RMI NU Catat Lebih Dari 70 Pesantren Terpapar Covid

0
16
RMI NU Catat Lebih Dari 70 Pesantren Terpapar Covid
RMI NU Catat Lebih Dari 70 Pesantren Terpapar Covid

Ibadah.co.id – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) mencatat lebih dari 70 pondok pesantren sudah terpapar virus Covid-19. Hal ini perlu menjadi evaluasi dan perlu peningkatan kewaspadaan bagi setiap pengurus pesantren.

Seperti dilansir republika.co.id pada 22/10/20, Ketua Umum Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), KH Abdul Ghaffar Rozin menilai para santri dan pondok pesantren harus bisa memanfaatkan momentum Hari Santri Nasional (HSN) untuk mengambil peran penting dalam berbagai hal. Di antaranya terus menjaga dan berkontribusi dalam arus pemikiran serta praktik-praktik keberagamaan yang inklusif dan toleran.

“Bagi santri terus mengaji, teruskan belajar, mengawal tradisi santri tanpa ada yang dikurangi tetapi tetap dengan protokol kesehatan. Misal belum memungkinkan mengaji dan belajar di pesantren secara offline, ya lakukan secara online, karena sesungguhnya pengajian online dan offline sama-sama berkahnya dan sama-sama bermanfaatnya,” kata Gus Rozin kepada Republika,co.id pada Kamis (22/10).

Lebih lanjut Gus Rozin berharap agar para santri dan ulama tetap menjaga  ruh pesantren. Menurutnya, selain mengajarkan tentang iman dan akhlak, pesantren juga mengajarkan cinta tanah air. Karena itu, kata dia, santri harus berperan untuk membentuk karakter bangsa.

Guz Rozin juga meminta agar pesantren dan para santri turut berpartisipasi aktif dalam bergotong royong melawan Covid-19. Gus Rozin mengingatkan bahwa Covid-19 benar-benar ada dan telah juga mengancam pesantren.

Sejauh ini berdarsarkan catatan RMI NU ada lebih dari 70 pesantren yang terpapar Covid-19. Karena itu, menurutnya perlu gotong royong dan keseriusan untuk menjaga pesantren dari ancaman Covid-19.

Guz Rozim mengakui pada kenyataan masih terdapat banyak pesantren yang belum secara penuh bisa beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh yang harus diterapkan akibat pandemi. Namun hal itu mendorong ponpes untuk bisa menggunakan berbagai platform digital dalam membantu proses belajar mengajar. “Saya kira platform teknologi yang saat ini ada sudah tidak asing lagi bagi Pesantren. Tetapi itu masih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pengenalan teknologi di pesantren untuk masa-masa yang akan datang,” katanya. (RB)