Tak Akan Akui Israel, Begini Fakta Hamas dan Konflik Israel-Palestina

Hot News !!

Ibadah.co.id- Konflik memanas antara Israel dan Palestina masih terus terjadi hingga saat ini. Momentum kembalinya konflik tersebut ketika Hamas melancarkan serangan roket ke Israel pada awal pekan ini. Diketahui, serangan tersebut merupakan respons atas kebrutalan militer Israel yang menggerebek dan menyerang warga Palestina di Masjid Al-Aqsa.

Dilansir dalam suara.com, konflik Israel dan Palestina berakar pada persaingan nasionalisme dan klaim teritorial. Pada abad ke-19, banyak negara yang menyerukan kemerdekaannya sendiri.

Di antara politisi dan pemikir yang mendukung nasionalisme adalah Theodore Herzl. Ia menyerukan pembentukan negara untuk orang Yahudi di mana saat ini, dirinya dianggap sebagai bapak pendiri Zionisme.

Sementara itu, bangsa Palestina yang pertama kali dikendalikan oleh Ottoman dan dijajah oleh Inggris, telah lama menginginkan negara Palestina merdeka. Akibatnya, konflik berpusat pada nasionalisme yang bertabrakan.

Secara historis, pada tahun 1948, Israel membuat Deklarasi Kemerdekaan dan secara resmi mendirikan negara Israel. Bagi Bangsa Palestina, hal ini dinyatakan sebagai Hari Nabka atau Hari Bencana. Akhirnya, peperangan terjadi selama sembilan bulan dan Israel berhasil menguasai lebih banyak wilayah.

Sebagaimana ditetapkan oleh Oslo Accords 1993, Otoritas Nasional Palestina (PNA) diberikan kendali pemerintahan atas sebagian Gaza dan West Bank, di mana PNA dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abas. Palestina diatur oleh dua organisasi, yaitu PNA sebagian besar mengontrol West Bank, sementara Hamas menguasai Gaza.

Bagaimana Akar Sejarah Hamas dibalik Konflik Israel-Palestina?

Dilansir dalam Reuteurs pada (15/5), Hamas didirikan tahun 1987 selama Intifadhah Pertama sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin Mesir. Sheikh Ahmed Yassin sebagai pendiri menyatakan pada tahun 1987.

Piagam Hamas menegaskan pada tahun 1988, bahwa Hamas didirikan untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Israel dan juga mendirikan negara Islam di wilayah yang sekarang menjadi Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Dua tahun kemudian, Hamas melakukan serangan pertamanya terhadap sasaran militer Israel, termasuk penculikan dan pembunuhan dua tentara Israel.

Pada tahun 2000, Israel dan Palestina gagal mencapai kesepakatan akhir dalam proses perdamaian pada pertemuan puncak di Amerika Serikat. Dua bulan kemudian, Palestina memprotes kunjungan pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon ke kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur – yang oleh orang Yahudi dikenal sebagai Temple Mount karena itu adalah situs kuil Yahudi kuno. Namun, bagi umat Muslim sebagai Tempat Suci yang Mulia – berkembang menjadi Intifada Kedua.

Kemudian Hamas melakukan serangkaian pemboman bunuh diri di Israel, termasuk membunuh 21 orang Israel di luar disko Tel Aviv pada bulan Juni 2001, dan 30 orang saat perayaan Yahudi pada makan malam Paskah di Netanya pada bulan Maret 2002. Empat bulan kemudian, komandan militer Hamas Salah Shehadeh tewas dalam serangan udara Israel, dan Israel mulai mengepung kompleks pemimpin Palestina Yasser Arafat di kota Ramallah, Tepi Barat.

Selanjutnya, pada Maret-April 2004, serangan udara Israel membunuh salah satu pendiri dan pemimpin spiritual Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, serta salah satu pendiri dan pemimpin politik Abdel Aziz al-Rantissi, di Gaza dalam waktu satu bulan. Pimpinan Hamas bersembunyi dan identitas penerus Rantissi dirahasiakan.

Pasukan Israel memulai penarikan sepihak dari Gaza pada 15 Agustus 2005, yang direbut dari Mesir dalam perang Timur Tengah 1967, meninggalkan pemukiman dan meninggalkan daerah kantong padat penduduk di bawah kendali Otoritas Palestina.

Pada tahun 2006, Hamas memenangkan mayoritas dalam Pemilihan Dewan Legislatif. Sejak saat itu, hubungan yang retak antara kedua faksi tersebut telah menyebabkan kekerasan, dengan Hamas menguasai Gaza pada tahun 2007. Israel dan Amerika Serikat (AS) menghentikan bantuan untuk Palestina karena Hamas menolak untuk meninggalkan kekerasan dan mengakui Israel.

Namun, pada Juli 2009, kepala biro politik Hamas mengatakan bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan “resolusi konflik Arab-Israel yang termasuk negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967”, asalkan pengungsi Palestina memegang hak untuk kembali ke Israel dan Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara baru.

Hanya saja, wakil ketua biro politik Hamas mengatakan pada tahun 2014 bahwa “Hamas tidak akan mengakui Israel”, dan menambahkan “ini adalah garis merah yang tidak bisa dilewati”. Entah sampai kapan, konflik panas antara Israel dan Palestina ini terus berlanjut.

Baca Juga : Hancurkan Kantor Berita di Gaza, Benarkah Israel Ingin Bungkam Media?

Baca Juga : Kutuk Keras Israel, Jokowi : Agresi Israel Harus Segera Dihentikan

Articles

10 KOMENTAR

- Advertisement -spot_img

Breaking News