Ucapan Duka Cita Presiden Jokowi Atas Wafatnya Sultan Oman
Ibadah.co.id – Sultan Oman Qaboos bin Said Al Said meninggal pada usia 79 tahun, demikian laporan dari media pemerintah. Desember lalu, dia dilaporkan pulang setelah menjalani perawatan di Belgia, dengan dugaan dia menderita kanker.
Sultan Oman Qaboos bin Said Al Said meninggal pada Jumat petang (10/1/2020), dengan masa berkabung selama tiga hari diumumkan.
Seperti dilansir setkab.co.id kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan ucapan dukacita atas wafatnya Sultan Oman, Qaboos bin Said, yang meninggal dunia pada usia 79 tahun, di Muscat, Oman, Jumat (10/1) waktu setempat.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Atas nama masyarakat Indonesia, saya menyampaikan duka cita yang dalam kepada rakyat Oman, atas wafatnya Sultan Qaboos bin Said,” tulis Presiden Jokowi melalui akun twitternya @jokowi beberapa saat lalu.
Menurut Presiden, semasa hidupnya, Sultan Qaboos adalah pemimpin yang visioner, yang membawa Oman menjadi negara modern dan damai. Sultan Qaboos berkuasa di Oman setelah melengserkan ayahnya, Said bin Taimur, melalui kudeta yang didukung Inggris pada 1970.
Ia tidak punya anak dan tidak menunjuk secara terbuka calon penerusnya setelah dia meninggal. Namun Dewan Keluarga atas desakan Dewan Militer telah menunjuk sepupu almarhum, Haitham bin Tariq, Menteri Warisan dan Budaya Oman sebagai penggantinya.
Sang sultan berkuasa selama 50 tahun, menjadikannya pemimpin dengan masa jabatan terlama di dunia Arab modern. Sultan Qaboos mengubah Oman tak hanya menjadi negara maju. Namun, diperhitungkan dalam geopolitik kawasan Timur Tengah. Menganut prinsip netral dalam politik luar negeri, negaranya sering diminta menjadi mediator negara yang berkonflik di Timur Tengah.
Salah satunya, seperti dilansir BBC, adalah memfasilitasi pertemuan rahasia antara AS dan Iran pada 2013, yang berbuah perjanjian nuklir dua tahun kemudian. Sultan Oman itu dipandang sebagai sosok visioner dan kharismatik. Namun, dia tidak segan membungkam orang yang kontra dengan dirinya.
Seperti yang terjadi pada Arab Springs 2011, yang merambat ke Oman dengan ribuan orang turun ke jalan menuntut berakhirnya korupsi hingga kenaikan gaji. Dia merespons tuntutan tersebut dengan memecat pejabat yang terindikasi korupsi, menjanjikan lebih banyak lapangan kerja, hingga memperluas wewenang Dewan Konsultasi. (RB)