Kalau Pilpres Langsung Distop, Demokrasi Kita Mati

0
262
Kalau Pilpres Langsung Distop, Demokrasi Kita Mati
Kalau Pilpres Langsung Distop, Demokrasi Kita Mati. |Foto: Ulil Abshar Abdallah

Ibadah.co.id – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul‎ Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj mengusulkan agar Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang dikembalikan ke lembaga MPR.

‎alasan terkuat, bahwa menurut Said Aqil, Pilpres yang dipilih secara langsung sejak 2004, lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaat. itu juga diperkuat oleh usulan para ulama NU di Mukhtamar Cirebon.

Usulan ini, mendapat kritik dari sejumlah netizen alias warganet. Salah satunya datang dari tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Ulil Abshar Abdalla.

“Saya amat sedih sekali karena PBNU mendukung pemilihan presiden melalui MPR. Pemilu langsung adalah salah satu capaian penting reformasi kita. Ini adalah kemunduran besar bagi demokrasi. NU tak boleh menjadi bagian dari kekuatan konservatif,” cuit Ulil di akun Twitternya, @ulil yang di-retweet oleh pengamat politik Burhanuddin Muhtadi, Kamis (28/11).

“Pilpres langsung adalah salah satu penanda bahwa negeri kita benar-benar demokratis. Kita selama ini melakukan diplomasi keluar, menjual Islam khas Indonesia yang ditandai dengan kompatibilitas Islam dan demokrasi. Kalau pilpres langsung diakhiri, maka diplomasi Islam kita akan “ambyar”!” imbuhnya.

Tokoh intelektual muda NU lainnya, Akhmad Sahal juga tak sepakat dengan usulan PBNU itu. “Pemilihan Presiden oleh MPR itu kemunduran bagi demokrasi. Saya sangat tidak sepakat! Pemilihan Presiden langsung itu keputusan rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan,” kicau @sahaL_AS.

Soal ini, Pengamat Politik Yunarto Wijaya mengingatkan PBNU, sistem pemilihan presiden via MPR-lah yang membuat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, lengser dari kursi presiden.

“Semoga para senior di PBNU gak lupa tentang sejarah kejatuhan Gus Dur yang disebabkan oleh sistem pemilu seperti apa,” cuitnya lewat akun @yunartowijaya.

Sementara akun @edykrit22 mencuit sarkas soal usulan pemilihan Presiden via MPR. “Baiklah. Kalo gitu saya juga mau usul: Ketum PBNU ditunjuk oleh Menteri Agama, tidak perlu via Muktamar. Lebih praktis, hemat tenaga & biaya…. :)),” komentarnya.

Akun @alfiarnimakhtaf menyebut, PBNU akan menyesal telah melontarkan wacana ini. “PBNU akan menyesal dengan keputusan ini. Kultur Rakyat saat ini sudah sangat liberal, MPR tidak bisa diharapkan mencerminkan sura rakyat. Negara yang tidak mempercayai rakyatnya, ia akan kehilangan kedaulatannya,” tulisnya.

“Akhir akhir ini pbnu kok semakin nyeleneh ya, apa mungkin sudah waktunya ganti pimpinan?” sambar @Agus_Faristiyan. [ed.AT/ibadah.co.id/RM]