#MeyakiniMenghargai Jadi Tagar Rasa Keagamaan Milenial

#MeyakiniMenghargai Jadi Tagar Rasa Keagamaan Milenial
Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin Meluncurkan Tagar #MeyakiniMenghargai

Ibadah.co.id –Tagar #MeyakiniMenghargai  yang diluncurkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin Festival #MeyakiniMenghargai 2019 diharapkan menjadi kampanye moderasi dan kedamaian dalam memahami agama Islam, khususnya yang diyakini oleh kalangan generasi milenial.

Acara yang dihelat Convey Indonesia bekerja sama dengan PPIM UIN Jakarta dan UNDP itu dihadiri ratusan kaum millenial dan masyarakat umum itu digelar di Nine Thamrin Ballroom, Jakarta Pusat, Rabu (20/02).

Dalam kesempatan itu Lukman menyampaikan bahwa menjadikan kaum millenial sebagai target dan sasaran utama Convey adalah strategi yang sangat tepat dalam konteks mempersiapkan masa depan kehidupan keagamaan yang damai di Indonesia. Karena milenial adalah salah satu bonus demografi di Negara kita ini.

“Kita semua tahu bahwa pada 2045 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi dengan 70% jumlah penduduk dalam usia produktif. Di antara mereka adalah anak-anak dan remaja yang akan menentukan wajah Indonesia,” kata Menag.

Menurut Menag seiring dengan era disrupsi di mana terjadi perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, karekater dan perilaku beragama kaum muda milenial juga banyak berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka adalah umat digital, senang dengan materi keagamaan yang dikemas kreatif, inovatif, menyenangkan dan sekaligus mudah diakses.

#MeyakiniMenghargai Jadi Tagar Rasa Keagamaan Milenial
Peserta Festival #MeyakiniMenghargai

“Jika kita tidak hadir di tengah-tengah mereka untuk menyediakan materi keagamaan yang sejuk, damai, toleran dan sesuai dengan watak milenialnya, maka jangan disalahkan kalau bandul kecendrungan kehidupan keagamaan Indonesia di masa depan mengarah kepada sikap-sikap intoleran, eksklusif, ektrem, penuh kekerasan dan bahkan mungkin tindakan terorisme,” kata Menag,

Ia menambahkan, program-program yang telah dijalankan Convey Indonesia sesungguhnya bukan hanya kebutuhan kelompok agama tertentu saja atau satu dua kelompok keagamaan. Melainkan kebutuhan semua, yakni kebutuhan untuk merawat keragaman, mencegah ektremisme dan kekerasan serta membangun peradaban.

Area program Convey Indonesia, lanjut Menag, cukup komprehensif; mencakup riset, survey, advokasi kebijakan dan kampanye publik yang sebagiannya menyasar stakeholder Kementerian Agama, antara lain: para penyuluh agama, takmir masjid, dosen dan guru agama, siswa siswi madrasah, dan lainnya.

“Tentu program tersebut sejalan dengan komitmen Kementerian Agama untuk terus menerus menggaungkan pentingnya moderasi beragama, yakni mengedepankan sikap dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah (wasathiyah), selalu bertindak adil, berimbang dan tidak ekstrem dalam praktik beragama,” tandas Menag. (ed.AT)