Take a fresh look at your lifestyle.

- Advertisement -

Nasab dan Sanad Ilmu KH Imaduddin Usman

0 15,450

Ibadah.co.id Imadudin lahir pada 15 Agustus 1976 di Kampung Cempaka Kresek Tangerang dari ayah Ki Sarman dan ibu Hj. Syu’arah . Ia adalah pribadi yang baik, sederhana, jujur, kharismatik dan dermawan ( loman). Kiai Imadudin Usman ini terbilang memiliki garis keturunan yang bagus dan soleh hingga ada pertemuan leluhurnya dengan leluhur KH. Ma’ruf Amin ( Wakil Presiden Republik Indonesia ) yaitu di Raden Wiranegara atau masyhur dikenal Syaikh Ciliwulung  bin Raden Arya Wangskara, sang pendiri kearyiaan di Tangerang abad 17 Masehi.

Silsilah Nasab KH. Imadudin Usman

Orang Kresek memanggil KH. Imadudin Usman itu dengan panggilan Ki Ganteng, karena wajahnya memang tergolong ganteng, adalah ulama yang punya nasab bagus hingga disebut sebagai al-karim ibnu al-karim ibnu al-karim.

Berdasarkan penuturan orang tuanya yakni Ki Sarman dan Hj. Syu’arah, serta diambil dari manuskrip silsilah yang qoyyid dan tsiqoh seperti dari Itsbat Asyof Naqob Maroko, Irak, dan Turki, juga manuskrip atau naskah Merta Singa, manuskrip Serat Panengan Tepas Dalem Ngayogyakarta bahwa telah tercatat bahwa KH. Imaduddin Usman ini adalah putera dari.

Hj. Su’arah, binti

Hj. Aminah, binti

Hj. Armunah,binti

Ki Usman, bin

Ki Bendo, bin

Ki Alim, bin

Ki Abdullah, bin

Ki Ibrahim, bin

Syaikh Hasan Basri, bin

Raden ayu Fatimah, binti

Raden Wiranegara ( Syaikh Ciliwulung), bin

Raden Arya Wangsakara, bin

Pangeran Wiraraja, bin

Prabu Geusan Ulun, bin

Pangeran Soleh, bin

Pangeran Muhammad Pamelakaran, bin

Pangeran Abdurahman Panjunan, bin

Syaikh Dzatuk Kahfi, bin

Syaikh Dzatuk Ahmad, bin

Syaikh Dzatuk Isa, bin

Syaikh Sayyid Abdul Qodir Kailani, bin

Sayyid Junaid, bin

Sayyid Abdul Qodir, bin

Sayyid Syu’aib, bin

Sayyid Abdul Jabbar, bin

Sayyid Abdul Rozaq, bin

Sayyid Abdul Aziz, bin

Sayyid Ahmad, bin

Sayyid Sholih, bin

Syaikh Sayyid Abdul Qodir Jaelani, bin

Sayyid Janki Dausat, bin

Sayyid Abdulloh, bin

Sayyid Yahya Azzahid, bin

Sayyid Muhammad, bin

Sayyid Daud, bin

Sayyid Musa al-Tsani, bin

Sayyid Abdullah al-Tsani, bin

Sayyid Musa al-Jun, bin

Sayyid Abdullah al-Kamil, bin

Sayyid Hasan al-Mutsanna, bin

Sayyid Hasan al-Mujtaba, bin

Sayyidah Fatimah Az-Zahra, binti

Sayidina Muhammad Rosulillah S.a w

Silsilah di atas jalur dari ibunya yakni Ibu Hj. Syu’arah, sementara dari jalur ayahnya tersambung ke Pangeran Jayakarta Wijayakrama, penguasa Jakarta dulu di abad 17 masehi.

Pendidikan

Imaduddin Usman tercatat sebagai siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kresek III, dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Kresek, kemudian belajar di Madrasah Aliyah (MA) Ashhabul Maimanah di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang.

Ia Lalu melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang (sekarang UIN Banten, Sarjana Agama) serta Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ), Jakarta dan memperoleh gelar Magister Agama.

Sanad Ilmu dan Agama

Sebagai pengelana dan penuntut ilmu, KH. Imadudin Usman tidak berhenti pada satu guru semata, namun pada banyak guru. Artinya ia cukup lama menuntut ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Kelana ilmu dari ujung Banten hingga ujung Jawa Barat, dari Jawa hingga ke Mesir. Berpuluh ulama, yang ia timba ilmunya hingga telah mengantarkan Imadudin Usman menjadi ulama yang punya potensi besar melanjutkan tradisi keilmuan para sesepuh ulama besar yang mendahuluinya.

Terkait dengan kelana ilmunya, KH. Imadudin Usman menjelaskan dalam tarjamatu al- muallif sebagai berikut.

