Islam Lebih Mungkin Alami Diskriminasi Dibanding Agama Lain di Amerika

0
20
Islam Lebih Mungkin Alami Diskriminasi Dibanding Agama Lain di Amerika
Islam Lebih Mungkin Alami Diskriminasi Dibanding Agama Lain di Amerika

Ibadah.co.id – Umat Islam lebih mungkin mengalami diskriminasi dibandingkan umat agama lain di Amerika Serikat. Hal ini disampaikan oleh Institute for Social Policy and Understanding. Hal ini menunjukkan bahwa islamofobia masih menjadi momok bagi dunia.

Seperti dilansir republika.co.id pada 07/10/20, seorang Muslim, Qasim Rashid yang telah menyelesaikan magang di sebuah firma hukum ketenagakerjaan di Virgina 10 tahun lalu, dia akan ditawari posisi pengacara penuh waktu. Namun, dengan satu syarat, asalkan dia mengurangi berkoar tentang Islamofobia. 

Sekarang Rashid menjadi calon Demokrat untuk Distrik Kongres Pertama Virgina. Dia mengatakan insiden itu terjadi pada 2010 di tengah kontroversi Masjid Ground Zero, inisiatif “Hari Membakar Alquran”, dan upaya pengeboman Times Square.

 “Saya blak-blakan tentang keyakinan saya untuk mengatakan, ‘hei kami juga manusia,’. Tampaknya itu membuat beberapa orang tidak nyaman,” kata Rashid yang menyuarakan keprihatinannya di sosial media tentang meningkatnya sentimen anti-Islam, dilansir dari Deseret, Selasa (6/10). 

Menurut laporan baru, pengalaman Rashid menunjukkan diskriminasi kelembagaan yang dihadapi banyak Muslim Amerika Serikat. Data dari Institute for Social Policy and Understanding menunjukkan Muslim lebih mungkin mengalami diskriminasi agama dibandingkan kelompok agama lain, baik dalam pengaturan kelembagaan maupun antar pribadi. 

Survei tersebut mencatat Muslim menghadapi tingkat diskriminasi dalam lembaga lebih tinggi dibandingkan dengan rekan-rekan Yahudi. Di bandara, hampir setengah Muslim (44 persen) mengatakan mereka menghadapi diskriminasi. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan yang dialami oleh orang Yahudi (2 persen) dan kelompok agama lain (5 persen). 

Muslim Amerika Serikat juga menghadapi tingkat diskriminasi yang lebih tinggi saat melamar pekerjaan sebanyak 33 persen Muslim, 5 persen Yahudi, dan 8 persen dari kelompok agama lain.

Sedangkan dalam interaksi dengan penegak hukum ada 31 persen Muslim, 2 persen Yahudi, dan 8 persen agama lain. Bahkan ketika menerima layanan perawatan kesehatan pun mengalami diksriminasi, 25 persen Muslim dan 5 persen Yahudi. “Diskriminasi tidak selalu seseorang yang memakai hoodie KKK meneriakkan ejekan kepada Anda, itu bisa jauh lebih halus dan menyeramkan,” ujar Rashid. 

Temuan penelitian institut itu adalah bagian dari jajak pendapat tahunan kelima komunitas agama Amerika Serikat yang mensurvei 2.157 orang Amerika Serikat. Mereka terdiri dari Muslim, Yahudi, Katolik, Protestan, Evangelikal kulit putih, atau tidak terafiliasi. 

Menurut Direktur Riset lembaga tersebut, Dalia Mogahed, salah satu tujuan penelitian ini agar memberikan wawasan kepada komunitas Muslim dan pembuat kebijakan. Sehingga mereka dapat mengidentifikasi masalah dan secara efektif mengalokasikan sumber daya untuk memerangi diskriminasi sentimen anti-Muslim. 

Lebih lanjut, Mogahed menjelaskan diskriminasi institusional disebabkan dari dua hal. Pertama, kebijakan rasis yang melekat atau dari orang yang menjalankan kebijakan netral dengan cara bias rasial. 

