KH Hasyim Asyari, Sosok Teladan yang Ungkapkan Pemikiran Lewat Syair

0
22
Kiai Hasyim Asyari, Ungkapkan Pemikiran Lewat Syair
Kiai Hasyim Asyari, Ungkapkan Pemikiran Lewat Syair

Ibadah.co.id- Fenomena Islam yang kaku dan intoleran kini mulai muncul ke permukaan. Hal tersebutlah yang mendorong munculnya dakwah Islam yang berbau radikal dan ekstrem. Selain itu, di zaman sekarang, jika terdapat perbedaan, para tokoh menunjukkan ke publik, lalu para pengikutnya masuk ke dalam konflik perbedaan yang kemudian menimbulkan perdebatan.

Menghadapi fenomena tersebut, dalam Haul Virtual ke-1 Kiai Salahuddin Wahid, Gus Mus atau Kiai Musthafa Bisri mengungkapkan sosok Kiai Hasyim Asyari, Pendiri Nahdlatul Ulama sebagai teladan, dimana ketika berbeda pendapat dengan ulama lainnya, beliau menuangkan pemikirannya lewat syair. Hal tersebut dilakukan demi menjaga persatuan dan kesatuan, karena dengan syair, hanya orang-orang tertentu yang bisa memahaminya.

“Ini yang patut ditiru. Ketika berdebat, berpolemik dengan para kiai, (Kiai Hasyim) menggunakan syair. Jadi itu untuk membatasi perbedaan ini jangan sampai disalahpahami,” Kata KH Musthafa Bisri (Gus Mus), Sabtu (6/2).

Selain menggunakan syair, Kiai Hasyim Asy’ari juga sering mengungkapkan pendapatnya melalui tulisan dengan menggunakan bahasa Arab. Tujuannya, untuk menyaring siapa saja yang perlu tahu dan tidak perlu tahu tentang pemikirannya tersebut.

Gus Mus juga mengajak seluruh kiai dan tokoh untuk meneladani Kiai Hasyim Asy’ari dan tidak boleh berhenti mengaji, karena hanya orang alim yang dapat mengamalkan ilmunya.

“Kalau orang tidak punya ilmu, bagaimana mau mengamalkan ilmunya? Orang yang sudah punya ilmu saja jarang yang mengamalkan ilmunya,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir juga mengatakan, secara sosiologis paska reformasi muncul proses dikontinuitas, dimana pergerakan keagamaan baru di berbagai agama termasuk ‘Islam baru’ memunculkan fanatisme dan ekstremisme.

“Jadi kalau menghadapi fanatis beragama, ekstrem beragama, radikalisme beragama, tidak perlu dengan cara radikal. Kalau radikal dilawan radikal berarti kita juga masuk dalam radikalisme atau dalam ekstremisme,” jelasnya.

Ia juga berpesan agar umat Islam mengedepankan jiwa yang moderat (wasathiyah) serta meneladani dua tokoh pendiri Ormas Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.  Dengan begitu, Islam akan tumbuh dengan damai dan toleran sehingga menciptakan Islam rahmatan lil ‘alamin. (EA)