Upaya Deradikalisasi dengan 3T ala Santri

0
20
Upaya Deradikalisasi dengan 3T ala Santri
Upaya Deradikalisasi dengan 3T ala Santri

Ibadah.co.idRadikalisme merupakan hal yang tak pernah habis dibicarakan. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Radikalisme adalah sikap ekstrem dalam aliran politik, namun belakangan ini istilah radikalisme lebih sering dikaitkan kepada perilaku ekstrem dalam beragama, khusunya agama Islam. Berbagai kasus terorisme yang mengatasnamakan agama membuat istilah radikalisme semakin melekat terhadap Islam.

Kaum radikalis dalam menyebarkan  ideologinya cenderung menggunakan jalan kekerasan yang tidak sesuai dengan jati diri Islam sendiri. Padahal telah dijelaskan dalam al-Quran surat al-Anbiya ayat 107 yang artinya “Dan tidaklah Kami menciptakan engkau Muhammad melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam”.

Coba deh, kita lihat sejarah dan faktanya, Indonesia merupakan negara dengan kaum Muslim terbanyak di dunia, namun pedang pasukan mana yang dihunuskan di Indonesia? Tidak ada, bukan? Islam masuk dan berkembang dengan jalan damai.  

Namun, hari ini kelompok radikalis dan ekstrimis banyak berkeliaran, khususnya di Indonesia. Hal ini tentu sangat membahayakan keutuhan bangsa dan negara kita. Oleh karena itu, kasus radikalisme tidak boleh dibiarkan, harus ada upaya deradikalisasi. Apa itu deradikalisasi? Deradikalisasi adalah suatu upaya untuk menetralisir paham-paham radikal. Upaya semacam ini bisa dilakukan oleh siapa saja, salah satu elemen yang paling tepat adalah pesantren dan santri.

Lembaga Pendidikan memegang peranan penting karena pendidikan akan membentuk karakter sesorang. Pendidikan yang kurang tepat bisa jadi faktor tumbuhnya radikalisme dan ekstremisme. Sangat bahaya, bukan? Untuk itu, Pesantren hadir menjadi solusi, di Lembaga Pendidikan Pesantren, santri akan mendapat pengawasan selama 24 jam, jadi akan sangat mustahil jika mereka sampai terpapar paham radikalisme.

Lingkungan juga menjadi bagian penting dalam proses tumbuhnya sikap radikalisme. Menyikapi hal ini, lagi-lagi pesantren mampu menjadi jawaban, lingkungan pesantren adalah lingkungan yang penuh aura kedamaian, sehingga seorang santri akan menjadi pribadi luhur cerminan dari Islam rahmatan lil ‘alamin.

Selain itu, radikalisme juga bisa muncul dari faktor internal, yaitu dangkalnya pemahaman terhadap agama yang akan menjadikan orang tersebut mudah disusupi paham radikal serta cenderung fanatik dengan paham agama yang ia pegang. Melihat permasalahan tersebut, perlu adanya penanaman sikap untuk mencegah terpaparnya  radikalisme. Lagi dan lagi, jawabannya ada di tangan santri.

Melalui didikan para kiai di pesantren, santri mampu mempunyai karakter positif yang akan selalu menjadi landasan setiap sikap dan tidakannya. Salah satu akhlak yang ada dalam diri santri yaitu sikap 3T: tasamuh, tawazun, dan tawassuth. Dengan begitu, tidak dapat diragukan lagi peran santri dalam menjawab segala tantangan zaman, lebih-lebih dalam masalah menangkal radikalisme.

Tasamuh secara bahasa mempunyai arti toleransi. Cerminan toleransi dalam diri santri bisa dilihat dari kehidupan mereka yang selalu berkumpul dengan orang-orang yang berbeda dari seantero negeri tapi tidak pernah ada perpecahan, bahkan mereka sangat enjoy ketika bisa mengenal perbedaan satu sama lain.

Tawazun adalah seimbang, artinya dalam segala hal seorang santri selalu memegang prinsip keseimbangan, sebagaimana mereka bersikap seimbang antara penggunaan dalil aqli dan naqli, seimbang dalam melaksankan hak dan kewajiban mereka terhadap tuhan maupun kepada sesama makhluk, dan lain sebagainya.

Tawassuth bermakna tengah-tengah. Seorang santri akan selalu mengambil posisi di tengah, tidak cenderung ke kiri ataupun ke kanan, tidak fanatik dan tidak terlalu longgar. Sikap yang dimiliki santri inilah yang mampu menjadi pegangan untuk menjauhkan diri dari paham radikalisme.

Sampai sini bisa kita simpulkan bahwa pesantren dan santri adalah generasi emas yang bisa diandalkan dalam menjaga keutuhan agama dan negara, dengan sikap tasamuh, tawazun, dan tawassuth yang dimilikinya, santri akan menjadi garda terdepan dari proses deradikalisasi.

Oleh: D. Indah Syifana – UIN Sunan Ampel Surabaya

Baca juga: Vaksinasi Virus Radikalisme ala Pesantren