Take a fresh look at your lifestyle.

Menghadapi Cobaan Alam

0 201

Ibadah.co.id – Ketenangan merupakan salah satu kunci bagi seorang hamba dalam menghadapi segala cobaan di dunia. Tak satupun manusia yang luput dari cobaan yang diberikan oleh Allah SWT.

Seperti yang disampaikan oleh Al-Faraj Ba’dasy Syiddah dalam kitabnya yakni At-Tanukhi, bahwa disetiap puncak kesulitan itu sesungguhnya ada jalan keluarnya yang telah disediakan oleh Allah SWT. Dan yang dianjurkan kepada manusia adalah ketenangan dalam menghadapi cobaan tersebut.

Sebelum kehadiran manusia, seluruh coban itu nyatan sudah ada, dan semua akan berlalu. Seperti siksaan, dipenjarakan, dikucilkan, diancam, diasingkan, diusir, dicambuk, dimiskinkan, hingga disengsarakan. Semua hal itu sudah ada sebelum generasi kita.

Setelah adanya musibah, Allah akan mengirimkan pasukan untuk membawa kebahagiaan kepada siapaun yang hampir putus asa. Pasukan Allah ini membawa kabar berupa jalan keluar bagi setiap masalah yang sedang dihadapi oleh hambanya.

At-Tanukhi berkata kepada orang-orang yang sedang terkena musibah dan bencana, supaya tetap tenang. Sebab telah banyak hamb-hamba Allah yang sebelumnya menghadapi hal serupa. Hal ini sebagaimana telah Allah katakan di dalam Al-Qur’ar Surah Al-Ankabut ayat 3:

“Wa laqad fatanna alladzina min qablihim,”. Yang artinya: “Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka,”. Menurutnya, musibah atau ujian itu diberikan manusia membuktikan bahwa Allah SWT telah memberikan tindakan yang adil.

Allah SWT perlu menyeleksi hamba-hambaNya. Di samping itu juga, Allah mempunyai hak atas hambaNya untuk disembah pada saat-saat yang sulit, yang sama pada saat mudah. Syaikh Aidh al-Qarni dalam kitabnya La Tahzan menjabarkan, alasan lainnya Allah memberikan cobaan tersebut adalah untuk menggilir manusia dalam keadaan sebagaimana Dia menggilir siang dan malam.

Jika demikian kenyataannya, mengapa manusia harus tidak menerima dan membangkang? Beliau pun menuliskan sebuah syair dalam kitab tersebut:

Jika Kau perintahkan kepadaku: injaklah bara

Maka kukatakan: baiklah

Bara api itu untuk kedua mataMu yang nampak seperti permata

Seperti yang tertulis di halaman republikas.co.id, Ustaz Akmal Nasery Basral mengatakan, cobaan buruk nan berat dan juga teladan pernah dijalankan oleh ulama besar Indonesia, Buya Hamka. Ketika Buya Hamka ‘difitnah’ dengan tuduhan keji, beliau terpaksa mendekam di penjara selama 2,5 tahun kurungan.

Di dalam penjara, mental beliau diuji dengan cacian dari para petugas penjaga. Beliau dituduh komplotan Malaysia dan tidak mencintai NKRI. Tuduhan-tuduhan tak berdasar itu, menurutnya, lebih menyakitkan daripada kurungan berada di penjara sebagaimana yang beliau hadapi.

Namun begitu, Ustaz Akmal melanjutkan, Buya Hamka kembali berserah diri kepada Allah SWT. Bahwa segala apa yang ia hadapi saat ini hanyalah bagian dari ujian atas keimanan serta ketakwaannya. Di tengah keterbatasan itu, beliau pun mulai mengalihkan fokus pikirannya kepada hal yang lebih produktif dan positif.

Selama dalam masa tahanan, kata dia, beliau kembali menulis tafsir Alquran yang telah beliau rencanakan puluhan tahun silam. Tafsir itu pun berhasil rampung diselesaikan dan diberi nama Tafsir Al-Azhar.

“Buya Hamka bilang, 20 tahun saya berencana menulis tafsir ketika belum dipenjara tapi tak selesai. Tafsir itu rampung hanya kurun waktu dua tahun di penjara, inilah hikmah cobaan yang diberikan Allah,” ungkap Ustaz Akmal, saat ditemui Republika, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ustaz Akmal menjabarkan, bisa jadi apabila Buya Hamka tak masuk penjara, tafsir tersebut tak akan pernah beliau selesaikan. Hal itu sebab, Buya Hamka kurang memiliki waktu luang atas aktivitas padat yang dijalani sebagai ulama, tokoh Muhammadiyah, politisi, hingga penyair.(HN/Kontributor)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy