Sosok Syaikhona Kholil

0
169
Sosok Syaikhona Kholil

Syaikhona Kholil         

Ibadah.co.id- Syekh KH Muhammad Kholil bin Kiai Haji Abdul Lathif atau biasa dipanggil dengan sebutan Syaikhona Kholil. Beliau dilahirkan pada 11 Jumadil Akhir H atau 27 Januari 1820 M, di kampong Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Sayikona Kholil termasuk dalam golongan ketururan ulama dan dididik langsung oleh ayahnya. Dan ketika beranjak dewasa beliau melanjutkan belajar ke beberapa pondok pesantren lain.

Sedari kecil sudah terlihat bahwa Syekh Kholil adalah pribadi dan mencintai ilmu. Beliau banyak belajar tentang ilmu Fiqh dan Nahwu, sehingga tak heran pada usia muda beliau sudah hafal 1002 bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik.

Mengawali perjalanan hidupnya setelah sekian lama didik oleh orang tuanya, Mbah Kholil pada masa muda belajar dengan Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Selanjutnya berpindah ke Pondok pesantren Cangaan, Bangil Pasuruan, Jawa Timur. Pondok Pesantren Keboncandi menjadi tujuan belajar Mbah Kholil selanjutnya. Di sana beliau tidak hanya belajar pada satu tempat. Terbukti dengan tekadnya belajar dengan Kiai Nur Hasan yang mengharuskan beliau berjalan kaki sejauh 7 KM menuju Pondok Pesantren Sidogiri. Sepanjang jalan beliau selalu melantunkan Surat Yasin.

Mbah Kholil menikah pada usia 24 tahun  dengan seorang perempuan bernama Nyai Asyik, putri Lodra Putih. Kemudian selang beberapa saat beliau memulai perjalanan ke Makkah dengan membawa tabungannya yang telah beliau kumpulkan selama modon di Banyuwangi. Tidak lupa pula selama perjalanan ke Makkah beliau berpuasa dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Al-Matnus Syarif al-Mulaqqab bi Fat-hil Latif merupakan salah satu kitab yang telah ditulis oleh Mbah Kholil. Kitab ini berisi tentang fundamen dasar hokum islam atau yang biasa kita sebut dengan ilmu Fiqih.tebal kitab ini hanya 52 halaman dan mengupas keilmuan yang rumit meanjadi sebuah ilmu yang jelas sekaligus mudah untuk dipahami.

Sebagai salah satu kiai hebat dan termasyur, Mbah Kholil memiliki banyak murid yang juga menjadi ulama besar di Indonesia. Salah satu murid beliau adalah KH Hasyim Asy’ari. Ada kisah unik yang dialami oleh KH Hasyim Asy’ari ketika beliau baru saja menjadi murid Mbah Kholil. Hasyim Asy’ari yang terbilang masih muda pada saat itu disuruh oleh Mbah Kholil untuk naik ke atas pohon, sementara itu Mbah Kholil hanya mengawasinya dari bawah dan mengawasi supaya terus naik sampai ke pucak pohon yang paling tinggi. Tanpa membantah Hasyim Asy’ari terus memanjat pohon tersebut sampai kepuncak. Setelah sampai Hasyim Asy’ari diperintahkan untuk turun ke bawah dengan meloncat. Beliaupun kembali menuruti perintah Mbah Kholil dan selamat sampai di bawah. Tujuan Mbah Kholil sudah jelas untuk melihat sepatuh apa muridnya pada saat itu.

KH Hasyim Asy’ari memang terkenal sebagai santri yang penurut dan menuruti apapun perintah dari sang guru. Suatu ketika Mbah Kholil kehilangan sebuah cincin pemberian istrinya yang terjatuh di kamar mandi, dengan senang hati KH Hasyim Asy’ari mengajukan diri untuk mencari cincin tersebut. Setelah diberi izin, dengan penuh keikhlasan beliau masuk ke dalam septictank dan menguras semua isinya. Badan beliau berlumur kotoran, namun cincin berhasil ditemukan dan sang guru dengan bersenang hati mendoakan muridnya: “Aku rida padamu wahai Hasyim, Kudoakan dengan pengabdianmu dan ketulusanmu, derajatmu ditinggikan. Engkau akan menjadi orang besar, tokoh panutan, dan semua orang cinta padamu.

Sebagai ulama yang istimewa, Mbah Kholil juga memiliki karamah yang diberikan Allah SWT. salah satu karomah yag beliau dapatkan adalah ketika beliau ditangkap oleh penjajah Belanda. Mbah Kholil dianggap membantu beberapa orang yang terlibat perlawanan di pondok pesantrennya. Pihak Belanda berharap dengan ditahannya Mbah Kholil, para pejuang yang melawan Belanda akan dengan suka rela menyeraahkan diri. Tetapi apa yang terjadi seperti senjata makan tuan. Bukannya menyerahkan diri, Belanda dibuat bingung dengan beberapa kejadian ganjil yang terjadi. Kejadian aneh tersebut terjadi beberapa kali, seperti penjara Mbah Kholil tidak dapat dikunci dan mengakibatkan para penjajajh harus berjaga penuh supaya Mbah Kholil tidak dapt kabur. Bahkan beberapa hari kemudian, ribuan orang datang dengan tujuan ingin menjenguk Mbah Kholi. Banyak dari mereka yang meminta untuk ditahan bersama Mbah Kholil. Dengan sangat terpaksa pihak Belandapun membebaskan Mbah Kholil.

Mbah Kholil tutup usia dalam usia yang sangat lanjut, 106 tahun. Bertepatan dengan 29 Ramadhan 1341 H atau 14 Mei 1923 M. Beliau dimakamkan di desa Mertajesa, Kecamatan Bangkan, Madura, Jawa Timur.