Pesantren Muhammadiyah Belum Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Pesantren Muhammadiyah Belum Gelar Pembelajaran Tatap Muka
Pesantren Muhammadiyah Belum Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Ibadah.co.id – Pesantren Muhammadiyah belum akan menggelar pembelajaran tatap muka. Hal ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M) PP Muhammadiyah, Maskuri. Hal ini untuk menjaga keamanan, dan keselamatan warga pesantren.

Seperti dilansir republika.co.id pada 6/7/21, dalam penyelenggaraan pendidikan Pesantren Muhammadiyah tetap memprioritaskan keselamatan jiwa dan kesehatan para santri, kiai, ustadz, pamong, musyrif, dan tenaga kependidikan pada masa pandemi Covid-19.

“Proses pembelajaran secara tatap muka Pesantren Muhammadiyah dilakukan setelah pandemi Covid-19 dinyatakan aman oleh Pemerintah Daerah. Untuk lebih jelasnya sudah ada edaran terkait Prosedur Operasional Standar (POS) yang dikeluarkan pada 21 Juni,” kata Ketua Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M) PP Muhammadiyah, Maskuri pada Selasa (6/7).

Adapun dalam rincian POS disebutkan, Pesantren Muhammadiyah menyelenggarakan pendidikannya dalam satu komplek tidak berbaur dengan lingkungan dan aktivitas masyarakat. Untuk itu terhindar dari bahaya tertular Covid-19 dari pihak luar atau sebaliknya.

Kemudian juga tidak memulangkan santri pada saat liburan sampai dinyatakan pandemi Covid-19 berakhir. Pesantren juga membentuk Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19, sehingga ketika warga pesantren terindikasi terpapar Covid-19 dapat segera diatasi.

Pesantren turut membentuk panitia kedatangan santri ke pesantren. Lalu pesantren memastikan seluruh lingkungan pesantren dalam kondisi steril tiga hari sebelum kedatangan santri

Di samping itu, pembelajaran tatap muka di pesantren harus mendapatkan izin dari Pemda atau Kanwil atau Kantor Kemenag setempat, Majelis Dikdasmen PWM/PDM/PCM, Lembaga Pengembangan Pesantren PWM/PDM, dan MCCC Wilayah atau Daerah.

Pembelajaran tatap muka di pesantren harus atas persetujuan tertulis dari orang tua atau wali santri.

Majelis Dikdasmen memfasilitasi peningkatan efektivitas pembelajaran misalkan dengan mengusahakan aplikasi (e-learning), pelatihan peningkatan kompetensi, baik bagi ustadz atau musyrif maupun orang tua atau wali santri.

Adapun pembelajaran pesantren di masa pandemi peran Ustaz maupun musyrif yakni dengan tetap enerapkan 3M (menjaga jarak, mencuci tangan, dan menggunakan masker) selama melaksanakan aktivitas di pesantren. Mendorong santri untuk tetap menerapkan protokol kesehatan selama beraktivitas di satuan pendidikan.

Kemudian juga tetap berkoordinasi secara intensif dengan orang tua atau wali terkait kesehatan santri. Menjaga kesehatan dan berolahraga secara rutin.

Selain itu juga dapat menentukan materi esensial dengan variasi kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses satuan pendidikan tanpa dibebani capaian ketuntasan kurikulum.

Sementara penanggung jawab semua kegiatan pesantren perlu melakukan berbagai hal. Ini termasuk memantau berlangsungnya proses pembelajaran  sesuai dengan protokol kesehatan. Berkoordinasi dengan wakil Mudir dan Badan Pembina Pesantren untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 berlangsung sesuai kebijakan yang telah ditetapkan. Selain itu melakukan rapat kordinasi dengan gugus Covid yang telah diberi tugas secara berkala atau secara insidental jika sewaktu waktu diperlukan. Melakukan evaluasi mingguan tentang pelaksanaan pembelajaran dan penerapan protokol kesehatan di lingkungan pesantren. Berkordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk kelancaran pembelajaran di masa pandemi covid, dan lainnya. (RB)