PT Bank Syariah Indonesia Tbk Mendapat Peringkat “idAAA” Dengan Prospek Stabil

0
30
PT Bank Syariah Indonesia Tbk Mendapat Peringkat “idAAA” Dengan Prospek Stabil
PT Bank Syariah Indonesia Tbk Mendapat Peringkat “idAAA” Dengan Prospek Stabil

Ibadah.co.id – PEFINDO  telah menaikkan peringkat PT Bank Syariah Indonesia Tbk (Bank Syariah Indonesia) menjadi “idAAA” dengan outlook stabil dari “idAA + / positif” yang sebelumnya diberikan kepada PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIsyariah), entitas yang lolos dari merger dengan PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNI Syariah), berlaku efektif pada tanggal 1 Februari 2021 dan menjadi Bank Syariah Indonesia.

PEFINDO juga telah menarik peringkat BNI Syariah dan BSM, dimana kedua bank tersebut tidak lagi berdiri sendiri sebagai badan hukum yang terpisah, aset dan kewajibannya telah dialihkan sepenuhnya kepada Bank Syariah Indonesia. Peringkat korporasi terbaru BNI Syariah dan BSM adalah idAA + dengan outlook positif, menggabungkan rencana merger tersebut.

Pada saat yang sama, PEFINDO juga menaikkan peringkat Sukuk Mudharabah BSM Subordinasi tahun 2016 yang diterbitkan sebelumnya oleh BSM menjadi “idAA (sy)” dari “idAA- (sy)”. Pemeringkatan tersebut mencerminkan realisasi merger, yang menciptakan bank syariah terbesar di Indonesia dengan total aset melebihi Rp214,7 triliun atau setara dengan sekitar 40,4% industri perbankan syariah dan 2,4% industri perbankan per Juni 2020 (pro forma figure), merupakan bank terbesar ke-7 di industri perbankan per November 2020.

Dalam jangka panjang, Bank Syariah Indonesia akan memperkuat profil bisnisnya dengan memanfaatkan jaringan Parents ‘Group, diversifikasi pembiayaan dan struktur pendanaan yang lebih baik, serta memperkuat indikator keuangan.

Obligor dengan peringkat idAAA memiliki peringkat tertinggi yang diberikan oleh PEFINDO. Kapasitasnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang relatif dibandingkan dengan obligor Indonesia lainnya adalah superior.

Instrumen pembiayaan syariah dengan peringkat idAA (sy) hanya sedikit berbeda dari instrumen dengan peringkat tertinggi. Kemampuan emiten untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang berdasarkan kontrak pembiayaan syariah, relatif terhadap emiten Indonesia lainnya, sangat kuat.

Peringkat tersebut mencerminkan dukungan Bank Syariah Indonesia yang sangat kuat dari pemegang saham utama, posisi yang sangat kuat di segmen perbankan syariah, permodalan yang sangat kuat, serta profil likuiditas dan fleksibilitas keuangan yang sangat kuat. Namun, peringkat tersebut dibatasi sebagian oleh kualitas asetnya yang moderat.

Peringkat dapat diturunkan jika kami melihat adanya penurunan material atas dukungan dari pemegang saham utama, yang dibuktikan dengan penurunan material dalam kepemilikan atau penurunan kontribusi kepada Induk.

Kami berpandangan bahwa pandemi COVID-19 cukup berdampak pada profil risiko industri perbankan syariah. Penurunan bisnis yang substansial di hampir semua sektor telah mengakibatkan lemahnya permintaan untuk pembiayaan dan layanan perbankan lainnya, yang berdampak buruk pada profil profitabilitas bank.

Selain itu, pelemahan ekonomi juga telah melemahkan kapasitas debitur, memberikan tekanan pada kualitas, dan indikator likuiditas. Namun, kami juga melihat bahwa profil permodalan industri perbankan yang baik dan posisi likuiditas yang memadai telah memberikan bantalan yang memadai untuk memitigasi risiko-risiko ini.

Oleh karena itu, kami berpandangan bahwa dampak COVID-19 terhadap profil kredit Bank Syariah Indonesia secara keseluruhan akan tetap terkendali mengingat komitmen kuat dari Induk Perusahaan untuk mendukung, posisi yang sangat kuat di segmen perbankan syariah, permodalan yang sangat kuat, dan likuiditas yang sangat kuat dan profil fleksibilitas keuangan.

Kami juga menyadari eksposur Bank yang substansial pada sektor-sektor yang paling terpengaruh oleh COVID-19 seperti perdagangan, transportasi, konstruksi, layanan bisnis dan rumah tangga, yang secara bersama-sama menyumbang di atas 60% dari portofolio pembiayaan Bank pada akhir Desember 2020.

Pelanggaran pembiayaan di sektor-sektor ini dapat menambah tekanan pada kualitas aset Bank secara keseluruhan. PEFINDO akan terus mewaspadai dampak pandemi terhadap kinerja Bank Syariah Indonesia dan profil kredit secara keseluruhan. Bank Syariah Indonesia didirikan berdasarkan merger antara bank syariah milik negara yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank BNI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri. Pada tanggal 1 Februari 2021, pemegang saham Bank Syariah Indonesia adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (50,95%), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (24,91%), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (17,29%), DPLK BR Saham Syariah (1,83%), PT BNI Life Insurance (0,01%), PT Mandiri Sekuritas (0,00%) dan publik (5,01%). Operasinya didukung oleh sekitar 20.000 karyawan, lebih dari 1.200 kantor dan sekitar 1.800 ATM di seluruh Indonesia. (RB)