Dosen UIN Jakarta Minta Maaf Usai Sebut NU Tak Maju-maju

Dosen UIN Jakarta Minta Maaf Usai Sebut NU Tak Maju-maju
Dosen UIN Jakarta Minta Maaf Usai Sebut NU Tak Maju-maju

Ibadah.co.id – Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zubair, meminta maaf usai menyebut Nahdlatul Ulama (NU) tidak progresif dan tidak maju-maju. Zubair menyatakan tak bermaksud mendiskreditkan keluarga besar NU.

Hal itu disampaikan Zubair saat menyampaikan perkuliahan kepada mahasiswanya dan kemudian videonya bocor tersebar di media sosial. Dalam perkuliahan itu, Zubair awalnya berbicara mengenai Asy’ariyah.

“Asy’ariah itu membingungkan, sudah membingungkan tidak produktif, tidak progresif, tidak inovatif, tidak kreatif. Bikin orang bodoh dan bikin orang terbelakang, itulah Asy’ariyah. Makanya NU nggak maju-maju itu karena Asy’ariyah terlalu kuat. Muhammadiyah maju dia karena memang berkemajuan,” ujar Zubair seperti video yang dilihat, Rabu (3/11/2021).

Zubair lantas membandingkan peran NU dan Muhammadiyah. Dia mencontohkan banyak rumah sakit dan universitas yang dibangun Muhammadiyah.

“Ya kalian yang anggota NU pindah ke Muhammadiyah saja kalau mau maju. Muhammadiyah itu membangun rumah sakit banyak sekali, membangun universitas banyak sekali, tidak hanya dalam negeri, tapi luar negeri juga,” ujar Zubair.

“NU itu paling merasa NKRI, tetapi nggak ada dia bangun kampus di tengah-tengah orang Kristen. Muhammadiyah dia membangun universitas di Maluku, di Ambon, di NTT yang banyak Kristen bahkan di Papua banyak universitasnya, sekolah Muhammadiyah banyak sekali di Papua dari TK sampai perguruan tinggi. Yang paling NKRI itu kalau dari segi partisipasi bagi bangsa ya Muhammadiyah lebih maju,” sambung Zubair.

Zubair kemudian buka suara usai video perkuliahannya itu viral di media sosial. Zubair menyesal telah menyinggung NU dan Muhammadiyah.

“Sehubungan dengan viralnya video perkuliahan saya di media sosial maka melalui kesempatan ini, izinkan saya untuk menyampaikan tabayyun dan hal-hal sebagai berikut. Yang pertama menyampaikan penyesalan sedalam-dalamnya atas kekeliruan dan kesalahan saya dalam memberikan contoh mengenai penerapan teologi Asy’ariyah, dengan menyebutkan ormas terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Itu adalah kesalahan dan kekeliruan pribadi saya,” ujar Zubair.

Zubair meminta maaf atas pernyataannya itu. Permintaan maaf ditujukan kepada seluruh pihak, termasuk NU dan Muhammadiyah.

“Menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada seluruh umat Islam terkhusus kepada keluarga besar Nahdlatul Ulama, karena kekhilafan dan kelalaian saya telah menyakiti hati dan perasaan mereka. Juga kepada keluarga besar Muhammadiyah karena kecerobohan, telah mengusik ketentraman mereka dengan membandingkannya dengan keluarga besar Nahdlatul Ulama,” ujar Zubair.

Zubair juga menjelaskan bahwa materi perkuliahannya itu berkaitan dengan aliran-aliran dalam agama Islam. Dia menegaskan tak bermaksud merendahkan NU.

“tujuan saya sama sekali tidak bermaksud mendiskreditkan Nahdlatul Ulama, yang berpaham Asy’ariyah karena saya sendiri juga penganut Asy’ariyah. Penyebutan contoh tersebut untuk mengunggah dan memancing nalar kritis mahasiswa agar berdiskusi lebih jauh, mau memberikan sanggahan dan komentar agar suasana kelas lebih hidup,” imbuh Zubair. (RB/Detik)