Dialah Al-Amin, yang Dapat Dipercaya!

Dialah Al-Amin, yang Dapat Dipercaya!
Dialah Al-Amin, yang Dapat Dipercaya!

Ibadah.co.id – Sejak zaman Rasullah SAW, Ka’bah sudah direnovasi berkali-kali. Dalam buku Sirah Nabawiyah, Fir’adi Nasruddin Abu Ja’far menuliskan tentang bagaimana kisah Ka’bah direnovasi serta bagaimanan keputusan Nabi Muhammad SAW pada saat itu. Kemudian, dapat gelar Al-Amin.

Lima tahun sebelum beliau SAW diangkat menjadi nabi, banjir besar melanda kota Makkah. Air menggenang dan menghantam ka’bah hingga nyaris roboh dan rusak.

Atas rasa mengagungkan serta bentuk perhatian kaum Quraisy terhadap keberadaan Ka’bah yang sangat mulia, mereka sepakat untuk melakukan perenovasian terhadap bangunananya.

Orang-orang Quraisy memiliki kesepakatan untuk membangun Ka’bah, mereka tidak menggunakan bahan-bahan yang tidak baik, tidak menerima menerima pemasukan dana dari maskawin wanita pelacur, jual beli dengan sistem riba atau dari bentuk penyiksaan terhadap orang lain.

Ketika hendak membangun Ka’bah, mereka memilah beberapa batu yang sudah dianggap baik dari suatu tempat. Dengan sudut-sudut yang sudah ditentukan, dan mengkhususkan kabilah dengan bagiannya masing-masing.

Kala itu, arsitek Romawi yang memiliki nama Baqum yang menjadi pemandu dalam proses pembangunan. Saat sampai pada proses pemasangan Hajar Aswad, terjadi perselisihan, perbedaan pendapat tentang siapakah yang berhak mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad pada tempat semula.

Tak hanya memakan waktu yang sebentar, perselihan itu terjadi hingga empat sampai lima malam dan hal itu semakin memanas sampai-sampai meruncing hingga hampir membuat tragedi pertumpahan darah di tanah haram.

Hadir Abu Umayah bin al-Mughirah al-Makhzumy, ia membawa penawaran berupa jalan keluar yang cemerlang yang bisa membuat pertikaian itu reda.

Dengan cara meminta siapapun yang pertama masuk melewati pintu masjid, dialah orang yang akan menetukan bagaimana solusi dari masalah itu.

Tak banyak orang yang menyangka, orang yang pertama kali memasuki masjid itu adalah Nabi Muhammad SAW, takdir Allah SWT. Seketika, orang-orang yang ada di  lokasi saling berbisik da berkata “Dia al-Amin (yang dapat dipercaya), kami ridha terhadapnya.”

Setelah beliau memahami persoalan yang terjadi, maka beliau meminta sehelai kain lalu beliau meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah kain tersebut, kemudian beliau meminta kepada setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung-ujung kain tersebut.

Lalu Nabi SAW memerintahkan mereka untuk mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, beliau mengambil batu itu dan meletakkannya di tempat semula. Inilah cara pemecahan masalah yang sangat jitu dan diridhai  semua orang.(HN/Kontributor)