Pesantren di Semarang Diminta Patuhi Protokol 6M

Pesantren di Semarang Diminta Patuhi Protokol 6M
Pesantren di Semarang Diminta Patuhi Protokol 6M

Ibadah.co.id – Para pengurus dan seluruh penghuni pesantren di Semarang diminta untuk mematuhi 6M. 6M ini adalah protokol kesehatan. Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Seperti dilansir detik.com pada 25/4/21, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memberikan materi pada kegiatan pesantren kilat yang diselenggarakan oleh Yayasan At-Tawassuth. Dalam undangan tersebut, ia membahas tentang pentingnya gotong royong dalam menghadapi tantangan pandemi COVID-19.

Sebagai bagian dari warga Nahdliyin, Hendi, sapaan akrab Wali Kota Semarang, menekankan pentingnya persatuan umat dalam melawan wabah virus Corona yang melanda Indonesia. Ia pun mendorong agar keluarga pesantren memiliki peran strategis dalam upaya penanganan pandemi COVID-19.

Menurutnya, upaya tersebut dapat dilakukan dengan melakukan sosialisasi secara masif, khususnya tentang pentingnya protokol kesehatan di lingkungan pondok pesantren dan sekitar.

Tak hanya itu, Hendi pun memaparkan perlunya menyempurnakan protokol kesehatan dari 5M menjadi 6M. Adapun 6M yang dimaksud Hendi adalah dengan menambahkan munajat atau membaca doa sebagai hal yang juga penting dilakukan di masa pandemi COVID-19 yang belum usai saat ini.

Pasalnya, Hendi menilai persoalan COVID-19 bukan hanya tentang menjaga fisik saja, tetapi juga menjaga pikiran dan hati untuk tetap optimis.

“Di Kota Semarang kami menggalakkan gerakan Jarik Masjid (Jumat Resik-Resik Masjid) serta berupaya menegakkan protokol kesehatan, tidak hanya 5M, tetapi 6M, yaitu M yang ke-6 adalah membaca doa atau munajat,” ungkap Hendi dalam keterangan tertulis, Minggu (25/4/2021).

“Insyaallah dengan pertolongan Allah kita semua bisa terus mendapatkan perlindungan di tengah wabah COVID-19 saat ini,” tandasnya.

Sementara itu, Andi Jauhari selaku moderator kegiatan mengapresiasi upaya Hendi menginisiasi penyempurnaan protokol kesehatan dengan menambahkan ‘membaca doa’ sebagai kewajiban dalam menjaga diri di masa pandemi COVID-19.

“Saya sudah mendengar cerita-cerita di banyak daerah tentang berbagai upaya penanganan COVID-19, tapi baru di Semarang saya mendengar bahwa bermunajat atau membaca doa masuk dalam protokol kesehatan, ini tentu dapat menjadi contoh daerah lainnya,” tutur Andi. Sebagai informasi, kegiatan ini dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Fatah/SMA-SMK Ma’arif NU Ciomas, Kabupaten Bogor dan dihadiri secara virtual oleh Wali Kota Semarang. (RB)