Naftali Bennet, Calon PM Israel yang Sebut “Tak Ada Negara Palestina”

Naftali Bennet, Calon PM Israel yang Sebut
Naftali Bennet, Calon PM Israel yang Sebut "Tak Ada Negara Palestina"

Ibadah.co.id-Naftali Bannet menjadi perhatian publik usai kabar yang santer terdengar bahwa dirinya akan menjadi calon pengganti perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah menerima tawaran berkoalisi dengan tokoh oposisi, Yair Lapid.

Padahal, pria berusia 49 tahun itu dulu sempat digadang-gadang sebagai murid didikan Netanyahu. Bahkan, Bennett pernah menjadi kepala staf Netanyahu pada 2006 sampai 2008 sampai hubungan keduanya retak.

Naftali Bennett adalah mantan pengusaha teknologi dan miliarder yang terkenal dalam politik dengan retorika sayap kanan garis keras. Politisi 49 tahun ini tercatat sebagai pemimpin partai politik, yang menyerukan Israel untuk mencaplok bagian-bagian Palestina di Tepi Barat.

Dia memasuki politik setelah menjual start-up teknologinya seharga USD145 juta pada tahun 2005, dan tahun berikutnya menjadi kepala staf untuk Netanyahu, yang saat itu berada di oposisi.

Setelah meninggalkan kantor Netanyahu, Bennett pada 2010 menjadi direktur Dewan Yesha, yang melobi pemukim Yahudi di Tepi Barat.

Dia kemudian menggemparkan politik pada 2012 ketika dia memimpin partai agama-nasionalis Jewish Home [Rumah Yahudi], yang menghadapi bencana politik. Dia meningkatkan kehadiran parlemennya empat kali lipat, sambil menjadi berita utama dengan serangkaian komentar yang menghasut tentang Palestina.

Pada 2013, dia mengatakan; “Teroris harus dibunuh, bukan dibebaskan”.

Dia juga berpendapat bahwa Tepi Barat tidak berada di bawah pendudukan. “Karena tidak pernah ada negara Palestina di sini,” katanya saat itu. Menurutnya, konflik Israel-Palestina tidak dapat diselesaikan tetapi harus ditanggung, seperti potongan “pecahan peluru di pantat”.

Selain memegang portofolio pertahanan, Bennett pernah menjabat sebagai menteri ekonomi dan menteri pendidikan di kabinet Netanyahu. Dia menamai kembali Partai Rumah Yahudi dengan Yamina pada tahun 2018, dan merupakan bagian dari koalisi Netanyahu.

Pada tahun yang sama, koalisi itu runtuh. Namun dia tidak diminta untuk bergabung dengan pemerintah persatuan yang dipimpin Netanyahu pada Mei tahun lalu—sebuah langkah yang dipandang sebagai ekspresi penghinaan pribadi perdana menteri terhadapnya, terlepas dari ideologi mereka yang sama.

Pada tahun 2020, Bennett mengurangi retorika sayap kanannya untuk fokus pada krisis kesehatan, bergerak untuk memperluas daya tariknya dengan merilis rencana untuk menahan virus dan membantu perekonomian.

“Di tahun-tahun berikutnya kita perlu mengesampingkan politik dan isu-isu seperti pencaplokan atau negara Palestina, dan fokus untuk mendapatkan kendali atas pandemi virus corona, menyembuhkan ekonomi dan memperbaiki keretakan internal,” katanya kepada Army Radio pada November lalu.

Slogan-slogan mengenai rasa bangga sebagai orang Yahudi dan kemandirian bangsa adalah jargon yang kerap disuarakan Bennet. Pria yang memakai kippah, atribut agama Yahudi di bagian kepala kaum pria ini memarodikan surat kabar New York Times dan harian sayap kiri Israel, Haaretz, karena kedua media itu mengkritik tindakan-tindakan Israel.

Baca Juga : Kecam Keputusan Dewan HAM PBB, PM Israel : Penyelidikan Itu Memalukan

Dia juga menuding kelompok Hamas membunuh puluhan warga Palestina sendiri, yang tewas akibat serangan udara Israel guna merespons tembakan roket dari Gaza saat pertikaian pada Mei 2021. (EA)

Baca Juga : PM Inggris Ajak Para Pemimpin Temui Solusi untuk Konflik Israel-Palestina

4 COMMENTS