“Dalam beberapa kasus, bias implisit dapat menjadi manifestasi sebagai Islamofobia institusional. Sementara dalam kasus lain, ‘kekuatan struktural’ ikut andil dalam menargetkan kelompok tertentu,” jelas dia. Setelah serangan 11 September atau serangan 9/11, ‘kekuatan struktural’ tersebut muncul dalam bentuk kebijakan federal yang luas. Seperti Patriot Act, Program Pengawasan Muslim Departemen Kepolisian New York, dan Sistem Pendaftaran Masuk-Keluar Keamanan Nasional federal.

Sistem “pendaftaran khusus” mewajibkan semua pria berusia 16 tahun atau lebih dari 25 negara untuk mendaftar setiap kali mereka masuk dan keluar AS. Prosesnya termasuk pengambilan sidik jari, foto, memberikan informasi keuangan pribadi, dan menginterogasi orang tentang tujuan masuk dan sifat perjalanan mereka ke luar negeri.

Sementara “pendaftaran khusus” tidak secara eksplisit menargetkan kelompok agama tertentu. Menurut penelitian tentang dampak program yang dihentikan di bawah pemerintahan Obama, hal itu memengaruhi orang Arab dan Muslim

Asisten Profesor Pediatri di Universitas Thomas Jefferson, Adil Solaiman menjuluki sistem pendaftaran tersebut sebagai “larangan Muslim asli”. Ketika program era Bush diperkenalkan, Solaiman adalah seorang siswa sekolah berasrama yang berusia 16 tahun di Cate School, di luar Santa Barbara, California. Kala itu, dia tinggal di Arab Saudi, sehingga setiap tahun bulak-balik AS dan Arab Saudi.

Dia mengingat ada sekitar tiga kali setahun dia diinterogasi tentang pertanyaan khusus yang berlangsung lebih dari empat jam. Kini, Solaiman telah menjadi warga negara AS. Dia mengatakan pengalaman tersebut masih menginformasikan bagaimana dia bepergian.

“Saya akan selalu mengenakan kemeja yang bagus dan membawa lencana rumah sakit ketika saya terbang. Sehingga saya tampil lebih profesional saat sampai di meja imigrasi,” ujar dia.

Penelitian menunjukkan ketika orang-orang “diperlakukan secara kronis dan berbeda, tidak adil atau buruk”, hal itu dapat menyebabkan berbagai hasil kesehatan yang negative. Termasuk harga diri yang rendah dan risiko yang lebih tinggi untu kondisi stres seperti kecemasan dan depresi.

Organisasi advokasi Muslim, seperti Muslim Advocates, MPower Change, Justice for Muslim Collective, dan Council on American Islamic-Relation telah bekerja untuk memerangi berbagai bentuk diskriminasi agama selama bertahun-tahun. Baik melalui pembangunan komunitas hingga advokasi hak-hak sipil dan keterlibatan sipil.

Kelompok-kelompok pembenci dan wacana anti-Muslim yang gigih telah sangat berhasil dalam membingkai Muslim sebagai orang asing yang permanen. Direktur advokasi publik di Muslim Advocates, Scott Simpson mengatakan gagasan tersebut merambat ke dalam pembuatan kebijakan yang diskriminatif, penegakan hukum, sikap terhadap Muslim dan hampir semuanya.

Muslim Advocates adalah organisasi hak-hak sipil nasional yang bekerja untuk melawan fanatisme anti-Muslim dengan tujuan memberikan konsekuensi pada diskriminasi agama di setiap tingkatan.

Seperti meminta Joy Reid untuk meminta maaf atas retorika Islamofobia, menamai dan mempermalukan Hotel Hyatt karena menyelenggarakan konferensi anti-Muslim, atau mengajukan keluhan kepada Equal Employment Opportunity Commission ketika Amazon menolak memberikan waktu istirahat sholat kepada karyawannya. Organisasi tersebut mendorong umat Islam untuk melaporkan kasus diskriminasi di laman resminya.

Simpson mengatakan sentimen anti-Muslim adalah hal biasa di kedua partai politik dengan beberapa diskriminasi yang paling mencolok datang dari individu dan institusi. Di sisi lain, ada beberapa konservatif yang benar-benar mengerti karena mereka memahami bahwa agama itu suci, meskipun itu bukan agama mereka.  “Kenyataannya adalah hanya ada sebagian kecil dari populasi yang sangat anti-Muslim dan kemudian ada orang lain, yang lebih suka tidak menghadapinya. Kami membutuhkan semua orang untuk berbicara,” jelas dia. (RB)