اخذ العلم من افاضل علماء زمانه الشيخ محمد شنواني بن عبد العزيز البنتني و الشيخ سنجا بن كسمين البنتني والشيخ مفتي اسنوي البنتني والشيخ حصوري بن طاهر البنتني و الشيخ محمد دمياطي بن محمد امين البنتني والشيخ احمد بسطامي بن جاسوتا البنتني والشيخ رافع الدين البنتني والشيخ حسن بصري الكراوني و الشيخ رشدي البنتني و الشيخ صلاح الدين الكلووني والشيخ محمد بن ابراهيم بن عبد الباعث الكتاني الاسكندري وغيرهم رضي الله عنهم

Kiai Imadudin Usman telah memperoleh ilmu dari ulama yang utama di zamannya yaitu KH. Syanwani  bin Abdul Aziz, dari KH. Sanja bin Kasmin, dari KH. Mufti Asnawi, dari KH. TB. Hasuri bin Tohir, dari KH. Muhammad Dimyathi bin Amin, dari KH. Bustomi bin Jasuta, dari KH. Rafiudin, dari KH. Rusdi, semuanya dari Banten, dan dari KH. Hasan Basri Karawang Jawa Barat, dari KH. Solahudin Kaliwungu, dan dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Ba’its al-Kattani al-Iskandari Mesir.

Guru-gurunya ini jika dilihat dari ketersambungan sanadnya adalah cucu murid dari Syaikh al-Alim al-Allamah al-Arif Billah al-Zahid al-Hafidz Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, seperti KH. Syanwani murid dari Abuya Siddiq Combong Baros, dan Abuya Siddiq murid dari Syaikh Nawawi al-Bantani.

Dengan demikian, KH. Imadudin Usman adalah cicit murid dari Syaikh Nawawi al-Bantani, bukan cicit secara nasab biologis. Sanad ilmu dan agama ini diperoleh dengan rihlah dan mujahadah dari kiai-kiai yang berasal dari Serang Banten, Tangerang, Kerawang, Magelang dan Mesir.

Karya Ilmiah

Meski usia masih terbilang muda, KH Imaduddin Utsman al-Bantani banyak menulis dengan menggunakan Bahasa Arab, sedikit yang berbahasa Indonesia, dan diantaranya ada yang berbahasa Jawa Banten. Saya mencatat karya-karya KH. Imadudin Usman, berikut ini.

1- Kitab “Al-Fikrah al-Nahdliyyah fi Ushuli wa Furu’I ahl al Sunnah wa al Jama’ah,” (Bahasa Arab: Fikih, Akidah dan ke-NU-an).

2- Kitab “Al-Syarah al-Maimun fi Syarh al-Jawhar al-Maknun,” (Bahasa Arab: Ilmu Balaghah).

3- Kitab “Al-Ibanah fi Syarh Matan al-Rahbiyah,” (Bahasa Arab: Ilmu Waris).

4- Kitab “Al-Jalaliyah fi al-Qawaid al-Fiqhiyyah,” (Bahasa Arab: Kaidah-Kaidah Fikih).

5- Kitab “Talkhis al-Hushul fi Syarh Nadzom al-Waraqat fi Ilm al-Ushul,” (Bahasa Arab: Ushul Fikih).

6- Kitab “Al-Fath al-Munir fi Syarh Nadzam al-Tafsir li al-Syaikh al-Zamzami,” (Bahasa Arab: Ilmu Tafsir).

7- Kitab “Nihayat al-Maqshud fi Syarh Nadzom al-Maqsud,” (Bahasa Arab: Ilmu Shorof).

8- Kitab “Al-Anwar al-Bantaniyah fi Ikhtilaf Ulama al Basrah wa al-Kufah,” (Bahasa Arab: Ilmu Nahwu).

9- Kitab “Al-Burhan ila Tajwid al-Qur’an,” (Bahasa Arab: Ilmu Tajwid).

– Kitab “Al-Ta’aruf lil Mubtadi’in li suluk al-Tasawwuf,” (Bahasa Arab: Ilmu Tasawuf )

Diantara yang paling dikenal adalah kitab al-Fikrah al-Nahdliyah yang ditashnif 4 tahun lalu. KH. Imaduddin Usman ini adalah sosok ulama yang produktif menulis karya-karya ilmiah, dan kita menyebutnya sebagai penerus sanad ta’lif dan tashnif dari Syaikh Nawawi al-Bantani, Sang Kitab Kuning Nusantara. Kita tentu berharap ada banyak Kiai Imadudin Usman berikutnya.

Penulis : Hamdan Suhaemi

Wakil Ketua PW GP Ansor Banten, Ketua PW Rijalul Ansor Banten, Idaroh Wustho Jatman Banten, Anggota FKUB Provinsi Banten

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy