diisi lebih dari dua orang.
Riza menyarankan kepada jamaah umrah perdana dan jamaah yang akan datang, ketika umrahnya masih pada masa pandemi lebih baik diam di kamar. Hal tersebut demi keamanan bersama agar tak terpapar virus korona. “Kita sarankan untuk tetap di kamar kalau tidak ada keperluan mendesak,” katanya.
Riza menceritakan, jamaah memang bisa keluar kamar sampai lobi hotel atau pelataran masjid. Namun, dia melanjutkan, jamaah tidak boleh masuk Masjidil Haram, apalagi langsung menjalankan ibadah umrah sebelum masa karantina selesai.
Kabid Umrah Asosiasi Muslim Pengelola Haji dan Umrah RI (AMPHURI) Zaky Zakaria Anshary menuturkan, rombongan Indonesia adalah kedua yang tiba di Saudi setelah Pakistan. Indonesia dan Pakistan adalah dua negara yang diperbolehkan umrah saat negara lain belum ada yang masuk ke Saudi.
Setelah tiba dan mengikuti seremonial penyambutan, jamaah umrah menuju bus untuk bertolak ke penginapan. Protokol kesehatan terus diterapkan setelah tiba di Saudi, seperti jaga jarak, pakai masker, dan rutin cuci tangan.
“Jamaah ke bus yang sudah disediakan sesuai nomor. Bus hanya diisi 18 orang sekitar 40 persen kapasitas. Di dalam bus sudah ada muthawwif atau guide orang Saudi,” kata Zaky dalam keterangannya, Senin (2/11).
Menurut Zaky, selanjutnya jamaah menjalani karantina di penginapan sebelum bisa beribadah. Selama pandemi ini, penginapan yang diizinkan hanya hotel bintang empat ke atas karena memenuhi standar kesehatan.
Jamaah sempat disambut oleh pimpinan hotel dan staf dengan welcome drink dan kue besar bergambar lambang Indonesia. Ia mengapresiasi penyambutan hangat tersebut. “Sesampainya di Kota Makkah langsung menuju hotel sekaligus tempat karantina selama tiga hari. Infonya selama karantina tidak bisa keluar kamar walaupun ke lobi,” ujar Zaky yang juga dirut PT Khazzanah Al Anshary itu.
Jumlah jamaah yang rencananya diberangkatkan pada Ahad (1/11) sedianya lebih banyak. Namun, karena terganjal sejumlah masalah, ada 43 jamaah umrah yang batal terbang. Republika mendapat informasi, dari 43 jamaah yang batal berangkat, 12 di antaranya tak lolos tes PCR. Sedangkan, jamaah yang batal berangkat lainnya karena belum keluarnya visa dan tiket belum bisa dikonfirmasi. “Kejadian ini perlu dijadikan sebagai bahan evaluasi penerapan protokol kesehatan yang disusun oleh Kementerian Kesehatan melalui Pusat Kesehatan Haji dengan pembahasan lintas kementerian dan lembaga,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito kepada Republika, kemarin. (RB)
[…] – Tiga jemaah umrah asal Indonesia tercatat positif Covid-19. Hal ini disampaikan langsung oleh Konsul Haji Konsulat […]