Pandemi Bukan Penghalang Melakukan Tradisi Haul Warga NU

0
79

Ibadah.co.id-Haul merupakan salah satu tradisi warga NU yang tak pernah punah. Acara ini tak lain adalah cara kirim doa bagi orang yang hidup kepada yang sudah meninggal.

Ada sebagian yang menganggap tradisi ini sebagai tradisi yang sesat, ada juga yang mengatakan bahwa acara haul atau tahlilan doanya tidak akan sampai kepada si mayat. Lantas mengapa ada kewajiban untuk mensalati mayit? Bukankah dalam solat berisi doa-doa yang ditujukan kepada si mayit?

Dalam NU, tradisi ini berjalan saat ada yang meninggal. Mereka akan melakukan acara tahlilan yang tak lain kirim doa selama tujuh hari berturut-turut. Tahlilan ini juga dilakukan di hari ke empat puluh harinya, seratus harinya, dan seribu hari si mayat.

Di masa pandemi ini, ada beberapa tradisi yang melibatkan orang banyak harus dihentikan dengan paksa. Seperti halnya; muslimatan, jamaah di masjid, majelis dibaiyah, majelis hadrah, dan lain sebagainya. Bukan untuk memunahkan tradisi, akan tetapi untuk memutus mata rantai covid-19.

Sebagaimana halnya haul KH. Ma’shum Al-Mubarok (pendiri dan pengasuh pondok pesantren Darul Ulum Karangpandan, Rejoso, Pasuruan) yang ke-35, haul beliau dilaksanakan dengan media online live by youtube hari Rabu, 13 Mei 2020 jam 16.30 WIB tadi sore. Hal ini berdasarkan karena peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam upaya memberantas virus corona yang hingga kini korbannya semakin banyak. (HN/Kontributor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here