Bangun Aula Muktamar Ke-34 NU, Bacaan Barzanji Jadi Pembuka

Bangun Aula Muktamar Ke-34 NU, Bacaan Barzanji Jadi Pembuka
Bangun Aula Muktamar Ke-34 NU, Bacaan Barzanji Jadi Pembuka

Ibadah.co.id –  Muktamar Ke-34 NU akan dilaksanakan, tepatnya pada 23-25 Desember 2021 mendatang. Rencananya, pembukaan akan dilakukan di Pondok Pesantren Daarussa’adah Lampung Tengah, tepatnya di Aula Muktamar yang saat ini terus dikebut pembangunannya. Pembangunan tersebut diawali dengan pembacaan Barzanji pada Ahad (15/11).

Kegiatan ini diikuti oleh Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin, Ketua PBNU dan sekaligus Ketua Panitia Organizing Committee (OC) Muktamar Ke-34 NU KH M Imam Aziz, Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmi Faishal Zaini, dan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarussa’adah KH Muhsin Abdillah, ratusan santri, dan para pekerja bangunan.

“Harapan kita bersama setelah mulai digarap siang malam, mudah-mudahan lancer, sukses sampai jadi,” katanya.

“Mudah-mudahan Muktamar bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya, sukses di awal, sukses di tengah, dan sukses di akhir,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmi Faishal Zaini menyampaikan bahwa pesantren ini akan diberkahi dengan kehadiran para ulama dan para wali dari seluruh Nusantara. Pesantren Daarussa’adah akan dicatat sejarah nasional dan internasional sebagai tuan rumah Muktamar Ke-34 NU.

Sebab itu, ia meyakini ke depan, kualitas para santri bukan saja sebagai pemimpin lokal, tetapi juga pemimpin bangsa. Dalam kesempatan itu, Ketua Muktamar Kiai M Imam Aziz meminta doa untuk tiga hal dalam penyelenggaraan muktamar ke-34. Pertama, pembangunan aula dalam waktu kurang dari 40 hari lagi semoga dapat dilancarkan.

“Semoga usaha kita yang kelihatan ini bangun pondok prasarana untuk Muktamar sidang dan lain dilancarkan,” katanya.

Kedua, ia memohon bantuan apa saja dari siapa saja. Bagi yang memiliki uang, dapat membantu Muktamar dengan uangnya. Bagi yang memiliki tenaga, dapat menyukseskan penyelenggaraan forum tertinggi NU ini dengan tenaganya. Bagi yang tidak dapat membantu dengan fisik, ia berharap doa setulus-tulusnya untuk kelancaran pembangunan dan acara Muktamar.

“Tinggal 40 hari. Insyaallah dengan kerja keras. Insyaallah akan tegak berdiri. Seluruh ulama dalam dan luar negeri hadir di sini. Niatkan ini semua sebagai khidmah kepada ulama, masyayikh, aulia,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa muktamar kali ini sangat penting. Pasalnya, Muktamar ini merupakan Muktamar terakhir di abad pertama NU, sekaligus memulai 100 tahun yang akan datang. Oleh karena itu, ia memohon doa agar di Lampung ini, Muktamar dapat melahirkan keputusan yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan lahir pemimpin yang tulus dalam mengemban amanah organisasi.

“Muktamar ini menelorkan keputusan yang berguna untuk kesejahteraan masyarakat, untuk perdamaian dunia, dan mendapatkan pemimpin yang saleh, pemimpin yang ikhlas, pemimpin yang mencerahkan menuju 100 tahun yang akan datang,” harapnya.

Selepas pembacaan shalawat dan Maulid Barzanji serta sambutan, para tokoh yang hadir bergerak menuju lokasi bangunan aula Muktamar. Sekjen PBNU didapuk sebagai orang pertama untuk melemparkan adukan semen ke dalam fondasi. Sembari mengucapkan basmalah, ia menandai pembangunan aula tersebut.

Baca Juga : Kiai NU Garut Siap Kawal Said Aqil Jelang Muktamar NU

Setelah sekjen, Rais Syuriyah PBNU Kiai Ishomuddin turut menandai pembangunan tersebut dengan melemparkan adukan semen itu sembari mengucapkan basmalah dan shalawat. Kemudian, Kiai Imam Aziz juga mengambil bagian dalam kesempatan tersebut. Saat mengambil dan melemparkan adukan semen, ia mengucapkan bacaan hauqalah, laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil adhim.

Selanjutnya, Kiai Muhsin juga turut serta dalam momen tersebut. Sebelum melemparkan semen ke fondasi, ia membaca doa untuk kemudahan dan kelancaran pembangunan. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lampung Tengah KH Imam Suhadi menjadi orang terakhir yang menandai pembangunan tersebut.

Kegiatan itu ditutup dengan doa. Pembawa acara meminta Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin untuk berdoa. Namun, ia tak berkenan dan menyerahkan kepada Rais Syuriyah PWNU Kiai Muhsin Abdillah. (NU/EA)

Baca Juga :Mengenal NU-Welfare, Program LPNU untuk Kesejahteraan Sosial