Optimalisasi Dakwah di Era Post Truth, Dai “Dilarang” Gaptek

0
22
Optimalisasi Dakwah di Era Post Truth, Dai “Dilarang” Gaptek
Optimalisasi Dakwah di Era Post Truth, Dai “Dilarang” Gaptek

Ibadah.co.id – Era Millenial ini, segala sesuatu tidak terlepas dengan kekuatan media sosial yang berkembang pesat dalam kemajuan IPTEK. Berbagai rancangan serta inovasi yang berkembang menjadikan pembaharuan adaptif bagi masyarakat. Hampir semua kalangan anak-anak, remaja, tua, daerah perkotaan bahkan pedesaan pun cukup ahli dalam mengoperasikannya.

Jika diamati lebih dalam lagi, era ini sudah mengarah perubahan pola kehidupan semakin praktis. Pengaksesan internet dengan mudah, melahirkan e-commerce yang bisa diandalkan saat ini, seperti adanya transportasi online, belanja online, pergeseran dari transaksi tunai menjadi e-money, bahkan di dunia tenaga kerja (contoh: Jepang) manusia dialokasikan kepada robot-robot. Sehingga banyak ketimpangan sosial yang secara tak sadar menjadikan peluang tenaga kerja manusia semakin sempit.

Media digital sudah menjadi kebutuhan utama. Lalu lintas informasi yang berdatangan nyaris berlangsung setiap detik. Sulit bagi masyarakat untuk menyaring satu persatu demi mendapatkan informasi terbaik. Bahkan orang yang memiliki kemampuan matang pun cara berfikirnya bisa terprovokasi oleh internet. Sama halnya dengan dunia dakwah. Banyak yang menyajikan platform media sosial yang berbicara tentang agama secara instan dan parsial sehingga perlahan menggerus pola pemikiran masyarakat. Dai perlu kepekaan untuk membuka ruang dialog dengan ragam piranti teknologi.

Dewasa ini, kita tidak boleh menelan mentah-mentah beberapa kajian agama yang bersumber dari internet. Sehingga dai dituntut melek terhadap teknologi. Dai dituntut untuk mengemas dakwah dengan efektif dan efesien agar cakrawala islamiyah dapat merata ke penjuru masyarakat dan mudah dimengerti serta tidak disalahpahami oleh oknum-oknum yang tidak betanggungjawab.

Suatu tradisi bukan untuk dibuang, tetapi taburkan warna Islamiyah agar tetap terjaga agamisnya. Itulah konsep yang dibawa oleh Walisongo dalam penyebaran dan perkembangan Islam di tanah Jawa.

Sunan Kudus selain terkenal karena menguasai berbagai ilmu agama, beliau juga terkenal dalam bidang kesenian. Kecintaan terhadap tembang-tembang jawa (seperti mijil, maskumambang) yang mampu membawa misi dakwah beliau sukses namun tetap melestarikan kebudayaan Jawa sebagai perantaranya. Sama halnya dengan Sunan Kalijaga. Beliau menjadikan wayang sebagai sarana media dakwah yang dapat menarik simpati masyarakat terhadap agama di masa itu.

Ini dapat menjadi acuan pendakwah dalam menjaga validitasnya. Banyak sekali orang yang belajar agama meninggalkan pola tradisional dan beralih belajar melalui internet, sehingga muncul pemikiran bersifat liberalisme. Karna tak diketahui sanad yang jelas maka ilmu agama yang diperoleh pun tidak jelas. Seperti perkataan Fachruddin Faiz, ketika saya menghadiri seminar Zoom bersama beliau,

“Kecenderungan cara beragama baru dengan jalan populis (ketika seseorang tidak fokus dengan agamanya, yang terpenting banyak pengikut) untuk zaman saat ini mungkin menjadi strategi baru” Lanjut pesan beliau di akhir diskusi “Simulakra (hidup hanya dalam dunia semu). Jelilah melihat pemikiran yang ada di sekeliling kita. Janganlah sekedar ikut utara ke utara, selatan ke selatan. Haruslah punya prinsip hidup, apalagi tentang beragama.”

Maka untuk memperkuat nilai agamis, dai perlu menghidupkan kembali literasi membaca dan menulis di Generasi Millenial. Mengikuti metode dakwah Walisongo dengan mengalkulturasikan budaya dengan agama, kita juga bisa berdakwah melalui literasi, dengan modal internet olahan kata tersebut akan menyebar secara cepat berbagai kalangan. Menggunakan tulisan sebagai ladang dakwah yang dikemas secara menarik dan agamis sangatlah efektif juga meningkatkan tawassul bil haq. Maka sudah sepatutnya mengajak masyarakat untuk warnai sosmed dengan literasi dakwah yang baik dan benar sesuai ajaran Allah. Karena apa yang kita tanam disitulah apa yang kita tuai dan kita share untuk cakrawala islamiyah di Era Post Truth.  

Elvia Fauziyah – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta