Hidayah Allah Setiap Detik, Hambah Enggan Mengambil
Ibadah.co.id Hidayah atau petunjuk Allah kepada hamba-Nya. Sebab, manusia tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Dua tindakan tersebut butuh pentunjuk sebagai bentuk jalan yang terang.
Menurut salah satu guru di Pesantran Nasa Gapura, Bapak Adnan ibaratkan hidayah itu sebagai mata batin, yaitu penglihatan yang tidak mungkin berbohong dan dibohongi. Sementara, seseorang berada di jalan yang yang suram. Maka, ia bisa berjalan dengan sempurna menuju tujuan tertentu, maka perlu yang namanya mata batin. Mata batin di sinilah dikatakan hidayah.
Terkadang hidayah Huhan kepada manusia tak terhingga. Namun, hamba banyak menghiraukan dan menyepelakan. Seolah hidayah hanya berbentuk fiktif atau abstrak. Sementara dipikiran manusia telah didominasi sesuatu yang kongkrit dan jelas di depan mata.
Jika kita jeli untuk berpikir, hidayah Allah berbentuk nyata dan jelas dirasakan bukan berbentuk secara materi. Misalnya, seorang hamba memohon kepada Tuhan untuk diberikan hidayah atau petunjuk jalan dalam menentukan sesuatu. Maka, Allah mengabulkan permohonannya lewat mimpi. Itulah jalan hidayah Allah yang dapat dirasakan kenyatannya.
Tanpa berdoa pun, hidayah Allah selalu diberikan kepada manusia setiap waktu. Hanya saja, banyak manusia menghiraukan dan menyepelakan hal tersebut karena belum ada kejelesan secara materialis.
“Hidayah Allah diberikan kepada mansia setiap detik. Namun, manusia tidak sadar dan tidak mengambil untuk diterapkan dalam kehidupannya,” kata Pak Adnan, Guru Madrasah Diniyah Nasya’atul Muta’allimin Gapura Timur (11/03).
Menurut dia, manusia hanya butuh sesuatu jika dalam keadaan mepet atau dibutuhkan sangat, manusia menyadari bahwa hidayah sangat penting. Bahkan ia rela memohon dan beribadah di waktu istijabah agar Tuhan memberikan hidayah-Nya. Namun, yang menjadi titik penting adalah kesadaran manusia pada hidayah Allah yang diberikan, yaitu setiap detik waktu.
Pak Adnan menegaskan, hidayah Allah dapat menyerupai sesuatu sesuai kondisi tertentu. Namun, hati manusia sudah tertutupi sehingga hidayah Allah tidak masuk ke alam sadar manusia.
“Misalnya, ada seorang hamba kaya raya. Lalu ada seorang pengemis yang meminta. Jika orang kaya tersebut tidak sadar kepada hidayah, bahwa Allah meminta hak kekayaan yang dititip kepadanya lewat pengemis tersebut lewat pengemis. Maka, Allah mencabut kekayaannya dan menyerupakan dia sebagai pengemis,” tegasnya saat mengisi kajian kitab Fathul Qorib di depan kantor Madrasah Diniah Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur. (HN/Kontributor)