Ketenangan Nabi Muhammad SAW dalam Berdialog

Ketenangan Nabi Muhammad SAW Dalam Berdialog
Ketenangan Nabi Muhammad SAW Dalam Berdialog

Ibadah.co.id – Sebagai orang Muslim, kita diharuskan untuk menjaga ihsan kita. Di tengah adanya suatu perbedaan, terkadang sering terjadi perselisihan yang akan mengundang sebuah perdebatan, dan hal itu tak jarang akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, di era Nabi Muhammad pun masih terjadi perselisihan.

Seperti dalam firman Allah dijelaskan: “Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an Nahl: 125)

Dalam buku Semulia Akhlak Nabi, kita dapat memetik pelaran bagaimana Nabi Muhammad SAW berdialog. Seperti yang di ceritakan oleh Amru Khalid.

Saat kaum Muslimin masih menerima berbagai siksaan yang berat, kala itu Nabi Muhammad SAW masih tinggal di Makkah, Utbah bin Rabi’ah mendatangi Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW kala itu sedang diuji melalui kedatangan Utbah, Utbah kala itu merayu dan membujuk Nabi SAW untuk meninggalkan dakwahnya dengan iming-iming segelimang harti yang sangat banyak.

Bukan hanya harta, saat itu Utbah juga menawarkan kedudukan, istri dan juga tabib pribadi sebagai antisipasi agar beliau tidak mengidap penyakit jiwa. Hal itu Utbah lakukan semata-mata untuk menghentikan dakwah Nabi SAW.

“Aku akan mendengarkan apa yang kau katakan, wahai Abu al-Walid.” Kata Nabi SAW dengan tenang menjawab tawaran Utbah kala itu.

Nabi Muhammad SAW kembali angkat bicara setelah Utbah melanjutkan perkataannya. “Apakah engkau telah selesai dalam bicara, wahai Abu al-Walid?” dengan santun beliau SAW bertanya kepada Utbah.

Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh al-Hindi no 35428 dan as-Suyuthi dalam ad-Dur al-Manstsur V/358.

Tenang dan santunnya beliau SAW menghadapi lawan bicaranya dalam berbedat. Padahal, apa yang dikatakan Utbah bin Rabi’ah  saat itu adalah cercaan dan hinaan. Akan tetapi, lihatlah Nabi Saw yang mau mendengarkan semua apa yang Utbah katakan.

Apakah kita akan setenang itu jika dalam keadaan di posisi Beliau? Seringkali perdebatan dan perselisihan membuat seseorang tidak terkendali dalam emosinya. Mari kita teladani sifat Nabi yang ihsannya tetap terjaga dengan baik sekalipun dalam keadaan sedang berdebat.(HN/Kontributor)