Lima Aktivis Sayap Kanan Diusir Karena Ingin Bakar Qur’an

0
6
Lima Aktivis Sayap Kanan Diusir Karena Ingin Bakar Qur’an
Lima Aktivis Sayap Kanan Diusir Karena Ingin Bakar Qur’an

Ibadah.co.id – Lima Aktivis sayap kanan diusir oleh pemerintah Belgia karena ingin membakar al-Qur’an. Hal ini jelas akan mendatangkan problem di tengah masyarakat apabila pembakaran Qur’an itu terjadi.

Seperti dilansir republika.co.id pada 13/11/20, pemerintah Belgia telah mengusir lima aktivis sayap kanan Denmark dan melarang mereka mengunjungi negaranya selama satu tahun. Mereka diketahui memiliki rencana hendak membakar Alquran di daerah yang sebagian besarnya Muslim di Brussel.

Menteri Luar Negeri untuk Suaka, Sammy Mahdi, menyebut kelompok tersebut sebagai ancaman serius bagi ketertiban umum. Mereka juga diketahui adalah rekan dari politisi sayap kanan Denmark, Rasmus Paludan. 

Paludan diusir dari Prancis pada Rabu (11/11) setelah mengutarakan niatnya untuk membakar Alquran di Paris. Paludan pada awal tahun ini, juga dipenjara selama sebulan di Denmark karena serangkaian pelanggaran termasuk memunggah video anti-Islam di saluran media sosial partai Stram Kurs.

Kepolisian Belgia mencurigai kelima orang itu berencana membakar Alquran di distrik Molenbeek-Saint-Jean di Brussel. Daerah itu merupakan wilayah pemukiman komunitas Maroko yang besar.

Mereka diinterogasi polisi yang kemudian meneruskan kasus tersebut ke kantor kejaksaan, kata sebuah sumber kepada kantor berita AFP. 

Mr Mahdi menyambut baik penangkapan dan pengusiran terhadap lima orang tersebut. Karena apabila tidak segera dilakukan pengusiran menurutnya, lima orang tersebut bisa menyebabkan ancaman serius bagi ketertiban umum di Belgia. 

“Penundaan (pengusiran) ditolak karena orang-orang ini merupakan ancaman serius bagi ketertiban umum di Belgia,” kata Mahdi dilansir dari BBC, Jumat (13/11). 

Dalam sebuah posting di Facebook pada 30 Oktober, Paludan mengatakan dia telah memberi tahu konsulat Prancis di Kopenhagen bahwa dia akan membakar Alquran di Arc de Triomphe di Paris pada 11 November. Paludan diduga, telah diamanakan di Prancis. 

“Dalam masyarakat kami, yang sudah sangat terpolarisasi, kami tidak membutuhkan orang yang datang untuk menyebarkan kebencian,” kata Mahdi. Pada Agustus, pendukung Paludan di kota Malmo di Swedia selatan melakukan unjuk rasa dengan membakar Alquran, memicu protes dan melakukan bentrokan dengan polisi. (RB)