Ibadah.co.id-Meskipun guru sudah tiada secara jasad, namun ilmunya tetap bermanfaat dan mendapatkan pahala di alam kubur. K. Mawi, seorang guru dengan suka rela dan penuh keikhlasan untuk mengabdi di pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur.
Beliau mengajarkan para santri dan tetangganya saat itu penuh dengan keikhlasan mengharap ridha Allah dan serta dorongan dari Alm. KH. Zubairi Marzuki, Pendiri Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur, Gapura, Sumenep, Jawa Timur.
Belum lagi di masa modern saat ini, dulu Alm. K. Mawi menggunakan sistem metode nomaden (berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya) untuk mengajari para santri dan tetangga pesantren.
Beliau mengajar di Madrasah Ibtidaiyah kelas 5. Hal ini atas perintah langsung oleh Alm. KH. Zubairi Marzuki, “Minta tolong bentowagi Nasymut (Minta tolong bantu Nasymut),” begitulah dawuh pendiri Nasy’atul Muta’allimin kepada beliau.
Di saat beliau menjadi guru dengan situasi lembaga baru berdiri dan para guru sedikit, akhirnya beliau memegang materi yang sangat banyak, di antaranya: Tauhid, Fiqih, Al-Quran, Akhlak, dan Bahasa Indonesia.
Meskipun sosok beliau sudah tiada. Namun, ilmu yang diajarkan kepada santrinya terus mengalir seperti air tanpa berujung. Banyak para santri merasakan ilmu yang mereka terima di bangku sekolah sehingga mereka amalkan di lembaga-lembaga madrasah lainnya dengan nasab kepada Alm. K. Mawi. (HN/Kontributor)
Sumber: Jurnal Imtihan Nasy’atul Muta’allimin