Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Rutin Ajarkan Santrinya Menulis

Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Rutin Ajarkan Santrinya Menulis
Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Rutin Ajarkan Santrinya Menulis

Ibadah.co.id – Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, Cirebon adalah salah satu pesantren yang rutin mengajarkan para santrinya untuk menulis. Tak sedikit karya-karya yang sudah diterbitkan oleh para santrinya.

Ini adalah salah satu hal positif. Karena menulis adalah salah satu kegiatan akademis yang mesti diasah sedini mungkin.

Seperti dilansir detik.com pada 22/4/21, menulis adalah level ketiga sesudah mendengar dan membaca dalam aktivitas akademis. Kesadaran semacam ini tumbuh dengan baik di lingkungan Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, Cirebon. Belasan santri di sana sudah mulai mengikuti jejak sang pengasuh mereka, Nyai Masriyah Amva.

Selain dikenal sebagai ulama perempuan, Masriyah tercatat sebagai penyair muslim terkemuka, Apa & Siapa Penyair Indonesia, 2017. Dia telah menulis lebih dari 20 buku motivasi dan puisi.

Sejak beberapa tahun terakhir telah belasan buku karya para santri Kebon Jambu diterbitkan. Baik puisi, novel, maupun buku referensi. Hilyatul Aulia, misalnya, menerbitkan Santriwati Berbicara Islam, Pesantren, Gender, dan Sastra. Sementara M. Iqbal Saripudin menulis novel Kabut Cinta di Ujung Senja, serta Muhammad Ridwan menerbitkan Catatan sang Santri.

Salah satu anak lelaki Masriyah, Robith Hasymi Yassin, menerbitkan tiga buku. Dua di antaranya, Dasar dasar Ilmu Mantiq, dan Skema dan tabel Aljauhar Almaknun menjadi materi rujukan di berbagai pesantren besar dan universitas-universitas Islam. “Juga dipakai untuk pelatihan guru-guru dan dosen,” kata Masriyah bangga.

Sementara Syafii Atsmari, menantunya, menerbitkan enam buku seperti Minhajul ‘Abidin, Syarifaty ‘Imrity, dan Atsmarul Iman.

Belakangan, Awanilah Amva, pun ikut menulis puisi. Karyanya diterbitkan dalam antologi 9-06-17.

Sedih yang terdalam adalah kehilanganmu / Hingga aku tak bisa memaknai kesedihan setelah itu / Bahagia yang kuasa dalah saat bersamamu / Hingga tak ada kebahagiaan lagi yang tersisa dalam rasaku

Demikian salah satu bait puisi dalam antologi tersebut. Sejak pertengahan 2017 hidup Awanilah berubah dari sekedar ibu rumah tangga menjadi pemimpin pesantren dengan seribuan santri di Kebon Jambu Al-Islamy. Kesedihan yang tak terperi selepas kepergian sang suami, Asror Muhammad, diubahnya menjadi semacam energi untuk berpuisi. (RB)