Terlunta-lunta, Begini Kondisi 81 Muslim Rohingya yang Terdampar di Aceh Timur

Terlunta-lunta, Begini Kondisi 81 Muslim Rohingya yang Terdampar di Aceh Timur
Terlunta-lunta, Begini Kondisi 81 Muslim Rohingya yang Terdampar di Aceh Timur

Ibadah.co.id –Wakil Sekretaris Jenderal Panglima Laot, Miftach Cut Adek, mengatakan 81 pengungsi etnis muslim Rohingya itu tiba di Pantai Kuala Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, sekitar pukul 07.00 WIB, Jumat (4/6).

“81 pengungsi (etnis muslim Rohingya) itu terdiri dari 59 perempuan dan 22 orang laki-laki,” ujar Cut Adek, dilansir dalam VOA.

Pada awal berlayar rombongan itu diketahui berjumlah 90 orang. Namun, pada saat tiba di Aceh hanya ada 81 etnis muslim Rohingya. “Awalnya 90 orang, meninggal 8 orang dan 1 hilang di laut. Itu informasi yang kami dapatkan,” tutur Cut Adek.

Dilansir dalam Anadolu Agency, sebanyak 81 pengungsi Rohingya hingga kini masih terlantar di Aceh Timur setelah terdampar di Pantai Kuala Simpang Ulin. Para pengungsi juga menolak untuk dikembalikan ke negara asal, Myanmar.

Sementara itu, lembaga kemanusiaan Human Iniative telah datang untuk merespons kebutuhan air bagi para pengungsi. Meskipun lokasi berdekatan dengan desa Kuala Simpang Ulim, akses ke lokasi penyintas tidaklah mudah.

Relawan harus menggunakan kapal boat untuk tiba di lokasi penyintas Rohingya. “Alhamdulillah kini sudah tersedia dapur air sebagai respons awal penyintas,” terang Human Iniative dalam pernyataannya.

Sementara itu, koalisi Masyarakat Sipil meminta agar pemerintah memenuhi seluruh hak pengungsi sesuai aturan yang ada. Koordinator Kontras Fatia Maulidiyanti mengatakan bahwa Koalisi Masyarakat Sipil mendukung penerapan dan pemenuhan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM) dalam merespon pengungsi.

“Salah satunya tidak menolak atau mendorong kembali para pengungsi tersebut kembali ke laut karena akan mengingkari tanggung jawab dalam penghormatan prinsip non-refoulement dan respon kemanusiaan,” ujar Fatia dalam keterangan resmi pada Minggu.

Pemerintah diminta melaksanakan Peraturan Presiden nomor 125/2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri untuk membawa pengungsi Rohingya ke penampungan.

Dia menuturkan pemangku kepentingan perlu menyediakan ruang kolaborasi bagi penanganan pengungsi bersama dengan organisasi internasional, sipil dan warga lokal terkait kebutuhan dasar yang mendesak sandang, pangan dan papan.

Kontras menilai pemulihan aspek psikologi dan perlindungan utamanya bagi kelompok rentan termasuk perempuan dan anak.

Sebanyak 81 orang pengungsi tersebut, kata dia, perlu diberikan fasilitas lokasi penampungan sementara yang ditentukan Pemda dalam kondisi darurat.

“Memberikan kebijakan bagi pemenuhan solusi komprehensif bagi pengungsi yang bersifat inklusif. Hal ini termasuk pemberdayaan dan akses penghidupan secara mandiri,” tutur dia. (EA)

Baca Juga : Muslim Rohingya Salurkan Bantuan Pada Budha Myanmar

Baca Juga : Rasisme Kian Meningkat, “Peta Islam” Beri Stigma Buruk pada Muslim Austria