Apakah Rasulullah Memperingati Hari Kelahirannya?

0
724
Apakah Rasulullah Memperingati Hari Kelahirannya?
Apakah Rasulullah Memperingati Hari Kelahirannya?

Ibadh.co.id –Dari pelbagai pertanyaan yang berseliweran di telinga kita soal maulid Nabi, ada pertanyaan yang mendasar dan menjadi senajata mematikan bagi mereka yang ‘mengharamkan’ perayaan maulid Nabi. Pertanyaan itu adalah ‘Apakah Rasulullah sendiri memperingati hari/tanggal kelahirannya?’

Ada banyak jawaban yang bisa menjelaskan atas pertanyaan itu, walau tentu saja tak dapat memuaskan semua pihak. Antara lain sebagai berikut:

Pertama, apabila yang dimaksud dengan “memperingati” adalah memperingati secara mutlak, yakni tanpa membatasi bagaimana ekspresi peringatannya, maka Rasulullah telah mempraktikannya. Beliau adalah orang pertama yang memperingati hari kelahirannya.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, ketika Rasulullah menyampaikan kesunahan puasa hari senin beliau menjelaskan, “Hari itu adalah hari kelahiranku”. Hadits tersebut menginformasikan bahwa Rasulullah memperingati hari kelahirannya, yakni hari senin, dengan cara berpuasa.

Kemudian dalam hadits lain Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah suatu ketika mengunjungi Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa di hari ‘Asyura. Beliau bertanya kepada mereka tentang puasa yang dilakukannya, mereka menjawab, “Ini adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa darinya, sebab itulah kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah.” Rasulullah lalu berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa karena beliau dan umat Islam merasa lebih berhak untuk memperingatinya daripada orang-orang Yahudi.

Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani mengomentari hadits tersebut, “Dari hadits tadi dapat diambil kesimpulan bahwa diperbolehkan mengekspresikan rasa syukur kepada Allah pada hari tertentu yang di situ dilimpahkan nikmat atau diselamatkan dari mara bahaya, dan hal itu dilakukan pada setiap tahun bertepatan dengan hari tersebut.

Adapun rasa syukur itu bisa diekspresikan dengan berbagai ibadah seperti sujud syukur, puasa, sedekah, atau membaca Al-Qur’an. Lalu adakah nikmat yang lebih agung dari kelahiran sang Nabi yang menjadi rahmat?”.

Peringatan-peringatan di atas juga sejalan dengan firman Allah, “Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah” (QS Ibrahim [14]:5). Maksud dari “hari-hari Allah” adalah peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di antara umat-umat terdahulu berupa nikmat dan siksaan yang dialami mereka. Dan tidak ada kesangsian bahwasanya kelahiran Rasulullah adalah termasuk “hari-hari Allah” bahkan yang paling agung di antaranya sehingga peringatan atasnya adalah suatu ibadah yang utama.

Kedua, apabila yang dimaksud dengan “memperingati” adalah memperingati dalam rupa perayaan (ihtifal) tertentu sebagaimana yang dilakukan kebanyakan umat muslim sekarang dengan berkumpul membaca kisah hidup beliau, bersedekah, berdzikir, membaca Al-Qur’an dan sebagainya, maka peringatan semacam itu merupakan hal baru (bid’ah) yang tidak dilakukan di masa Nabi bahkan di masa generasi al-salaf al-shalih setelah beliau.

Al-Hafizh Imam al-Sakhawi mengatakan, “Perayaan Maulid baru ada setelah kurun ketiga Hijriyah. Perayaan tersebut kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia dan kota-kota besar. Orang-orang bersedekah di malam harinya dengan berbagai macam jenis sedekah dan melakukan pembacaan Maulid Rasulullah yang mulia. Saat itu, nampaklah bagi mereka karunia yang sempurna dan melimpah sebab berkahnya Maulid.” Namun demikian, meski perayaan Maulid Nabi disebut sebagai bid’ah, ia masuk dalam kategori bid’ah yang baik (bid’ah hasanah) yang tentunya akan berpahala manakala dilakukan dengan niatan taqarrub.

Perayaan Maulid dikategorikan sebagai bid’ah hasanah berdasarkan beberapa alasan berikut:

  1. Maksud dari perayaan Maulid adalah mengingat kelahiran manusia termulia Baginda Rasulullah, dan hal semacam itu telah dicontohkan sendiri oleh Beliau.
  2. Rasulullah adalah rahmat yang layak untuk disyukuri dan disambut dengan kegembiraan, sementara syariat tidak membatasi bagaimana ekspresi rasa syukur dan kegembiraan itu asalkan tidak menimbulkan kemungkaran dan kerusakan.
  3. Allah memerintahkan umat Islam untuk mengingat hari-hari-Nya, dan menyelenggarakan perayaan (ihtifal) kelahiran Rasulullah merupakan salah satu upaya untuk “mengingat” hari-hari-Nya.
  4. Berkumpul membaca kisah kehidupan beliau yang mulia, bersedekah, berdzikir, membaca Al Qur’an, menyelenggarakan pengajian adalah hal baik dan mempunyai banyak sekali manfaat terlebih di zaman sekarang. Ada banyak sekali nushus al-syari’at (dasar hukum) yang menjelaskan tentang keutamaan bersedekah, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan mengaji.
  5. Perayaan Maulid tidak pernah dilakukan oleh al-salaf al-shalih sebab saat itu mereka disibukkan dengan urusan penguatan kaedah-kaedah agama dan rukun-rukunnya, perluasan wilayah Islam (ekspansi), dan menolak gangguan musuh-musuh Islam yang mencoba menghalang-halangi dakwah Islam sehingga tidak terlintas dalam pikiran mereka gagasan untuk merayakan Maulid.

Melalui syair al-Hafizh Imam Syamsudin al-Dimasyqi di dalam kitab Maurid al-Shadi fi Maulid al-Hadi tentang kisah Abu Lahab yang mendapatkan keringanan azab setiap hari senin disebabkan syafaat Rasulullah karena Abu Lahab turut bergembira saat kelahiran Nabi dengan mengekspresikannya lewat memerdekakan seorang budak.

“Jika ia (Abu Lahab) seorang kafir yang layak dicela,

yang binasa kedua tangannya dan kekal di Neraka Jahim.

Setiap hari senin untuk selama-lamanya,

azabnya diringankan karena gembira dengan (kelahiran) Ahmad.

Lalu bagaimana prasangkamu dengan seorang hamba yang sepanjang umurnya,

bergembira dengan (kelahiran) Ahmad padahal ia mati dalam keadaan bertauhid (mukmin)?”

Semoga dengan tulisan ini, kita semua menyadari bahwa betapa penting dan bermanfaatnya bila kita sebagai umatnya mengagungkan dan bergembira atas maulid Nabi. Bahkan dengan kegembiraan itu saja bisa mendapatkan syafaat di akhirat kelak, apalagi menjalankan apa-apa yang diperiantahkan dan dilarangnya. Inilah yang menjadi tantangan kita, bagaimana mengikuti syariat Rasulullah dengan tulus. Bukan hanya ikut-ikutan saja, melainkan juga bisa menjelaskan kepada mereka yang awwam dan menolak terhadap peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. (ed.IT/MHM).