KH. Musta’in Romli: Teladan, Sang Aktifis Organisasi

0
481

Ibadah.co.id-KH. Musta’in Romly yang merupakan Mursyid Thariqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah adalah putra kedua dari KH. Romly Tamim dan Nyai Maisaroh.  Sejak kecil beliau berguru langsung terhadap orang tuanya. Beliau sangat aktif dalam organisasi. Ketika menepuh pendidikan di Akademi Dakwah Al Mubalighoh, bakatnya dalam kepemimpinan sangatlah menonjol. Beliau merupakan pelopor terbentuknya organisasi Persatuan Mahasiswa Jombang. Tidak hanya berhenti di situ saja, KH. Mustain aktif berkecimpung dalam organisasi NU, hingga akhirnya beliau diangkat menjadi pengurus IPNU pusat.

Beliau mulai melebarkan sayap mulai tingkat nasional sampai internasional untuk lebih matang sebagai pimpinan pondok pesantren dan lembaga pendidikan.

Tahun 1963 beliau muhibbah ke daerah Eropa dan Timur Tengah, termasuk berziarah ke makan Syeikh Abdul Qodir al-Jailani (tokoh pendiri Thoriqoh) di Baghdad, Irak. Usai kunjungan muhibbah tersebut, KH. Musta’in Romli mendirikan sebuah Universitas yang berada dibawah naungan PONPES Darul ’Ulum Jombang pada tanggal 18 September 1965, dengan adigium jawa “Wani Ora Usum”.

Di kala pesantren fokus terhadap ilmu agama, beliau memiliki pemikiran yang berbeda. Beliau bercita-cita untuk mencetak santri yang “Berotak London dan berhati Masjidil Haram.”

Selain seorang kiai besar, beliau juga politikus cerdas, lincah dalam bermanuver. Meminjam kata-kata Romo KH. Abdul hamid Pasuruan “Jika dalam sepak bola saya ini keper, maka Romo kiai Musta’in adalah Playmaker.”

Pernah suatu ketika kiai Musta’in dawuh (berkata) pada sopirnya “Besok di sini rame, banyak mentri dan pejabat hadir.” Sang sopir nampak bingung dengan perkataan kiai Mustain, padahal sopir tadi tahu bahwa besok tidak ada acara apa pun di pondok pesantren.

Apa yang dikatakan Kiai Mustain menjadi kenyataan. Keesokan harinya banyak para pejabat dan menteri datang ke pondok Pesantren Darul ’ulum Jombang untuk berbela sungkawa atas wafatnya KH. Musta’in Romly. Beliau wafat ketika sedang berzikir ba’da isya’ pada senin malam. (HN/Kontributor)

Sumber: kitab Ma’rifatut Thoriiqotain al-Mu’tabarotain al-Qoodiriyyah wan-Naqsyabandiyyah (yang ditulis oleh Drs.KH. Ishomuddin Ma’shum M.Pd.I).