Gus Baha Bahas Pernikahan Dalam Ajaran Islam

0
141
Gus Baha Bahas Pernikahan Dalam Ajaran Islam
Gus Baha Bahas Pernikahan Dalam Ajaran Islam

Ibadah.co.id – Dai muda Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang sering disapa Gus Baha membahas soal pernikahan dalam perspektif ajaran Islam. Sebagai salah satu sunnah Nabi Muhammad, menikah mesti mengedepankan kebahagian kedua belah pihak, baik mempelai maupun keluarga mempelai. Gus Baha juga menjelaskan topik seputar pernikahan berdasarkan al-Qur’an dan riwayat nabi.

Seperti dilansir okezone.com pada 10/08/2020, pernikahan merupakan sebuah ikatan suci yang disunahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Menikah hukumnya sunah bagi mereka yang memang mampu melaksanakannya. Terkait pernikahan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Alquran:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui,” (QS. An Nur: 32).

Setelah melangsungkan pernikahan, kedua belah pihak, baik si laki-laki maupun perempuan akan memiliki orangtua baru yang disebut sebagai mertua. Islam mengajarkan kita untuk tidak membedakan antara mertua dan orangtua kandung sendiri. Sebab, setelah menikah kita sama-sama bertanggung jawab atas mereka. Sebagai mertua tentunya ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyikapi kehadiran menantunya.

Dai muda Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Bahauddin Nursalim mengatakan, mertua tidak perlu banyak menuntut dari menantunya. Mertua sejatinya mengikhlaskan anaknya menikah semata-mata untuk mengikuti tuntunan sunah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

“Tugasnya mertua itu ya pokoknya sabar ikhlas. Enggak usah berharap menantunya punya prestasi. Karena dulu jenengan (kamu) enggak siap dituntut mertua, maka jangan menuntut menantu. Jadi, mertua enggak usah menuntut menantu. Mertua mesti ikhlas anak dan menantu melaksanakan sunah Rasul,” kata pendakwah yang akrab disapa Gus Baha itu dalam sebuah nasihat pernikahan yang dilansir dari laman JATMAN.

Gus Baha mengatakan bahwa mrnikah adalah sunah, sehingga ketika hendak menikah seseorang tidak menunggu menunggu sukses. “Pokoknya nikah itu sudah ibadah, sudah menjadi sesuatu yang membanggakan,” imbuhnya.

Sedangkan untuk kedua mempelai, Gus Baha berpesan agar jangan membahas hal yang serius. “Itu pesan kanjeng Nabi, bukan pesan saya. Jadi syaratnya, nikah itu tidak boleh membicarakan hal yang serius. Karena di antara anjuran Rasulullah itu ada tiga riwayat yang semua maknanya sama,” ucap Gus Baha.

Menurut Gus Baha, rumus nikah itu harus mula’abah. Mula’abah ialah rileks membicarakan hal yang tidak penting. “Mula’abahnya Rasulullah itu kalau bersama istrinya benar-benar santai. Memanggil istrinya Aisyah dengan ungkapan Ya Humaira (yang kemerah-merahan). Ketika Aisyah meminta tontonan, li’bul habasyah (permainan orang Habasyah), itu juga disetujui oleh Rasulullah,” kata dia.

“Jadi ciri utama pernikahan yang diridhai Allah adalah mula’abah,” tambah Rais Syuriah PBNU ini.

Teringat dawuh almarhum Kiai Maimoen Zubair alias Mbah Moen, Gus Baha mengatakan bahwa ketika Allah mengharamkan menikahi musyrikah sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 221:

وَلَا تَنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤۡمِنَّ

Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman,” (QS. Al-Baqarah; 221).

Ia menambahkan, tidak boleh lelaki mukmin menikahi perempuan musyrik. Begitupun perempuan mukminah tidak boleh menikahi lelaki musyrik. Allah memperingatkan dengan mengatakan,

أُوْلَٰٓئِكَ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلنَّارِۖ

Artinya: “Mereka mengajak ke neraka”

Bahwa nikah yang salah itu mengajak ke neraka. Tetapi kalau menikah dengan mukminah itu diredaksikan dengan kalimat:

وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ

Artinya: “Sedangkan Allah mengajak ke surga,”

Sehingga dapat ditafsirkan bahwa menikahnya mukmin dan mukminah itu ganjarannya surga. “Nah, makna surga itu apa? Ya rileks, enggak bahas warisan, enggak bahas dunia, syukur-syukur enggak punya utang. Tapi yang penting, ciri utama pokok surga itu penuh dengan kenikmatan,” kata Gus Baha.

“Poin selanjutnya adalah وَٱلۡمَغۡفِرَةِ Allah mudah mengampuni. Karena barokahnya nikah itu sudah luar biasa sehingga kesalahan-kesalahan yang terjadi. Salah paham dengan mertua, dengan ipar dan lain sebagainya, semua itu hal yang dimaklumi,” tuturnya.

Pergauli istri dengan Baik

Selain itu, Gus Baha juga mengingatkan bahwa sedari awal Allah memerintahkan untuk mempergauli istri dengan baik dan secara patut. Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 19:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِ

Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut,”

“Pokoknya seorang istri digauli secara baik dan lanjutan setelah itu adalah kalau suatu saat kalian tidak cocok (فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ). Maka kata Allah dinikmati saja, karena itu menambah khazanah, menambah kearifan, menambah kedewasaan,” terang Gus Baha.

Sebab secara ilmiah, suami istri tentu banyak perbedaan, mulai perbedaan watak, gen, maupun latar belakang. Sehingga kesalahpahaman dan konflik lumrah terjadi dalam rumah tangga.

“Saya minta nikah itu mula’abah. Diingat-ingat ini nasihatnya Nabi. Jadi rileks, jangan membicarakan nanti tinggal di mana? kerja di mana? pokoknya yang ruwet-ruwet dihilangkan,” jelasnya.

Sebab Nabi dengan istrinya penuh dengan mula’abah dan penuh guyonan. Pernah Sayyidah Aisyah cemburu karena Nabi sering menyebut Sayyidah Khadijah. Sayyidah Aisyah kemudian berkata: “Ya Rasulullah jangan sering sebut (Khadijah), engkau telah diberi ganti yang lebih muda,”

Sayyidah Fatimah lalu berkonsultasi pada Nabi karena merasa ibunya dicibir. Jawabnya Nabi itu unik dan rileks.

“Ya bilang saja, hebat ibuku. Ibuku itu janda dapat jejaka. Kamu meski perawan tapi dapat duda. Nabi justru menjawab dengan santai dan logika. Tidak lantas langsung berkata, “Huss kualat, tidak baik,” tandas Gus Baha. (RB)