Puluhan Tahun di Dunia Qari, Muammar ZA Sabet Penghargaan

Puluhan Tahun di Dunia Qari, Muammar ZA Sabet Penghargaan
Puluhan Tahun di Dunia Qari, Muammar ZA Sabet Penghargaan

Ibadah.co.id – Karena kiprahnya yang telah sangat lama, banyaknya kontribusinya, dan juga raihan yang didapatkannya, Muammar Zainal Asykin atau yang dikenal dengan Muammar ZA kembali menyabet penghargaan. Pria yang sejak kecil sudah berkecimpung di dunia qari ini memang menjadi salah satu qari kebanggaan Indonesia, yang sudah terkenal hingga ke mancanegara.

Seperti dilansir republika.co.id pada 5/5/21, Qari internasional Muammar Zainal Asykin (ZA) menerima penghargaan pengabdian seumur hidup (life achievement) atas dedikasinya dalam dunia tilawah Alquran selama puluhan tahun. Penghargaan tersebut diberikan pada penutupan Pekan Tilawah Quran Nasional Radio Republik Indonesia (PTQ RRI) ke-51 yang digelar di Kota Palembang, Selasa (4/5) malam.

“Ustadz Muammar ZA sebagai qari nasional dan internasional telah menjadi tauladan serta sosok kharismatik yang mencintai dan mensyiarkan Alquran,” kata Direktur Layanan dan Pengembangan Usaha LPP RRI Anhar Ahmad.

Penghargaan tersebut diterima oleh Muammar ZA yang hadir ke Palembang, kemudian ia diberi kesempatan untuk menilawahkan Alquran di hadapan Gubernur Sumsel Herman Deru beserta peserta PTQ Nasional. Muammar ZA mengaku bangga dan bersyukur atas penghargaan pengabdian seumur hidup tersebut karena RRI juga, menurutnya, salah satu media yang membesarkan namanya hingga dikenal luas masyarakat.

“Dalam kurun waktu yang lama hingga saat ini saya masih berkecimpung dalam keluarga qari dan qariah,” ujarnya.

Muammar ZA lahir di Kabupaten Pemalang pada 14 Juni 1954. Ia memenangkan lomba tilawah pertama kali pada 1961 untuk tingkat anak-anak pada usia tujuh tahun di Pemalang.

Kemudian sejak 1980-an ia memenangkan berbagai lomba tilawah tingkat Provinsi Yogyakarta, nasional dan internasional (1979 dan 1986) serta dikenal karena nafasnya yang panjang.

Sejak saat itu pula RRI menggaetnya untuk mengisi siaran mengaji yang akhirnya menjadi ikon tilawah di Indonesia karena suaranya dijadikan pertanda jelang shalat oleh masjid-masjid di Indonesia.

Muammar ZA mengungkapkan di antara pengalamanya yang berkesan, yakni diizinkan memasuki Ka’bah dan membacakan Alquran di Arafah serta diminta melantunkan Alquran di sebuah gereja katedral di Selandia Baru.”Saat itu (di Selandia baru) saya merasakan betapa pentingnya membacakan Alquran,” kata Muammar ZA. Dalam dunia tilawah ia juga dikenal sebagai pelopor membaca Alquran secara berduet bersama Chumaidi dengan gaya qira’at sab’ah atau tujuh metode bacaan.Hingga kini Muammar ZA masih aktif membacakan Alquran maupun bertausiah pada berbagai kegiatan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.Selain itu sejak 2002 ia telah mendirikan Pesantren Ummul Quro di Tanggerang untuk mencetak qari dan qariah andal serta berkelas yang dapat mengharumkan Indonesia. (RB)