Ibadah.co.id-KH. Asy’ari Marzid adalah seorang ulama sepuh di pesantren Nasy’atul Muta’allimin. Beliau saudara dari Alm. KH. Zubairi Marzuki, pendiri Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep.
Sebagai ikut andil dalam mendirikan pesantren Nasy’atul Muta’allimin (NASA), KH. Asy’ari Marzid mengatakan bahwa awal mula nama sebelum Nasy’atul Muta’allimin adalah Al-Marzuqi. Pada tahun 1961, nama Al-Marzuqi diganti dengan nama Nasy’atul Muta’allimin.
Beliau seorang pejuang tangguh saat mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di lingkungan pesantren. Sebuah lembaga berkembang dan maju di masa orde lama, bukan hal yang gampang. Selain dilihat dari metode pembelajaran, juga dari segi infastuktur bangunan. Namun, beliau kokoh pada prinsip untuk memajukan lembaga MI ketimbang sekolah negeri lainnya.
Sebagai seorang kiai dan PNS, bukan tidak ada masalah dalam hidupnya. Ada banyak kendala dan fitnah yang dilontarkan orang tidak suka pada beliau. Terbukti, KH. Asy’ari Marzid dituduh melakukan kampaye PPP di Andulang, meskipun pada kenyataannya beliau ada di rumah dan tak pergi ke mana-mana. Pada saat itu, seorang PNS harus memilih Golkar, sementara para kiai banyak memilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Bertebarnya fitnah, akhirnya beliau dipanggil oleh atasannya sampai dimarahi habis-habisan. Namun, beliau tidak menampakkan kesalahannya, bukan berarti tidak melawan. Beliau memiliki prinsip yang membedakan dengan saudara-saudaranya yang lain.
“Jika dimarahin orang tua, guru dan mertua, saya tidak melawan meskipun salah. Namun, selain ketiga tersebut, saya akan melawan meskipun saudara sendiri. Hal ini yang membedakan antara saya dan saudara,” tegas KH. Marzuki Marzid saat ditemui di kediamannya (13/04). (HN/Kontributor)
Sumber: Jurnal Imtihan Nasy’atul Muta’allimin