Gus Nadir Sarankan Agar Pelajaran Fikih Lebih Diperkaya

Gus Nadir Sarankan Agar Pelajaran Fikih Lebih Diperkaya
Gus Nadir Sarankan Agar Pelajaran Fikih Lebih Diperkaya

Ibadah.co.id – Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru, Prof Nadirsyah Hosen atau yang akrab dipanggil Gus Nadir menyarankan agar pelajaran fikih di pesantren lebih diperkaya. Hal ini salah satunya karena kebutuhan mendialogkan agama dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Seperti dilansir republika.co.id pada 3/5/21, Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru, Prof Nadirsyah Hosen, menegaskan pentingya Muslim untuk bangkit dari pandemi.
Nadirsyah mengajak semua pihak untuk mengintegrasikan agama dan sains sebagai cara untuk bangkit dari wabah serta memberi kontribusi penting bagi peradaban. Demikian pernyataan Nadirsyah dalam Pengajian Muslim Indonesia di Canberra Australia, Ahad (2/5).
Nadirsyah juga mengajak kalangan pesantren untuk mengharmoniskan fikih tradisional dengan standar medis dan klinis.
“Di tengah pandemi, saya beberapa kali menyampaikan ke beberapa pihak pesantren bahwa ukuran dua kulah itu suci, itu secara fikih benar. Tapi, apakah secara klinis itu higienis? Apakah itu suci secara klinis? Kan ini harus dikaji,” kata dia.
“Bisakah kita menggabungkan, sebagai respons atas pandemi, bahwa syarat secara fikih terpenuhi, tapi secara alam dan lingkungan higienis itu harus terpenuhi. Maka, orientasi pengajaran fikihnya itu diperkaya agar menyentuh bidang-bidang lain. Nah, contoh lainnya, kalau ada pas corona tahun lalu itu, yang kena Covid-19 itu adalah mereka yang tidak menjaga wudhunya, misalnya. Nah, ini kan kita repot, dibenturkan antara wudhu dan protokol kesehatan,” demikian jelas Nadirsyah, yang alumnus National University of Singapore dan University of Wollongong Australia itu.
“Padahal, wudhu itu untuk menyucikan dari hadas, bukan dari bakteri. Jadi, bahwa ada orang yang jaga wudhunya terus itu baik, secara fikih dan tasawuf itu baik. Nah, kan tidak cukup hanya itu, harus cuci tangan pakai sabun, setelah wudhu pakai hand sanitizer dan yang lain,” katanya menerangkan.
Nadirsyah mengajak kita semua untuk berubah di tengah pandemi, menjadi pribadi yang lebih baik. “Kalau pandemi ini tidak membuat kita berubah, jadi kacau balau. Justru, pandemi mengajari kita bahwa tidak semua hal harus kita benturkan, malah bisa kita rangkul dan perkaya untuk melengkapi keislaman kita.”
“Di tengah pandemi ini, yang membuat kita bertahan ini komunikasi, kita masih terus bisa survive. Kalau selama ini kita fokus hanya pada agama saja, kita umat Muslim Indonesia lupa mengantisipasi apa yang terjadi,” ungkap Nadirsyah.
Menurut Nadirsyah, diaspora Muslim Indonesia di berbagai belahan dunia harus berpikir, bergerak, selaligus berkontribusi untuk peradaban.
“Nah, kalau kita ingin menyalakan pelita, bagaimana kontribusi para cendekiawan Muslim, berpikirlah bagaimana menguasai akses. Ini yang harus kita pikirkan ke depan,” ujarnya menjelaskan dalam forum yang dimoderatori Sitta Rosdaniah ini.
Guru besar di Faculty of Law Monash University Australia itu menyampaikan pentingnya umat Islam untuk menganalisis pandemi dan mengambil pelajaran penting.
“Kesempatan besar sekarang ini, peradaban Barat juga kolaps akibat pandemi. Apa yang bisa kita berikan? Pendekatan tradisi pesantren, yakni al-muhafadzah ala al-qadimi as-shalih, kita bisa melihat ke belakang. Pada abad ke-14, ada pandemi bernama black death, wabah hitam. Pandemi itu sangat dahsyat dan mengubah wajah Eropa, juga mengubah eskalasi antara umat Muslim dan Nasrani,” kata penulis puluhan buku bidang hukum dan syariah itu
“Maka, kita bisa pelajari ini, mengapa Eropa berantakan menghadapi pandemi. Juga, negara-negara seperti Jepang dan India juga berantakan. Nah, ciri masyarakat yang lentur seperti Indonesia itu modal besar untuk masa depan,” ungkap putra dari pakar hukum Islam Kiai Ibrahim Hosen ini.
Pengajian Muslim Canberra yang diselenggarakan rutin ini dihadiri beberapa lulusan kampus-kampus Australia yang saat ini mengabdi di berbagai instansi. Di antaranya, Sitta Rosdaniah, Akmal Salim, Badrun Kurnia, Yon Machmudi, Sumardiyono Mardi, Farid Saenong, dan beberapa penggerak lain. (RB)